Kongres Ulama Perempuan Berhasil Perjuangkan Keadilan Bagi Perempuan

_

Menteri agama Lukman Hakim Syaifudin mengatakan, ada tiga makna strategis yang lahir dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), yaitu terkait relasi, revitalisasi, dan moderasi.

Hal itu ditegaskan Menag ketika menutup KUPI di Pondok Pesantren Kebon Jambu, Ciwaringin, Cirebon, Kamis (27/4/2017). Penutupan juga dihadiri oleh Wakil Ketua DPD RI, GKR Hemas.

Makna pertama, menurut Menag, kongres telah berhasil memperjuangkan keadilan melalui kesadaran peran dan relasi hubungan laki-laki dan perempuan. Menag menilai isu relasi gender saat ini dan mendatang akan semakin urgen dan relevan.

“Kongres ini memiliki peran penting agar keadilan relasi terus diperjuangkan,” tegasnya disambut tepuk tangan hadirin.
Kedua, kongres telah merekognisi dan merevitalisasi peran ulama perempuan yang sudah berlangsung bahkan sejak zaman Siti Aisyah, istri Rasulullah, hingga tokoh perempuan Indonesia. “Selain rekognisi dan revitaliasi, yang tidak kalah penting adalah membangun jaringan ulama perempuan,” ujarnya.

Makna ketiga, kongres telah berhasil meneguhkan dan menegaskan bahwa moderasi Islam harus senantiasa dikedepankan. Kata Menag, Islam yang moderat, rahmatan lil alamin, tidak menyudutkan posisi kedudukan perempuan, dan menebarkan kemaslahatan bagi sesama harus terus dikembangkan.

“Isu ini sangat relevan dan perempuan telah mengambil peran strategis melalui kongres ini dengan menghadirkan isu moderasi Islam sehingga bisa berkontribusi bagi pembangunan peradaban dunia,” ujarnya.
“Sejujurnya saya merasa kongres ini luar biasa. Tidak hanya karena substansi yang dikaji, hasil dan rekomendasi yang dilahirkan, tapi karena juga prosesnya yang sepenuhnya berasal dari inisiatif kaum perempuan,” terang Menag.

Wakil Ketua DPD GKR Hemas mengatakan hari ini sangat luar biasa, karena ada statement yang menyejukkan. Rangkuman yang disampaikan akan membuat kita terselamatkan dari beberapa persoalan bangsa yang sekarang ini banyak terjadi.

“Saya harus menyampaikan bahwa Kongres ini sudah menghasilkan hal-hal yang muncul dalam hal partisipasi yang cukup baik. Apapun hasilnya harus disyukuri dan didukung sepenuhnya karena lahir dari cita-cita yang baik, sebagaimana temanya untuk keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan,” kata GKR Hemas.

“Tentu rekomendasi harus menjadi komitmen kita bersama. Apa yang dilakukan oleh para ulama dan peserta dalam kongres ini akan memiliki gema yang besar,” tambahnya.

Sebelumnya, sekretaris panitia Ninik Rahayu melaporkan bahwa ide penyelenggaraan kongres sudah dibahas sejak lama. KUPI pada akhirnya menjadi oase ulama perempuan tentang pentingnya peran perempuan dalam meneguhkan nilai Keislaman, Kebangsaan, dan Kemanusiaan.

Menurut Ninik, dalam tiga hari penyelenggaraan, KUPI telah membahas dan menghasilkan rekomendasi terkait tiga isu besar, yaitu kekerasan seksual, perkawinan usia anak, serta kerusakan lingkungan.

KUPI diikuti oleh 574 peserta dari 1.275 yang mendaftar. Selain itu, KUPI juga dihadiri 185 pengawas. KUPI kali pertama ini mengangkat tema ‘Peran Ulama Perempuan dalam Meneguhkan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.’

Tampak hadir dalam penutupan sejumlah pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin, Nyai Hj Siti Masriyah selaku tuan rumah, Kakanwil Kemenag Jabar san Sesditjen Pendidikan Islam. Seremonial penutupan diawali dengan tawassul atau pengiriman hadiah pembacaan Surat Al Fatihah yang dipandu Nyai Hj Masturah Hanna.

Share This: