KPK dalami Kewenangan Emir saat menjabat sebagai Dirut PT. Garuda Indonesia

_
Luhut Pangaribuan (kiri) dan Emirsyah Satar (kanan) saat meninggalkan gedung KP

Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia yang kini dijadi tersangka penerima suap  oleh KPK, Emirsyah Satar, bersikap kooperatif ketika  memberikan keterangannya kepada penyidik KPK. Ermisyah Satar datang ke KPK  didampingi pengacaranya, Lubut Pangaribuan MP.

“Jadi kita kooperatif memberikan keterangan apa adanya agar selesai. Jadi inilah yang kita inginkan dan tentunya kita harapkan bahwa ini juga tidak mengganggu Garuda sendiri ya, karena Garuda ini lagi bagus,” ungkap Emirsyah Satar, usai pemeriksaan.

Pengacara Emir, Luhut M.P. Pangaribuan mengungkapkan bahwa proses penyidikan terhadap kliennya pun juga sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. Menurut Luhut ada sekitar 17 pertanyaan yang diajukan penyidik, dan kliennya berjanji akan membantu KPK agar kasus selesai dengan baik.

“Jadi belum begitu dalam, tapi sudah memberikan keterangan yang intinya adalah bahwa akan bekerjasama dengan KPK dan mengungkapkan apa adanya,” ujar Luhut Pangaribuan.

Emir menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 9 jam, mulai dari sekitar pukul 09.00 hingga pukul 17.44 WIB Emirsyah Satar dan diberikan 17 pertanyaan oleh penyidik.

Juri bicara KPK Febri Diansyah mengungkapkan Emir telah diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan mesin pesawat di Garuda Indonesia.  KPK mendalami kewenangan yang bersangkutan saat menjadi dirut Garuda Indonesia.

“Pada pemeriksaan pertama masih penyidik menanyakan dan mendalami kewenangan-kewenangan yang bersangkutan saat menjadi dirut Garuda Indonesia,  dan apa-apa saja yang dilakukan dalam kewenangan tersebut terkait dengan perkara yang sedang kita usut,” ujar Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (17/2/2017).

Ia melanjutkan bahwa dalam pemeriksaan pertama ini pihak penyidik belum terlalu jauh untuk dalami informasi-informasi lebih rinci. Dalam pemeriksaan yang pertama mantan dirut Garuda hari ini, Febri pun menjelaskan belum adanya informasi terkait penahanan yang bersangkutan.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa sebelumnya pihak penyidik juga sudah mulai melakukan pemeriksaan terhadap Sutikno Soedarjo (SS) dalam kapasitas sebagai tersangka juga.

“SS sendiri adalah pihak yang diduga memberikan suap terhadap ESA terkait pengadaan mesin pesawat Garuda Indonesia. Dan sejumlah saksi sudah kita periksa sebelumnya baik saksi yang berlatar belakang dari korporasi Garuda maupun korporasi yang ada di Singapura, yakni dalam hal ini Connaught Internasional Pte Ltd, dan juga pihak lain yang relevan terkait hal ini,” bebernya.

Emirsyah diduga menerima suap saat PT Garuda Indonesia membeli pesawat Air Bus dari Rolls Royce. Dalam perkara bernilai jutaan dolar ini, KPK juga menjerat Seotikno Soerdarjo, Beneficial Owner Cannaught Internasinal Pte. Ltd sekaligus pendiri PT Mugi Rekso Abadi, sebagai tersangka karena perusahaannya merupakan pemberi sekaligus perantara penyuapan oleh Rolls Royce.

Emirsyah diduga menerima suap dari Soetikno dalam bentuk uang sebanyak 1,2 juta euro dan US$180 ribu atau setara dengan Rp20 miliar. Ia juga diduga menerima suap dalam bentuk barang senilai US$2 juta.

Penyuapan itu diduga diberikan dalam rentang 2005 hingga 2014 pada saat Emirsyah masih menjabat sebagai Dirut Garuda, dengan tujuan agar Garuda membeli mesin pesawat hasil produksi Rolls Royce.

Akibat perbuatannya, Emirsyah disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11UU No 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sedangkan Soetikno dijerat dengan pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau pasal 13 UU No 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 64 ayat (1) KUHP.

 

 

 

Share This: