Kopi Baringga dari Cicalengka Mengincar Dunia

_

Indonesia merupakan negara keempat terbesar penghasil kopi di dunia, setelah Brasil, Vietnam dan Columbia. Ada beberapa tempat di Indonesia yang terkenal sebagai penghasil kopi, yakni Gayo (Aceh), Mandailing (Sumut), Sidikalang (Sumut) Liwa (Lampung), Bajawa (Flores), Toraja (Sulawesi), Wamena (Papua), dan beberapa tempat di Jawa.

Foto: Ist.

Belakangan ini Jawa Barat juga mulai dikenal sebagai penghasil kopi enak. Pada tahun 2016 lalu, kopi Gunung Puntang Jawa Barat memecahkan rekor dengan nilai penjualan termahal dalam sebuah lelang kopi di Atlanta, Amerika Serikat.

Kini ada satu lagi kopi asal Jawa Barat yang tengah mengincar dunia, yakni Kopi Baringga. Kopi Baringga telah masuk ke pasar ekspor di Rusia.

Hal itu terungkap dalam dialog tentang kopi dalam event Indonesia International Muslim Fair (IIMF) 2019 di Balai Kartini Jakarta, Sabtu (11/5/2019).

Ir. Anton Apriyantono (kiri) dan H. Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha. (Foto: Dudut Suhendra Putra)

Dialog yang mengangkat tema “Peningkatan Kapasitas dan Kualitas UKM-IKM Kopi Dalam Memasuki Pasar Timur Tengah” menghadirkan narasumber pemilik pengolahan Kopi Baringga H. Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, SH, MH, M.Sc

Narasumber lainnya adalah Dr Anton Apriyantono (Ketua Umum Dewan Kopi Indonesia/Mantan Menteri Pertanian RI), Ira Damayanti (Ketua Indonesia Diaspora SME-SMI Export/Journey Wonderfull Indonesia Coffee) dan T Irham Kelana (Skylar Terra International/Tim Agregator Ekspor UKM-IKM).

Kopi Baringga mulai dikembangkan oleh anggota TNI AU di tempat latihan mereka di kawasan Cicalengka, Jawa Barat. Karena itulah kopi jenis arabica ini kemudian diberinama Baringga (Baret Jingga), sesuai dengan warna baret Paskhas TNI AU.

Nama Kopi Baringga diberikan langsung oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto ketika masih KASAU.

Dua tahun lalu, nama Kopi Baringga hanya dikenali oleh para anggota Kopassus yang berlatih. Sekarang, kopi dari jenis varietas Arabica itu mulai dikenali di pasar umum, baik domestik maupun internasional.

“Kopi Baringga ditemukan pertamakali oleh Kolonel TNI AU Anis Nurwahyudi di tempat pelatihan anggota Kopassus. Baringga singkatan dari “Baret Jingga”, warna topi baret Paskhas TNI AU. Nama itu diberikan oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto,” kata H Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha SH MH M.Sc.

Kopi Baringga, menurut Kusumayudha telah melalui test rasa di kalangan pecinta kopi. Yang lebih istimewa, mengkonsumi Kopi Baringga tidak perlu mencampur dengan gula.

“Akan lebih nikmat rasanya kalau tanpa gula,” katanya.

Kopi adalah jenis tanaman yang menyerap aroma tanaman di sekitarnya. Kalau ada kebun jeruk, kopinya beraroma jeruk, jika ada Melati, akan beraroma Melati.

Aromanya relatif harum, dan jenis kopi ini mudah menyerap wangi dari tanaman di sekitarnya. Kalau dekat kebun jeruk, aromanya jeruk. Jika disekitarnya ditanam melati akan wangi melati,” kata Kusumayudha.

“Saya dihubungi seorang teman, yaitu Kolonel Anis Nurwahyudi dari Paskhas TNI AU tentang kopi ini. Lalu kami meneliti kualitasnya yang ternyata cukup istimewa,” lanjut Kusumayudha.

Menurut Kusumayudha, Kopi Baringga telah masuk ke pasar ekspor di Rusia. Pihaknya juga berencana melebarkan potensi pasar di negara lain termasuk kawasan Timur Tengah.

“Khusus di pasar lokal, Kopi Baringga masih dijual secara online,” ungkap Kusumayudha.

Tanaman kopi Arabica ini pun diproduksi secara industri, dan diharapkan memberi manfaat secara ekonomis.

Terkait dengan upaya peningkatan produksi dan pemasaran kopi, Kusumayudha telah bersiap menggelar event berskala nasional dan internasional.

“Kami akan gelar Festival Kopi Nusantara yang akan melibatkan semua pengusaha dan stakeholder industri kopi dari seluruh Indonesia,” ujar Tjokorda Ngurah Kusumayudha.

Share This: