Masyarakat Kecewa dan Berterimakasih Kepada LSF

_

Lembaga Sensor Film bertugas untuk melindungi masyarakat dari pengaruh buruk film. Tugas LSF dipayungi oleh undang-undang No.33 tahun 2009 dan PP No.18. Dinamika yang terjadi di dunia perfilman membuat LSF terus berpikir untuk menyesuaikan diri, dan melakukan reformasi internal.

Namun hasil kerja LSF tidak selalu memuaskan semua pihak. Ada yang berterima kasih terhadap hasil kerja LSF, tetapi tidak sedikit pula yang marah atau kecewa.

“Ada masyarakat berterima kasih karena LSF sudah menjaga mereka dengan melakukan penyensoran terhadap adegan-adegan yang tidak patut. Tetapi banyak pula yang kecewa, terutama para pembuat film yang kecewa filmnya kena sensor,” kata Ketua LSF Dr. Ahmad Yani Basuki.

Ahmad Yani mengatakan hal itu ketika membuka acara Forum Koordinasi dan Kerjasama Dengan Pemangku Kepentingan Perfilman di Hotel Bidakara Jakarta, Rabu (26/7/2017). Acara itu dihadiri oleh Ka Pusbang Film DR Maman Wijaya, pengusaha bioskop, produser film, kalangan televisi dan undangan lainnya.

Menurut Yani, LSF berada di tengah antara undang-undang dan masyarakat. Selalu ada pendapat yang mengatakan apakah LSF diperlukan atau tidak. Semua dapat lalu diselesaikan melalui dialog.

Mengantisipasi perkembangan dunia yang terus berubah terutama terjadi kemajuan teknologi, LSF secara internal melakukan reformasi. Anggota LSF yang di masa lalu berjumlah 45 orang, kini menjadi 17, tetapi dengan sistem kerja yang lebih fokus karena semua anggota LSF bekerja penuh setiap hari, tidak seperti di masa lalu yang langsung pulang setelah bekerja.

Ada 4 tugas utama yang dijalankan LSF saat ini menurut Yani, yakni melindungi masyarakat dari pengaruh buruk film, menjadi mercu suar bagi masyarakat dan pembuat film, menjadi mitra pembuat film dan menjadi pendamping masyarakat untuk membudayakan sensor mandiri.

“Kita ingin dalam menyensor, yang punya fillm ridho, dan masyarakat yang menonton tidak masalah. Tentu ada masyarakat yang kecewa dan ada pula yang berterimakasih dengan LSF. Kalau masyarakat kecewa dehpngan LSF, berarti sosialisasi belum terbangun. Kalau insan film kecewa, komunikasi belum terbangun,” paparnya.

Yani menambahkan masyarakat bisa menilai sendiri film-film yang telah disensor, tetapi kadang obyektif dalam melakukan penlaian. Banyak yang tidak menonton sebuah film, tetapi langsung memvonis hanya karena mendapat informasi dari pihak lain.

“Waktu film Beauty and The Beast akan masuk, masyarakat sudah ribut karena ada adeganya yang terkait LGBT. Tetapi ketika kita tonton, tidak ada itu. Kita mempersikahkan masyarakat untuk menonton dan menilai sendiri,” tandas Yani.

Forum Koordinasi yang diadakan LSF kali ini merupakan yang keduakali. Yang pertama ketika anggota LSF baru dilantik. Forum Koordinasi diisi dengan diskusi dengan pembicara Produser dan mantan anggota LSF HM. Firman Bintang, anggota LSF Syamsul Lussa dan Arturo GP dengan moderator anggota LSF Rommy Fibri.

Share This: