Luas Danau di Indonesia Terus Berkurang

_

Danau merupakan salah satu kekayaan alam yang memberkan bayak manfaat bagi manusia, terutama yang tinggal di dalamnya. Danau bisa menjadi sumber air alami, habitat bagi berbagai satwa, terutama satwa air, dan sumber mata pencarian bagi masyarakat. Kini danau menjadi salah satu obyek wisata yang menarik bagi masyarakat dari daerah lain atau luar negeri.

Namun kelestarian danau terus terancam oleh ulah manusia yang terus mengokupasi untuk mendapatkan lahan baru. Akihatnya luasan danau

Foto: HW

-danau di Indonesia terus menyusut. Contohnya Danau Rawapening di Jawa Tengah dari luas 2000 hektar skrg 1850 hektar, atau Danau Limboto di Gorontalo yang semula memikiki luas 5850 kini menjadi 3380 hektar.

Fakta itu terungkap dalam Sosialisasi “Pengembangan 15 Danau Prioritas yang Menjadi Destinasi Pariwisata”, Kamis (17/7/2019) yang diadakan oleh Forum Wartawan Pariwisata (Forwarpar) di Teraskita Hotel, Jakarta Timur.

Pembicara dalam acara tersebut adalah Staf Ahli Menteri Kehutanan, Prof. Dr. Ir. Winarni D. Monoarfa; Direktur Kehutanan dan Konservasi sumberdaya Air, Nur Higyawati Rahayu, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Kemeterian Pariwisata, Dadang Rizky Ratman; Kepala Danau, Situ dan Embung Kementerian PUPR, Naswardi dan Dirjen Pengendalian Hutan Lindung Kementerian KLH, Hudoyo.

Menurut Prof. Winarni Monoarfa, selama ini masyarakat masih menjadikan danau sebagai halaman belakang, sehingga kurang peduli dengan kondisi danau itu sendiri. Masyarakat masih membuang limbah domestik ke danau.

“Jepang adalah negara yang dapat menyelamatkan danau-danaunya. Di
Awalnya seperti di tempat kita. Saya pernah berkunjung ke Danau Diwa di Jepang, di sana anak-anak juga sudah diajarkan untuk menjaga kebersihan danau,” kata Prof. Winarni.

Dirjen Pengendalian Hutan Lindung Kementerian KLH, Hudoyo mengatakan, begitu kompleks permasalahan yang terjadi di danau-danau Indonesia. Petani menanam di kemiringan 20 persen. Eeosi dan sendimentasi lebih cepat. Kegiatan perikanan jaring apung sudah sangat tinggi. Memberikan pakan yang berlebih.

“Pembuangan pestisida ke danau ternyata membuat eceng gondok berkembang lebih cepat. Jika dulu butuh waktu 54 hari, kini hanya 24 hari. Upaya yg dilakulan KLHK memberikan alat pengolah eceng gondok,” kata Hudoyo.

Menurut Kepala Danau, Situ dan Embung Kementerian PUPR, Naswardi,
danau adalah sumber air alami, karena itu harus dijaDanau buatan perlu investasi ratusan milyar dan trilyunan. Jauh lebih mahal ketimbang biaya perawatan danau.

“Badan danau harus dijaga. Di sempadan danau ada aktivitas yang tidak.boleh dilakukan. Tetapi kita lihat di Rawapening banyak restoran di sempadannya. Di sana juga ada 1500 hektar sedimen yang diakui masyarakat dan sudah ada yang membuat sertifikat.

Untuk menjaga kelestarian danau dan membuatnya layak sebagai destinasi wisata, berbagai instansi yang berkepentingan melakukan sinergi.
Anggaran penyelamatan danau memang tidak terlalu besar, namun diharapkan stakeholder mau ikut terlibat.

” Harus ada keperdulian daerah. Anggaran dari APBD akan dibantu denga APBN untuk menanganinya,” kata Naswardi.

Untuk memaksimalkan fungsi danau sebagai destinsi wisata pariwisata, terutama yang menjadi prioritas, Kementerian Pariwisata siap bekerjasama dengan semua pihak terkait.

“Kita juga sudah memiliki anggaran dan program untuk mewujudkan danau sebagai destinasi wisata,” Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Kemeterian Pariwisata, Dadang Rizky Ratman.

 

.

 

 

 

Share This: