Livi Zheng Pernah Ditolak Hingga 32 Kali di Amerika

_

Selama ini Indonesia merupakan pasar empuk bagi film-film Amerika. Tidak ada batasan kapan Amerika akan memasukan filmnya ke Indonesia dan berapa jumlahnya, semua tergantung kemauan pihak Amerika dan kaki tangannya di Indonesia.

Tetapi bagaimana dengan film Indonesia? Jangankan ke Amerika, ke negara-negara Asean saja sulit masuk. Apa persoalannya?

Nah jawaban itulah yang ingin ditemukan dalam Diskusi Kreatif, “Kiat Menembus Pasar Film Internasional” yang diselenggaraka oleh Pusbang Film di Hotel Akmani Jakarta, Kamis (7/2/2019) siang.

Livi Zheng dalam Diskusi (kanan)

Diskusi menghadirkan produser Manoj Punjabi, sutradara Indonesia yang berkiprah di Amerika, Livi Zheng, aktor Andi Arsyil Rahman dan wartawan film Teguh Imam Suryadi.

Diskusi dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama menampilkan pembicara Teguh Imam Suryadi dan Andi Arsyil Rahman.

Andi sendiri hanya berbicara tentang perjalanan kariernya sebagai aktor, sedangkan Teguh Imam Suryadi memaparkan animo masyarakat internasional terhadap film Indonesia, terutama ketiaka ia hadir dala festival film atau kegiatan film di luar negeri.

Andi Arsyil (kanan) dan Teguh Imam Suryadi (kiri)

Yang menarik adalah cerita Livi Zheng mengenai pengalamamnya membuat film di Amerika. Menurut gadis yang memukai kariernya sebagai pelatih wushu di Amerika ini, tidak mudah untuk berkarier di Amerika.

Pandangan orang Amerika yang masih menganggap orang Asia, khususnya Indonesia, masih terbelakang, masih kuat.

“Ketika saya bilang sama teman mau buat film, dia bilang saya keliru, karena sama perempuan, masih muda dan dari Asia,” tutur Livi.

Tapi dia tidak mau menyerah. Bersama adiknya dia menbuat skenario, lalu mencari kru film yang mau diajak bekerjasama. Tetapi semua kru film berpengalaman yang diajaknya menolak, karena portofolio Livi sebagai pembuat film tidak ada.

“Mereka tidak ada yang mau bekerjasama. Naskah saya sampai tiga puluh dua kali ditolak. Sedih juga ya. Akhirnya saya revisi, revisi lagi naskah saya. Dan saya tawarkan kembali, ternyata mereka mau,” kata gadis kelahiran Blitar, Jawa Timur tahun 1989 ini.

Film pertamanya jadi, Brush With Danger, dan setelah itu membuat beberapa film lagi, termasuk sebuah film semi dokumenter yang dibuat di Bali. Selain beredar di Amerika, filmnya juga beredar di beberapa negara lain.

Lupakan Pasar Internasional

Produser film Manoj Punjabi meminta pembuat film di Indonesia agar mengutamakan pasar di Indonesia dulu. Menurut Manoj, tidak gampang menembus pasar internasional, apalagi Amerika.

“Pasar di Indonesia ini besar sekali, dan setiap tahun jumlah penonton bioskop selalu bertambah. Saran saya, kita garap pasar di Indonesia dululah, jangan memikirkan pasar luar dulu,” kata Manoj.

Untuk memperluas pasar di Indonesia, menurut Manoj, pemerintah harus turun tangan memperbiki sistem peredaran yang ada, tetapi tidak lagi mengandalkan UU Perfilman yang sudah tidak bisa dijalankan.

“Kita ini negara besar, pendudukan banyak, tetapi jumlah bioskopnya sangat sedikit. Jadi itu kendala kita untuk memperluas pasar,” katanya.

Share This: