KPK Tak Ragu Tetapkan Setya Novanto Sebagai Tersangka

_

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak akan ragu menetapkan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto sebagai tersangka apabila ada alat bukti yang cukup.

“Sejak awal kita sudah sepakat untuk menaikan ini ke penyidikan. Jadi rekan-rekan semua, tak ada keraguan apa pun yang terjadi. Kalau di luar proses hukum, kita tidak akan menghiraukan. Biarlah ini berjalan apa adanya,” ungkap Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan kepada awak media di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (24/3/2017).

Basaria memaparkan,  prosesnya (untuk  menetapkan seseorang sebagai tersangka) sudah barang tentu memakan waktu yang tak sebentar.  Proses persidangan harus diikuti dulu, dan penyidik masih bekerja keras untuk menelaah guna memperoleh bukti-bukti dan petunjuk lainnya.

Seperti diketahui, pada saat sidang perdana kasus dugaan korupsi pengadaan e-KTP pada (9/3) lalu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menyeebutkan ada 37 nama yang menerima uang, terkait pembahasan anggaran proyek e-KTP milik Kementerian Dalam Negeri tahun anggaran 2011-2013.

Dalam kasus ini, mantan Direktur Pengelola Informasi Administrasi Kependudukan, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri Sugiharto, dan mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Irman, duduk di kursi terdakwa.

Dalam kasus ini, Irman didakwa memperkaya diri sebesar Rp 2.371.250.000, 877.700 dollar AS, dan 6.000 dollar Singapura. Sedangkan Sugiharto mendapatkan uang sejumlah 3.473.830 dollar AS.

Sedangkan Setnov, dalam kasus ini, disebutkan bersama Nazarudin, Anas Urbaningrum terlibat dalam perancaan terkait korupsi pengadaan e-ktp yang merugikan negara sebesar Rp2,3 Triliun.

Selain Setia Novanto, puluhan nama lain disebut-sebut telah menerima uang hasil korupsi e-KTP.

Mereka adalah Gamawan Fauzi (saat itu Menteri Dalam Negeri) sejumlah 4,5 juta dollar AS dan Rp 50 juta, Diah Anggraini (saat itu Sekretaris Jenderal Kemendagri) sejumlah 2,7 juta dollar AS dan Rp 22,5 juta, Drajat Wisnu Setyawan (Ketua Panitia Pengadaan e-KTP) sejumlah 615.000 dollar AS dan Rp 25 juta, dan  Enam anggota panitia lelang, masing-masing sejumlah 50.000 dollar AS.

Selanjutnya ada nama-nama  Husni Fahmi sejumlah 150.000 dollar AS dan Rp 30 juta, Anas Urbaningrum sejumlah 5,5 juta dollar AS, Melcias Marchus Mekeng (saat itu Ketua Banggar DPR) sejumlah 1,4 juta dollar AS, Olly Dondokambey (kini Gubernur Sulut) sejumlah 1,2 juta dollar AS, Tamsil Linrung sejumlah 700.000 dollar AS dan Mirwan Amir sejumlah 1,2 juta dollar AS.

Nama lainnya adalah  Arif Wibowo sejumlah 108.000 dollar AS, Chaeruman Harahap sejumlah 584.000 dollar AS dan Rp 26 miliar, Ganjar Pranowo (kini Gubernur Jateng)sejumlah 520.000 dollar AS, Agun Gunandjar Sudarsa selaku anggota Komisi II dan Badan Anggaran DPR RI sejumlah 1,047 juta dollar AS, dan  Mustokoweni sejumlah 408.000 dollar AS.

Berikutnya ada nama  Ignatius Mulyono sejumlah 258.000 dolla AS, Taufiq Effendi sejumlah 103.000 dollar AS, Teguh Juwarno sejumlah 167.000 dollar AS dan Miryam S Haryani sejumlah 23.000 dollar AS.

Kemudian ada nama-nama Rindoko, Nu’man Abdul Hakim, Abdul Malik Haramain, Djamal Aziz, dan Jazuli Juwaini selaku Kapoksi pada Komisi II DPR RI masing-masing 37.000 dolla AS; Markus Nari sejumlah Rp 4 miliar dan 13.000 dollar AS, Yasonna Laoly (kini Menkumham) sejumlah 84.000 dollar AS, Khatibul Umam Wiranu sejumlah 400.000 dollar AS dan  M Jafar Hafsah sejumlah 100.000 doar AS.

Nama-nama lainnya adalah  Ade Komarudin sejumlah 100.000 doar AS, Abraham Mose, Agus Iswanto, Andra Yastriansyah Agussalam, dan Darman Mappangara selaku direksi PT LEN Industri masing-masing mendapatkan sejumlah Rp 1 miliar; Wahyuddin Bagenda selaku Direktur Utama PT LEN Industri sejumlah Rp 2 miliar, Marzuki Alie sejumlah Rp 20 miliar, dan Johannes Marliem sejumlah 14.880.000 dollar AS dan Rp 25.242.546.892.

Sebanyak 37 anggota Komisi II yang seluruhnya berjumlah 556.000 dollar AS. Masing-masing mendapat uang berkisar antara 13.000 hingga 18.000 dollar AS.

Beberapa anggota tim Fatmawati, yakni Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby, Eko Purwoko, Andi Noor, Wahyu Setyo, Benny Akhir, Dudi, dan Kurniawan masing-masing sejumlah Rp 60 juta.

Selain nama-nama perorangan ada pula kelompok maupun perusahaan yang telah menerima, yakni manajemen bersama konsorsium PNRI sejumlah Rp 137.989.835.260; Perum PNRI sejumlah Rp 107.710.849.102 PT Sandipala Artha Putra sejumlah Rp 145.851.156.022, PT Mega Lestari Unggul yang merupakan holding company PT Sandipala Artha Putra sejumlah Rp148.863.947.122, PT LEN Industri sejumlah Rp 20.925.163.862, PT Sucofindo sejumlah Rp 8.231.289.362, dan PT Quadra Solution sejumlah Rp 127.320.213.798,36.

 

Share This: