Kisah Laksamana Malahayati akan Difilmkan.

Ahli waris Laksamana Malahayati menyuapi Ketua Umum Kowani, Dr. Giwo Rubiyanto Wiyogo dalam syukuran pemberian gelar pahlawan kepada Laksamana Malahayati di kantor Kowani, Senin, 13 November 2017. (Foto: HW)
_

Kisah hidup Malahayati, wanita perkasa dari Aceh yang baru saja mendapatkan gelar Pahlawan Nasional, akan diangkat ke layar lebar. Rencana itu disampaikan oleh Ketua Umum KFT Febryan Aditya, usai syukuran pemberian gelar pahlawan untuk Malahayati di Sekretariat Kowani, Jl. Imam Bonjol Jakarta, Senin (13/11/2017) siang.

Ketua KFT Febryan Aditya (kiri) menerima potongan tumpeng dari Ketua Umum Kowani DR. Giwo Rubiyanto Wiyogo. (Foto: HW)

Acara itu dihadiri oleh Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama (Laksma) TNI Gig Jonias Mozes Sipasulta, ahli waris Malahayàti Teuku Putro Syafiuddin Cahaya Nur Alam, Teuku dan Penulis buku Malahayati, Hj. Dato Pocut Meuligoe Haslinda, Ketua KFT Febryan Aditya dan undangan lainnya.

Rencana pembuatan film Laksamana Malahayati itu disampaikan oleh Ketua KFT Febryan Aditya, dan kini sudah mulai dijalankan dengan mengajak berbagai pihak yang memiliki keperdulian terhadap sejarah bangsa, khususnya terhadap perjuangan Laksamana Malahayati.

“Kami sangat mengagumi perjuangan dan kepahlawanan Laksamana Malahayati ini. Dia seorang perempuan, tetapi berani memimpin para wanita untuk melawan bala tentara Portugis, karena tidak ingin melihat bangsanya dijajah. Sungguh luar biasa,” kata Febryan.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama (Laksma) TNI Gig Jonias Mozes Sipasulta, menegaskan TNI AL sangat mendukung rencana pembuatan film Laksamana Malahayati. Menurutnya, imaje dari seseorang yang sudah diangkat sebagai pahlawan, tidak bisa menjadi contoh, tidak menjadi suri tauladan bagi anak-anak muda.

“Angkatan Laut siap untuk mendukung dua ratus persen! Jadi kita ini aparat negara akan selalu siap. Yang penting ada surat dan ada perintah dari Kasal, kami siap membantu,” kata Laksma Mozes Supasulta.

Bagi TNI AL, Malahayati adalah pahlawan yang patut menjadi suri tauladan dalam perjuangannya. Malahayati adalah pahlawan yang berani bertempur di laut melawan Portugis. Setelah itu, beberapa ratus tahun kemudian, ada Laksamama Yos Sudarso yang juga bertempur di laut melawan Belanda.

“Harapan kami agar sisi kehidupan Laksamana Malahayai ditampilkan dengan baik, dan film ini bukan sekedar sebuah dokumenter,” tambah Laksma Mozes Sipasulta.

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M. Pd., menegaskan perlu diimplementasikan dan memaknai artis pahlawan wanita yang ke-13, Laksamana Malahayati.

Menurut Giwo, terhadap rencana pembuatan film Laksamana Malahayati oleh KFT, Kowani akan berkolaborasi untuk membuat film yang baik.

“Mudah-mudahan film ini akan memberi gambaran, raw model, agar generasi muda juga mau berperilaku seperti pahlawan dalam segala bidang. Jadi kerjasama kami nanti tidak hanya dalam pembuatan film Laksamana Malahayati saja, tetapi juga film-film lain,” kata Giwo.

Rencana pembuatan film ini sudah mulai berjalan sejak Mei 2017 di mana telah dilakukan sosialisasi dengan melakukan seminar-seminar.

“Kita harapkan KFT dapat bekerjasama dengan para stakeholder untuk mewujudkan rencana ini,” tambah Giwo.

Laksamana Keumalahayati atau Malahayati merupakan wanita pertama di dunia yang pernah menjadi seorang laksamana. Ia lahir pada masa kejayaan Aceh, tepatnya pada akhir abad ke-XV.

Berdasarkan bukti sejarah (manuskrip) yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia dan berangka tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari keluarga bangsawan Aceh.

Belum ditemukan catatan sejarah secara pasti yang menyebutkan kapan tahun kelahiran dan tahun kematiannya. Diperkirakan, masa hidupnya sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI.

Laksamana Keumalahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530-1539 M.

Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

 

 

 

 

Share This: