Kontroversi Film “Kucumbu Tubuh Indahku” Sebaiknya Diselesaikan Sesuai Hukum

_

Dunia perfilman Indonesia kembali dilanda kehebohan dengan pelarangan film “Kucumbu Tubuh Indahku” karya Garin Nugroho. Film tersebut dilarang beredar di Depok, Garut, Palembang.

Dr. Dyah Citra Ria dan Ketua BPI Ir. Chand Parwez Servia. (HW)

Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang juga dikenal sebagai produser film, Ir. Chand Parwez Servia menilai pelarangan semacam itu memang membingungkan bagi produser dan sineas, karena film itu sudah melalui penelitian oleh Lembaga Sensor Film. Dengan demikian film tersebut boleh beredar sesuai kategori umur yang ditentukan oleh LSF.

“Itu memang hak daerah untuk melarang atau membolehkan sebuah film beredar di daerahnya, tetapi kita kan memiliki sebuah lembaga yang berwenang untuk melarang atau meloloskan sebuah film, yakni LSF. Janganlah setiap daerah memiliki aturan sendiri-sendiri, karena ini kan NKRI,” kata Parwez, usai acara Diskusi Film di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Selasa (30/4/2019).

Diskusi film bertema “Dampak Budaya Dalam Film” menghadirkan pembicara Ir. Chand Parwez Servia, Ketua LSF Dr. Ahmad Yani Basuki, Dekan FIB UI Dr. Adrianus L.G Waworantu, S.S., MA, dan Dr. Dyah Citra Ria dari Kemendikbud, dengan moderator Dr Prudentya, MPSS, M.Hum.

Chand Parwez-r4 yang beberapa filmnya juga pernah mengalami persoalan serupa, antara lain “Perempuan Berkalung Sorban” yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam berharap, keberatan-keberatan terhadap isi sebuah film, seperti dalam film “Kucumbu Tubuh Indahku” sebaiknya diselesaikan menurut hukum yang berlaku.

Ketua LSF Ahmad Yani Basuki menjelaskan, sampai saat ini institusinya belum pernah menerima laporan atau pengaduan dari pihak manapuh. Ketua LSF menjelaskan hal itu untuk menjawab pertanyaan mengapa LSF tidak bersikap, seperti ketika film “Dilan 1991” didemo di Makassar.

“Sampai saat ini kita tidak mendapat pengaduan dari manapun, baik dari Pemda yang melarang maupuh dari produser. Waktu film Dilan 1991 kan kita mendapat laporan dari produser, ada pihak yang memprotes dan ada forum untuk menyelesaikannya, makanya kita datang,” kata Yani.

Dalam kesempatan itu kembali DR Ahmad Yani Basuki mengingatkan agar setiap orang mempraktekan sensor mandiri dalam keseharian. Yakni agar tidak menonton film-film yang dirasa tidak cocok bagi dirinya.

Dekan FIB Andrianus Waworuntu mengatakan, budaya tidak statis, karena selalu mengikuti perkembangan jaman. Masyarakat perlu mendapatkan literasi untuk memahami film, yang kerap menampilkan budaya pada jamannya.

Film “Kucumbu Tubuh Indahku” pertama kali terjadi di Depok. Wali Kota Mohammad Idris melarang bioskop-bioskop di Depok menayangkan film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’. Film tersebut dinilai bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Pemkot Depok mengirim surat bernomor 460/185-Huk/DPAPMK tanggal 24 April 2019 itu ke KPI, yang menjelaskan dasar pelarangan beredar film tersebut di Depok.

1. berdampak pada keresahan di masyarakat karena adegan penyimpangan seksual yang ditayangkan di film tersebut dapat mempengaruhi cara pandang/perilaku masyarakat terutama generasi muda untuk mengikuti bahkan membenarkan perilaku penyimpangan seksual.

2. bertentangan dengan nilai-nilai agama

3. dapat menggiring opini masyarakat terutama generasi muda sehingga menganggap perilaku penyimpangan seksual merupakan perbuatan yang biasa dan dapat diterima.

 

 

Share This: