Mau Ngapain ke Piala Oscar?

_

Pengurus Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) beberapa hari lalu mengirim siaran pers, yang isinya mengenai p<span;>embentukan Komite Seleksi Oscar Indonesia atau The Indonesian Oscar Selection Committee.

Komite Seleksi (Komsel) akan bertugas memilih film dari Indonesia yang akan diikutkan dalam ajang tersebut.

Pada rapat perdana secara daring, Kamis (10/9/20) sore. Komite memilih Garin Nugroho sebagai ketua,  beranggotakan 13 orang. Mereka adalah <span;>Alim Sudio (penulis skenario), Tya Subiakto (Penata Musik), Benni Setiawan (Sutradara), Widyawati (Aktris), Chand Parwez Servia (Produser), Yudi Datau (DoP), Deddy Mizwar (Aktor / Produser), Zairin Zain (Sutradara Produser), Garin Nugroho (Sutradara), Hanung Bramantyo (Sutradara), Ilham Bintang (Wartawan), Sentot Sahid (Editor) dan Tittien Wattimena (Penulis Skenario).

Mereka yang berada dalam Komsel merupakan orang-orang yang tidak diragukan lagi kapabilitasnya. Itu diukur dari catatan prestasi mereka di dunia film.

Bila melihat nama-nama yang ada,  Komite Seleksi ini merupakan tim terbaik yang pernah dibentuk PPFI untuk menjadi Komite Seleksi Film Indonesia untuk Piala Oscar. Tidak berlebihan jika Komsel kali ini merupakan The Dream Team yang diharapkan mampu menorehkan tinta emas di ajang Oscar.

Apalagi beberapa nama juga memiliki pengalaman karya mereka diikutsertakan dalam perebutan Piala Oscar, untuk kategori Film Berbahasa Asing.

Tahun lalu film karya Garin Nugroho, “Kucumbu Tubuh Indahku” dipilih mewakili film Indonesia di Piala Oscar. Seperti kita ketahui, film itu gagal, bahkan masuk nominasi pun tidak.

Ini merupakan kegagalan kedua Garin di Piala Oscar setelah filmnya “Daun Di Atas Bantal” (1998) juga tidak beruntung.

Karya Hanung Bramantyo, “Soekarno – Indonesia Merdeka” juga dikirim pada tahun 2014, dengan hasil yang sama dengan film-film Garin.

Sejak pertama kali ikut di ajang tersebut melalui film “Naga Bonar”, sudah 23 judul film Indonesia yang dikirim. Tetapi semua pulang dengan tangan hampa.

Genre dan tema yang dikirim pun dari film-film yang dikirim sangat bervariasi. Mulai dari komedi berlatarbelakang sejarah (Naga Bonar), film sejarah / epik (Tjoet Nya Dhien), ruman sejarah (Soekarno), drama hingga film yang mengangkat budaya (Kucumbu Tubuh Indahku) maupun bernuansa etnik (Marlina – Pembunuh Dalam Empat Babak). Semua belum mampu menarik perhatian juri.

Kita tidak tahu persis mekanisme penjurian yang berlaku di ajang Oscar, kita juga tidak tahu persis berapa orang dari mencapai hampir 10.000 orang (2020). Lalu berapa judul film yang mereka tonton selama penjurian, dan sejauh mana mereka benar-benar menonton film-film peserta.

Menurut wanita sineas Nia Dinata yang filmnya Ca Bau Kan pernah mewakili Indonesia (2002), bila mengikuti Oscar, peserta harus menyiapkan kebutuhan materi film untuk juri dalam bentuk — ketika itu – DVD. Satu per satu juri diberikan materi. Selain itu perlu publikasi dengan bagus agar juri mau nonton.

“Kalau mereka enggak menonton bagaimana mau memilih?” tuturnya Nia. Padahal, ada ribuan film yang bersaing menjadi Berbahasa Asing Terbaik.

Biaya juga menjadi faktor penting dalam keikutsertaan dalam Ajang Oscar. Pemilik film harus menyewa EO yang bisa mempromosikan sekaligus menyiapkan keperluan juri. Dan itu jumlahnya tidak sedikit.

Zairin Zain, saat film Alangkah Lucunya Negeri Ini lolos ke 65 besar Film Berbahasa Asing Terbaik, harus mengeluarkan biaya promosi US$ 40 ribu atau sekitar Rp520 juta. Saat ini mungkin biaya sebesar itu tidak cukup lagi. Itulah sebabnya PPFI selalu meminta kepada pemerintah untuk membiayai film-film yang diikutkan dalam  Piala Oscar.

Ketika mengirim film “Marlina — Pembunuh Dalam Empat Babak”, pihak Indonesia harus memfasilitasi pemutaran khusus film tersebut di Los Angeles, untuk menarik perhatian para juri AMPAS (Academy of Motion Pictures Arts and Sciences) yang berjumlah kurang lebih 400 orang terhadap film tersebut.

<span;>Telah berbagai upaya dilakukan. Uang yang dibuang pun tidak sedikit demi mencatatkan nama Indonesia di perhelatan perfilman paling terkenal di dunia tersebut. Namun hasilnya seperti kita tahu, nihil. Di mana letak kesalahannya?

Sebetulnya bukan soal salah atau benar, tetapi masalahnya pada film-film karya anak bangsa yang selama ini levelnya masih kurang dalam ukuran internasional.

Jika kita mau belajar atau membanding-bandingkan dengan beberapa film pemenang Piala Oscar, katakanlah yang terakhir film Korea berjudul “Parasite”, film Indonesia memang masih jauh kualitas artistiknya.

Orang film Indonesia harus jujur apakah sudah pantas masuk top level perfilman dunia dengan kualitas film-film yang pernah dibuat, atau hanya bisa sampai FFI atau FFAP (Festival Film Asia Pasifik).

Jangan-jangan seperti sepakbola Indonesia yang selalu merasa bisa berada di level dunia, padahal dari peringkat saja masih rendah.

Sebaiknya, mumpung lagi prihatin menghadapi Covid-19, tahan diri dululah. Tidak perlu ngotot ikut Oscar. Lakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan, pembinaan, produksi dan SDM  perfilman Indonesia.

Share This: