“Marlina” Diputar Perdana di Cannes, 24 Mei.

Mouly Surya (kanan) dan Marsha Timothy dalam konperensi pers film "Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak" di Jakarta, Jum'at (12/5/2017) siang. Foto: HW
_

Setelah Prenjak “mengharumkan” nama Indonesia di Festival Film Cannes tahun 2016 lalu, kini giliran “Malina Pembunuh Dalam Empat Babak” (MPDEB) film karya sutradara Mouly Surya, yang akan mempertaruhkan nama Indonesia di Festival Film Cannes.

MPDEB rencananya akan diputar pada tanggal 24 Mei 2107perdana di Quinzaine des realisateurs (Director Fortnight), yang paralel dengan Cannes Film Festival 2017.

“Sungguh suatu kehormatan besar bagi saya bisa berada di Directors Fortnight yang telah banyak menemukan ateurs dunia dan terkenal dengan karya-karya yang lebih edgy (memiliki kepribadian kuat),” kata Maouly dalam jumer pers yang berlangsung di Plaza Indonesia Jakarta, Jum’at (12/5/2017) siang.

MPDEB merupakan film produksi bersama Cinesurya dengan Kaninga Pictures, Sasha & Co Production (Perancis), Astro Shaw (Malaysia), HOOQ Originals (Singapuara), dan Purin Pictures (Thailand).

Sebelumnya film ini ikut terseleksi Asian Project Market di Busan International Film Festival 2015, dan Cinefondation L’Atelier Cannes Film Festival 2016. Film ini menerima dukungan pembiayaan Talent Tokyo Next Masters Support Programme dan subsidi Cineas du Monde dari Kementerian Luar Negeri Perancis.

Film ini mengisahkan tentang seorang janda yang mencari keadilan setelah rumahnya diserang oleh segerombolan perampok. Cerita film ini ditulis oleh Mouly Surya dan Rama Adi, berdasarkan cerita dari Garin Nugroho, dengan pemain terdiri dari Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama dan Egy Fadly.

Film ini mengambil setting tanah Sumba (NTT), sehingga mengingatkan tentang film karya Garin Nugroho berjudul Surat Untuk Bidadari, yang mengambil lokasi syuting di tempat yang sama. Bahkan film dokumenter Garin, Paraing Marapu juga memvisualisasikan upacara adat kematian seorang Raja di Sumba.

Mouly tidak menyangkal ada kemiripan lokasi filmnya dengan film karya Garin Nugroho, apalagi ide cerita film ini juga berasal dari Garin.

“Waktu itu Mas Garin memberikan semacam treatment, lima lembar dan menyerahkan kepada saya untuk dibuat filmnya. Padahal saya sendiri waktu itu tidak pernah pergi ke Sumba. Saya ini orang yang tidak suka travelling, jadi tidak tahu kalau itu banyak kemiripan,” kilah Mouly.

Judul yang diberikan Garin sendiri untuk filmnya awalnya adalah “Perempuan”. Tetapi Mouly akhirnya memakai judul “Marlina Pembunuh Dalam Empat Babak”.

“Nama Marlina itu muncul setelah saya brosing tentang Sumba, lalu ada di youtube rekaman seorang guru yang diprotes karena menari-nari di sekolah. Guru itu sendiri melawan karena dia merasa tidak merugikan siapa-siapa. Toh menarinya juga di luar jam pelajaran. Ketika saya tahu nama guru itu Marlina, saya tertarik, lalu memakainya untuk judul film saya ini. Kayaknya menarik,” tutur Mouly.

Tentang kata yang dipakai lainya, Pembunuh Dalam Empat Babak hanya dipakai begitu saja tanpa maskud apa-apa.

“Itu sesuai dengan treatmen yang diberikan Mas Garin, ada empat babak tentang Marlina. Jadi saya pakai saja kata-kata Pembunuh Dalam Empat Babak. Kayaknya keren tuh, bagaimana gitu,” katanya.

Sebelumnya Mouly menyutradarai film What They Don’t Talk About When They Don’t Talk About Love (2013), film Indonsia yang masuk seleksai World Cinema Dramatic Competition Sundance Film Festival. Film pertamanya, Fiksi (2008) mengantar Mouly menjadi satu-satunya perempuan peraih Piala Citra untuk kategori Sutradara Terbaik.

“Marlina” merupakan film panjang keempat Indonesia yang terseleksi dalam rangkaian Festival Film Cannes, setelah Tjoet Nya Dhien (1988) di Semaine de La Critique, Daun di Atas Bantal (1998), di Un Certain Regard dan Serambi (2006) di Un Certain Regard.

Share This: