Langsam, Senel dan Laste

_

Sebelum era KRL Commuterline, angkutan penumpang kereta api Jakarta – Bogor atau sebaliknya dilayani oleh kereta-kereta tua buatan Jerman dan Belanda. Ada yang menggunakan listrik, diesel dan tenaga uap.

Kereta diesel yang menggunakan kepala (lokomotif) warna kuning, memiliki tenaga dan kecepatan yang tinggi. Itulah sebabnya kereta jenis ini disebut Snel (Cepat / Bhs. Belanda). Masyarakat biasa menyebutnya Senel. Kereta jenis ini biasanya hanya berhenti di stasiun-stasiun tertentu, seperti Stasiun Depok,  Manggarai, Gambir hingga Stasiun Bens (Kota) atau Stasiun Bogor. Para pekerja kantoran dari Depok ke Jakarta biasanya lebih suka naik kereta ini.

Yang menggunakan tenaga listrik disebut kereta langsam dari kata Langzaam (Lambat / Bhs. Belanda). Kereta ini memang bergerak lebih lambat dibandingkan Snel. Kepala kereta (lok) berwarna hitam dengan sundung (pantograf) di atas yang berfungsi untuk mengambil aliran listrik dari kabel tegangan tinggi di atasnya.

Kereta langsam berhenti di semua stasiun besar dan kecil. Bahkan di Stasiun Tanjung Barat atau Boplo (Gondangdia) yang ukuran stasiunnya lebih kecil dari rumah tipe RSS, kadang berhenti.

Kereta listrik ini disebut juga Lokomotif Bon Bon atau Djokotop.  Lokomotif  listrik Electrische Staats Spoorwegen<span;> (ESS) 3200 yang dulunya melayani jalur Batavia (Jakarta) – Buitenzorg (Bogor).

Lokomotif ini dibuat oleh Werkspoor Belanda tahun 1926 dan mulai beroperasi semenjak masa kolonial hingga tahun 1970-an. Awalnya lokomotif listrik ini melayani rute Tanjung Priok – Meester Cornelis (Jatinegara), namun belakangan juga menjalani rute Depok menuju Buitenzorg (Bogor) setelah elektrifikasi lintasan ini selesai pada tahun 1930.

Kereta dengan tenaga uap biasa hanya dikhususkan untuk mengangkut barang. Kereta ini memiliki cerobong asap yang besar, dapur kayu atau batubara di bawahnya sebagai perapian untuk merebus air yang uapnya digunakan untuk menghasilkan tenaga pendorong. Oleh karena itu hampir di semua stasiun besar ada sumur bor besar dan tanki air untuk mengisi tanki air kereta jenis ini. Di Stasiun Depok dulu ada, tetapi seiring modernisasi perkeretaapian, sumur itu ditutup bersamaan dengan penghancuran Stasion Kereta kuno peninggalan Belanda.

Orang-orang di kampung kami menyebutnya Kereta uap itu  Kereta Kerong. Kemungkinan nama itu diambil dari bunyi klaksonnya yang panjang, “krooooonng! Krooong!”. Ada pula yang menyebutnya Kereta Gejus karena bila berjalan seperti mengeluarkan suara: jas, jus, jas, jus!

<span;>Orang Indonesia memang sering memberi nama sesuai sesuai dengan bunyi. Misalnya bedug. Dikasih nama itu karena bila dipukul bunyinya dag, dug, dag, dug.

<span;>Frekwensi perjalanan kereta api peninggalan Belanda tersebut sampai tahun 70an masih sangat terbatas. Tidak heran bila dalam setiap berjalannya selalu dipenuhi oleh penumpang, baik pekerja maupun pedagang. Sudah menjadi pemandangan sehari-hari bila gerbong-gerbong kereta dari Bogor menuju Jakarta dipenuhi oleh penumpang sampai ke atas, atau keranjang-keranjang buah yang digantungkan di luar gerbong.

<span;>Bila jadwal kereta dari dua jurusan berlawanan sama, maka salah satu kereta harus berhenti lama di stasiun yang memiliki lebih dari satu peron, untuk menunggu kedatangan kereta dari arah berlawanan tiba. sebab jika tidak, maka akan terjadi tabrakan seperti yang terjadi di Depok tahun 1968 dan 1990 atau di Sudimara tahun 1987.

<span;>Sementara kereta berhenti cukup lama, penumpang biasanya turun dulu dari kereta untuk mencari udara segar sambil jajan makanan yang dijual di area stasiun. Di dalam kereta apa juga ketika itu masih banyak yang berjualan makanan kecil, minuman atau rokok. Bersama teman sepermainan, saya juga ikut jualan kacang rebus atau buah-buahan di kereta.

Karena penumpang tidak terlalu banyak, kereta terakhir yang tiba di Depok dari Jakarta sekitar pukul 20.00, sering disebut kereta  Laste, dari bahasa Belanda Laatste (Terakhir).

Kampung-kampung di sekitar Depok ketika itu belum masuk listrik. Penumpang kereta laste biasanya membeli obor minyak tanah yang dijual luar stasiun. Obor biasa terbuat dari batang pepaya yang diisi minyak tanah dan diberi sumbu kain.

Bagi pekerja yang tertinggal kereta terakhir dari Jakarta, biasanya naik mobil omprengan dari Stasiun Pasar Minggu.

Tahun 1976 kereta-kereta peninggalan Belanda dipensiunkan, diganti oleh KRL (Kereta Rel Listrik) atau KRD (Kereta Rel Diesel) buatan Jepang. Penggunaannya diresmikan oleh Presiden Soeharto sekalian peresmian Perumnas Depok dan pembukaan jalan tembus Depok – Pasar Minggu melalui Jl. Margonda.

Ketika Presiden Soeharto datang, kami para pelajar — ketika itu saya masih SMP — disuruh berjajar di pinggir jalan sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih dari kertas ketika rombongan presiden lewat. Saya sama sekali tidak melihat wajah presiden yang berada di dalam mobil.

Tahun 1984 saya mulai bekerja di sebuah suratkabar mingguan di kawasan Slipi Jakarta Barat. Sejak itu secara rutin menggunakan KRL. Dari Depok turun di Stasiun Cawang, lalu melanjutkan ke Slipi menggunakan bus Gamadi yang banyak copetnya. Kalau pulang biasanya dari Gambir karena saya kursus bahasa Inggris di IEC Gambir atau dari Cikini setelaj kursus fotografi di Jl. kawasan Cikini.

Waktu itu KRL terakhir dari Stasiun Gambir sekitar pukul 21.00. Penumpang masih sedikit. Pernah saya diminta pindah duduk di gerbong agak depan oleh petugas karena saya cuma sendiri di belakang. Kata petugas sebaiknya pindah di gerbong yang banyak penumpang, karena rawan.

KRL makin diminati oleh masyarakat sehingga penumpangnya terus membludak. Sampai sebelum Ignasiun Johan menjadi Dirut PT KAI, penumpang masih bebas naik KRL sampai di atas, tidak membeli tiket, cuma memberi selembar uang ribuan kepada kondektur kereta api. Gerbong kereta api terasa panas dan pengab. Penumpang kerap membuka jendela untuk mendapatkan udara segar.

Ketika Johan menjadi sebagai Dirut KAI, terjadi revolusi besar-besaran perkeretaapian di Indonesia. Stasiun dibebaskan dari pada pedagang. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke Stasiun kereta tanpa memiliki tiket. Pintu masuk menggunakan mesin yang tidak bisa kompromi seperti petugas pintu kereta api. Gerbong-gerbong kereta sudah berpendingin, sehingga para pegawai kantoran, bahkan pejabat atau artis yang wangi pun mau naik KRL. Penumpang makin dimanjakan dengan frekwensi perjalanan kereta yang semakin banyak dan jadwal kereta api awal bertambah pagi dan kereta terakhir makin malam.

Masyarakat yang tidak di luar Jakarta tidak perlu khawatir lagi bila pukul 23.00 masih ada di Jakarta, karena kereta api terakhir dari Stasiun Kota ke Bogor sampai pukul 23.30 WIB.

Pandemi covid rupanya membuat kemesraaan masyarakat dengan KRL Commuterline cepat berlalu.  PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) melakukan penyesuaian perjalanan KRL Jabodetabek. Hal ini menyusul penerapan PSBB di DKI Jakarta.

Mulai Sabtu (19/9) KRL akan beroperasi mulai pukul 04.00 hingga pukul 20.00 WIB, dengan kereta-kereta pemberangkatan pertama memasuki wilayah DKI Jakarta sekitar pukul 05.00 WIB dan kereta-kereta terakhir meninggalkan wilayah DKI Jakarta sekitar pukul 19.00 WIB. Kapasitas pengguna tetap dibatasi hingga 74 orang per kereta.

Itulah kereta Laste terkini di era KRL Commuterline.

 

 

Share This: