“Luka Cinta Jakarta”: Yudhistura Massardi Meneropong Jakarta.

_

Jika desing pompa air dianggap sama dengan deru pesawat terbangApa yang terjadi dengan telingamu?
Jika langit hitam dianggap sama dengan laut biru
Apa yang terjadi dengan kedua matamu?

jika rasa cabe dianggap sama dengan air gula
Apa yang terjadi dengan lidahmu?
Jika orang sakit jiwa dianggap sama dengan ahli surga
Apa yang terjadi dengan nalarmu?

]ika koruptor dianggap sama dengan penegak keadilan
Apa yang terjadi dengan moralmu?
Jika Penyebar kebencian dianggap sama dengan pembela kebenaran
Apa yang terjadi dengan bangsamu?

Duh’jangan biarkan analogi-analogi yang sesat itu,” katamu Alangkah rusak persamaan-persamaan sungsang yang mencekik nalarmu

Itu penggalan puisi Jakarta#63 karya penyair Yudhistira A. Massardi yang terdapat dalam kumpulan pusi (antologi) dalam sebuah buku berjudul Luka Cinta Jakarta. Yudhis meluncurkan antologi puisinya Jum’at (6/10/2017) malam, di Galeri Cemara Jakarta.

Ada 100 buah puisi yang terdapat dalam antologi puisi itu. Dan Yudhis memberi judul yang sangat sederhana untuk puisi-puisinya, mulai dari Jakarta#1 hingga Jakarta#100.

Sesuai judulnya, kumpulan puisi itu mengangkat fenomena yang terjadi di Jakarta. Mulai dari persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat kelas bawah, baik dalam rumahtangga mereka, sosial, hukum hingga politik.

Fenomena Pilkada, perpecahan dalam masyarakat, hoax di media sosial, pembangunan, kemacetan, sosok Ahok dan Jokowi juga tak luput dari teropongannya. Pengakuan terhadap kinerja Ahok digambarkan dalam puisi berjudul Jakarta #85.

Cahaya menari di Simpang Susun Semanggi Bagai cincin purnama
Melukis pelangi di malam hari
Penanda baru kota jakarta
Hendak mengurai kemacetan yang laten

“Terima kasih Pak Ahok dan Pak Djarot,” katamu “Sekurang-kurangnya, itulah keberanian melawan kebuntuan’

Ya, Sayangku ltulah monumen visi baru kepemimpinan Seperti dulu dimiliki Bung Karno Arsitek bangsa dan Ibu Kota Ikon perkasa Asia-Afrika
“Pembaharuan adalah fitrah kemanusiaan,” katamu “Membongkar lingkaran setan korupsi dan kejumudan”

Ya, Sayangku Dalam empat tahun jakarta lebih metropolitan Kejorokan dan keruwetan diselesaikan Masih banyak pekerjaan besar Memerlukan ketegasan kepemimpinan Visi besar dan transparansi anggaran Bukan cuma janji untuk dikhianati.

Kehadiran Pasaangan Gubernur baru dan wakilnya, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno juga masih masuk dalam catatannya.

Tak hanya Ahok, nama Jokowi juga disebut. Artinya Yudhis tidak hanya membatasi terawangannya terhadap situasi dan kondisi di Jakarta. Walau pun sebagai ibukota negara, banyak masalah nasional yang dirancang dan diputuskan di Jakarta.

Dalam puisinya Jakarta #85, Yudhis  menggugat kondisi bangsa yang masih carut marut di usianya yang telah mencapai 72 tahun, tetapi persoalan yang sama masih belum tuntas terurai.
Memang ada sosok Jokowi, tetapi ia harus berlomba dengan para penjarah negeri dan konglomerat hitam yang masih berkuasa.

Jakarta #85

Sudah 72 Agustus republik ini jungkir balik Sejak bambu runcing hingga zaman gawai
Tapi, kita sudah merdeka dari apa? Kita sudah merdeka untuk apa? Berapa gelintir pemilik sejati negeri ini?

Cuma seratus cukong dengan kekayaan tak terbayangkan Berapa ratus juta warga sengsara?

Tiga puluh juta yang hidup papa Berapa pula yang tak punya kerja? Para pemimpin politik lakukan apa Selain korupsi dan caci benci?

Aku tahu Pak Jokowi sudah kerja, kerja, kerja Beradu cepat dengan para penjarah uang negara
Yang diutang dengan berbagai cara

Namun para kecoa dan babi rusa terus saja merusak bangsa Membinasakan masa depan jutaan pemuda
“Kemerdekaan sudah dirampas para bajingan Tinggal sampah retorika di comberan romantika”

Pilkada DKI yang brutal, yang nyaris memecahbelah bangsa ini menjadi dua kelompok, membuat Yudhis resah.Yudhis juga peran orang-orang yang membawa-bawa agama dalan missi politiknya, dalam puisi berjudul Jakarta #64. Berikut petikanya.

Jakarta #64
Kebencian, iri dengki dan syahwat korupsi disemai setan setiap hari
Maka semua kebaikan harus ditumbuhkan di bumi dan dikabarkan ke langit.

Agar semua keburukan tak puhya lahan dan mati gersang
“Virus kejahatan sekarang bersarang juga di ujung jari,” katamu “Tidak hanya berinkubasi di lidah dan dalam hati”

Ya, Sayangku Maka orang-orang baik harus terus menuliskan Cinta
Agar para durjana tak bisa melepas ular berbisa Benih kebaikan harus terus dipupuk karena ia tak pernah cukup

“Nimrod dan Firaun terus reinkarnasi,” katamu
“Tetapi Tuhan tak lagi menurunkan nabi”

Ya, Sayangku
Agama-agama langit bahkan terus dimanipulasi Membenamkan yang suci
Meninggikan yang mungkar
Didakwahkan para pengikut iblis kepada kaum yang fasik

Untuk menyampaikan suara hatinya yang terkandung dalam puisi, Yudhis memakai medium sepasang suami isteri, nampaknya, yang terlibat dalam percakapan hangat dalam membicarakan berbagai persoalan di Jakarta yang demikian kompleks.

Tentu saja ada satire, kepedihan, rasa terusik melihat persoalan yang demikian akut, meski pun pada sisi lain terlontar juga kepasrahan menghadapi situasi yang semakin rumit.

Luka Cinta Jakarta merupakah antologi puisi tentang Jakarta yang ditulis sepanjang April hingga Agustus 2017. Di antara 100 puisi, ada “rekaman’ yang bercerita mengenai gejolak kontestasi pemilihan umum, dalam hal ini adalah pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Bag penulis, kontestasi politik tersebut menjadi ajang yang paling brutal dalam sejarah pemilihan umum di Indonesia. Selebihnya, Luka Cinta Jakarta menampilkan nyanyian kemanusiaan dan kerinduan terhadap cinta. Antologi puisi ini turut menampilkan karya visual berupa 100 ilustrasi yang diciptakan oleh 10 ilustrator dari Sanggar Garajas Bulungan;

Antologi puisi Yudhis ini membawa warga Jakarta untuk kembali untuk melihat apa yang ada di sekitar, sekeligus ajakan untuk introspeksi diri.

Selain peluncuran buku Luka Cinta Jakarta, Galeri Cemara juga menggelar pameran lukisan karya Eddy Yon, salah satu seniman Bulungan.

Acara peluncuran buku juga diramaikan oleh nyanyian puisi Yudhis oleh wartawan Jodhi Judono.

Share This: