Lukman Sardi dan Film Horor

Lukman Sardi dan Penyair Taufik Ismail dalam sebuah acara selamatan film. (Foto: HW)
_

Lukman Sardi merupakan salah satu aktor berbakat di Indonesia. Meski pun ia lahir dari keluarga pemusik (ayahnya adalah seoarang pemain biola legendaris di Indonesia, Idris Sardi). Namun Lukman yang mengikuti jejak kakaknya, Santi Sardi, akhirnya sukses sebagai aktor.

Sejak tahun 1978 sudah puluhan judul film dibintangi, beberapa di antaranya memerikan piala untuk Lukman sebagai petanda kepiawaiannya dalam berakting. Lukman juga telah menyutradarai 2 (dua) judul film, masing-masing Sang Penjahit (film pendek 2008) dan Di Balik 98 (film bioskop, 2015).

Aktor kelahiran Jakarta, 14 Juli 1971 ini secara mengejutkan kini membintangi film horor berjudul Jelangkung produksi Screenplay Films. Mengapa mengejutkan? Karena genre horor selama ini kerap dianggap jenis film-film “kelas dua” karena aspek penggarapan dan ceritanya yang cenderung membosankan.

Pada masanya film horor dianggap sebagai upaya produser untuk menarik penonton melalui pembuatan film yang murah, meski pun beberapa film horor Indonesia telah mencapai box office di bioskop Indonesia. Yang terbaru adalah film Danur yang saat ini masih bertahan di bioskop, dan telah meraup 2,7 juta penonton lebih.

Tentu tidak boleh dilupakan sukses film Jelangkung yang dibuat oleh duet Rizal Mathovani dan Jose Purnomo. Film ini tercatat telah ditonton 1,3 juta penonton di layar bioskop setelah dirilis, dengan total penonton sampai sekarang 5,7 juta penonton, dan meraup pendapatan sekitar lima miliar rupiah.

Bagi Lukman Sardi, aktor yang telah mendapatkan banyak penghargaan, meski pun belum pernah memegang Piala Citra, membintangi film horor tidak bisa disebut sebagai “merendahkan diri”.

“Saya kira semua aktor harus bisa masuk ke semua genre ya. Justru di situlah kualitas seorang aktor diuji. Karena setiap aktor tentu harus bisa memerankan tokoh apa pun, dan main dalam genre apa apun. Tidak harus melulu bermain film drama, film komedi atau action semata. Kalau setelah ini ada yang menawari lagi saya main film horor, kenapa tidak?” kata Lukman yang belakangan ini bekerja di MNC Pictures, perusahaan milik pengusaha Harry Tanoesudibjo.

Lukman yang hadir dalam peluncuran teaser film Jelangkung di SCTV Tower, Sabtu (6/5/17) menuturkan, film Jelangkung yang dibintanginya ini tidak melulu memberikan gambaran menyeramkan, melainkan banyak memiliki unsur drama. Selain Lukman, artis lain yang membintangi film ini adalah Amanda Rawles, Jefri Nichol, Augie Fantinus dan Hanna Al Rashid. Film ini disutradarai oleh Rizal Mathovani dan Jose Purnomo.

Rizal dan Jose merupakan dua sutradara yang juga membuat film Jelangkung pada tahun 2001. Sama seperti film terbarunya ini Film yang disutradarai Rizan dan Jose ini mengusung tema ritual mistis kuno jelangkung dari Indonesia.

Film ini berbiaya produksi 400 juta rupiah, dengan biaya total 1 miliar rupiah. Film ini tercatat telah ditonton 1,3 juta penonton di layar bioskop setelah dirilis, dengan total penonton sampai sekarang 5,7 juta penonton, dan meraup pendapatan sekitar lima miliar rupiah. Jelangkung sempat memimpin sebagai film dengan penonton terbanyak di seluruh Indonesia, namun rekornya sebagai film dengan pendapatan terbanyak di seluruh Indonesia telah dikalahkan oleh film Laskar Pelangi (2008).

Menurut artikel di Variety, film “Jelangkung” pada awalnya sama sekali tidak diharapkan akan menjadi sebuah kesuksesan. Film yang hanya memakan waktu syuting sepuluh hari ini diproduksi untuk ditayangkan di Tans TV, yang pada saat itu belum mulai mengudara di Indonesia (TransTV baru mulai mengudara awal tahun 2002).

Produser Erwin Arnada menyarankan untuk menayangkan “Jelangkung” di bioskop, dan pada tanggal 5 Oktober akhirnya “Jelangkung” ditayangkan di salah satu bioskop Jakarta Walau tanpa dukungan spondor dan iklan, film “Jelangkung” ternyata sangat sukses karena penonton yang kebanyakan adalah mahasiswa dan anak muda.

Kesuksesan komersial film ini dianggap telah menghidupkan perfilman horor di bioskop Indonesia, terutama karena saat dirilis, film ini tidak lagi bertumpu pada klise “wajah seram hantu” pada umumnya, namun juga pada ketegangan melalui gerak kamera, efek khusus dan lokasi yang asing.

 

 

 

 

 

 

Share This: