Leo Kristi, Musikus Yang Konsisten Dengan Pilihannya Itu Telah Tiada

Bens Leo (batik biru) dan beberapa rekannya menjenguk Leo Kriti ketika dirawat di RS Immnauel Bandung, beberapa hari lalu. (Foto: Ist)
_

Tidak banyak seniman yang teguh pada pendiriannya. Apalagi di era industri yang kerap menggoda dengan iming-iming uang dan popularitas. Leo Kristi adalah salah satu bagian dari sedikit seniman musik yang tetap bertahan dengan prinsip dan warna musiknya. Dia memang ikut masuk dapur rekaman, tetapi bukan karena godaan materi.

“Susah mencari orang sepert dia. Dia sangat teguh dengan pilihan musiknya. Dia tidak perduli dengan penggemar yang banyak. Sedikit, tapi penggemar setia, sudah cukup,” kata pengamat musik Bens Leo yang dihubungi balaikita melalui telepon.

“Saat ini saya lagi di Bali, jadi tidak bisa mengantar almarhum ke pemakaman. Saya sudah sampaikan kepada kelaurganya,” kata Bens ditelepon.

Konsistensi Leo Kristi merupakan sisi yang sangat menarik dari seniman musik kelahiran Surabaya, 8 Agustus 1949 itu. Meski pun telah malang melintang di dunia musik, Leo Kristi tetap bertahan dengan pilihan musiknya. Karena keteguhan sikapnya itulah, sang seniman, pada tahun 2016 lalu mendapat Anugerah Kebudayaan.

“Saya waktu itu menjadi salah seorang Juri, dan saya yang mengusulkan agar Mas Leo Kristi diberi penghargaan,” tutur Bens Leo.

Leo merupakan musisi lawas seangkatan dengan almarhum Gombloh dan Franky Sahilatua. Ketiganya pernah terlibat dalam pendirian grup band beraliran rock progresif bernama Lemon Trees. Leo  kemudian keluar dari Lemon Trees dan tampil solo.
Penampilan panggungnya selalu khas dengan memakai jubah hitam. Selama karier musiknya, Leo Kristi pernah merilis beberapa album. Antara lain, Nyanyian Fajar (1975), Nyanyian Malam (1976), Nyanyian Tanah Merdeka (1977), Nyanyian Cinta (1978), Nyanyian Tambur Jalan (1980), Lintasan Hijau Hitam (1984), Biru Emas Bintang Tani (1985, gagal beredar).

Dia juga pernah merilis Catur Paramita (1993) dan Tembang Lestari (1995, direkam pada CD terbatas), Warm, Fresh and Healthy (17 Desember 2010), dan Hitam Putih Orche (2015).

Album terakhirnya Hitam Putih Orche  dibiayai oleh penggemar fanatiknya. Album dari pemusik troubaour itu unik, karena melibatkan orkestra. Ke-12 lagu dalam album itu diaransemen oleh Dosen ISI Yogyakarta, Singgih Sanjaya.

Selain melibatkan paduan suara orang dewasa dan anak-anak, penyanyi Berlian Hutauruk dan Tri Utami menjadi bintang tamu dalam album itu.

“Padahal keduanya belum pernah menjadi bintang tamu di album siapa pun selama ini. Untuk Leo Kristi mereka bersedia,” kata Bens Leo.

Hitam, Putih, Orche merupakan album terakhir Leo Kristi. Setelah itu ia hanya mengikuti kegiatan bermusik tertentu, terutama untuk penggemarnya.

Akhir April 2017 lalu dia terserang sakit disentri yang disebabkan oleh bakteri amuba. Leo Kristi kemudian dirawat di RS Immanuel Bandung selama 11 hari. Menurut dokter, untuk serangan disentri semacam itu seharusnya segera ditangani, tidak boleh ditunda-tunda.

“Waktu saya membesuk ke rumah sakit bersama beberapa teman, kondisinya terlihat segar. Waktu difoto bahkan dia minta dipakaikan topi,” tutur Bens Leo.

Namun takdir berkata lain. Minggu (21/5/2017) dinihari tadi sekitar pukul 00.30 WIB Leo Kristi dipanggil Yang Maha Kuasa di Rumah Sakit Immanuel Bandung. Almarhum meninggal dunia dalam usia 67 tahun.

Jenazah penyanyi dengan nama asli Imam Sukarno ini saat ini dibawa ke rumah duka di Jakarta, di Jalan Bongas II E7 No, 17 Jatiwaringin Asri, Pondok Gede, Jakarta Timur, untuk kemudian dimakamkan di sebuah pemakaman umum di Bekasi, Jawa Barat.

Share This: