KPK Tetapkan 4 Tersangka Kasus Kapal Perang SSV

_

Kebanggaan Indonesia yang telah berhasil mengekspor kapal perang pertama kalinya ke luar negeri, ternoda oleh ulah oknum karyawannya, yang mencari celah untuk mendapatkan keuntungan sendiri, dalam transaksi penjualan kapal perang ke Filipina. Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi telah menetapkan 4 tersangka untuk kasus dugaan Suap penyelenggara PT PAL terkait kasus pengadaan kapal perang Filipina.

Keempat tersangka itu tiga diantaranya merupakan pejabat dilingkungan PT PAL yakni Muhammad Firmasyah Arifin (MFA) yang merupakan Direktur Utama PT PAL, Arif Cahyana (AC) yang merupakan General Marketing Treasury PT PAL dan Saiful Anwar (SAR) yang merupakaan direktur keuangan PT PAL, serta 1 orang dari pihak swasta yakni Agus Nugroho (AN).

“Setelah melakukan pemeriksaan 1×24 jam dilanjutkan dengan gelar perkara disimpulkan bahwa adanya penerimaan janji atau hadiah dan menignkatkan status ke penyidikan dan 4 orang menjadi tersangka,” ungkap Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan di Gedunh KPK, Jakarta, Jumat (31/3/2017).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa penetapan tersangka ini berkaitan dengan kasus pembelian 2 unit kapal perang SSV (Strategic Sealift Vessel) yang dilakukan ileh pihak pemerintah Filipina kepada Pihak Indonesia dalam hal ini adalah PT PAL yang dipesan sejal tahun 2014 oleh pihak pemerintah Filipina.

“Pada tahun 2014 PT PAL melakukan pejualan 2 unit kapal dengan nilai kontrak USD 86,9 juta dari nilai kontrak disepakati mendapatkan fee agency 4,75% atau 4,1 juta USD diduga dari fee agency ada alokasi untuk oknum pejabat PT PAL yaitu sebesar 1,25% dengan 3 tahap. Tahap pertama telah terjadi pada bulan Desember 2016 dengan jumlah sekitar USD 163,” ungkap Basaria .

Pada Kamis kemarin (30/3) pihak Penyidik KPK melakukam Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap AC di kantornya di kawasan Cawang, dimana ditemuakan dan mengamankan uang sebear USD 25.000 yang dimasukkan ke dalam 3 buah amplop, 2 amplop USD 10.000 dan USD 5000.

Uang sejumlah USD 25.000 itu diduga cash back atau pemberian untuk pejabat PT PAL terkait dengan fee agency terkait dengan penjualan 2 unit kapal perang SSV oleh PT PAL  pada instansi pemerintah Filipina. Dimana indikasi uang USD 25.000 saat OTT ini merupakan pembagian tahap yang kedua.

Uang USD 25.000 yang diamankan saat OTT di Cawang Jakarta Timur

“Uang ini merupakan fee yg akan diterima oleh pejanbat pt pal yaitu sekitar 1,25% dari nilai kontrak, yaitu USD 1,087 juta  atau 1 triliun harga kapalnya,” jelasnya.

Basaria menuturkan, pada Kamis tanggal 30 Maret pukul 13.00 terjadi komunikasi dan pertemuan antara AC dan AN pihak swasta perantara dan AS Incorporte perusahaan dari Filipina.

Pada saat itu AC akan menuju ke bandara di Surabaya. Setelah itu terjadi indikasi penyerahan dari AM, penyerahan diduga saat kelur dari kantor penyidik kemudian kantor penyidik mengamankan hasil tersebut.

Saat keluar dari kantor penyidik mengamankan AC di lokasi parkiran di kawasan Cawang. Dari mobil dan tangan AC penyidik mengamankan uang sebear USD 25.000 yang dimasukkan ke dalam 3 buah amplop, 2 amplop USD 10.000 dan USD 5000

Kemudian KPK mengamankan AM di salah satu kantor di MTH square dengan 7 orang pegawai di kantor tersebut.

Setelah itu, KPK membawa total 10 orang ke kantor KPK dan dilakukan pemeriksaan. Di samping itu tim juga ditugaskan ke surabaya sekitar pukul 22 diamankan MTA bersama 6 orang lainnya di kantor PT PAL Surabaya bersama 7 orang tersebut dilakukan pemeriksaan yang sama di Polda Jatim.

Esoknya, pada hari ini sekitar pukul 7 tiba di KPK. Dari surabaya dibawa 1 orang, yaitu MTA untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Untuk pasal yang disangkakan terhadap pemberi dalam hal ini AN, dirinya melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU no.31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU no 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi junto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan untuk penerima yakni MFA, AC, dan SAR disangkakan pasal 12 huruf a dan b atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999 yang diubah UU no 20 tahun 2001 junto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Terhadap ketiga tersangka yakni MFA, AC dan AN dilakukan penahanan selama 40 hari ke depan.

“Untuk MFA ditahan 40 hari ke depan di rutan cabang KPK, AC ditahan di rutan cabanh Pomdam Guntur dan AN ditahan di Polres Jakarta Timur. Sedangkan untuk SAR belum dilakukan penahanan mengingat dirinya saat ini tengah berada di luar Negeri,” ungkap Febri Diansyah Juru Bicara KPK.

Share This: