“Meet Me After Sunset” Keindahan Mentari Pagi Yang Menyakitkan

_

Sunrise (matahari terbit) selalu dinantikan kehadirannya oleh setiap orang. Sunrise bukan hanya menjadi penanda masuknya hari yang baru, walau pun hari baru sudah dimulai sejak jarum jam bergulir melewati angkat duabelas di malam hari, tetapi orang baru merasakan hari baru pada saat sunset tiba.

Sunrise bahkan membuat suasana alam terasa indah. Sinar matahari kekuningan, embun yang menguap di pegunungan yang diikuti kicauan burung, melahirkan sensasi luar biasa. Karena keindahannya sunrise merupakan moment yang diidamkan oleh semua orang.

Namun berbeda dengan kebanyakan orang, sunrise bagi Gadis, dara cantik puteri seorang kepala sekolah di Bandung Selatan, menjadi saat yang menakutkan. Sedapat mungkin dia harus menghindari. Gadis justru memulai aktivitas di luar rumah setelah sunset (matahari tenggelam)

Karena bila terpapar matahari, kulitnya akan rusak, timbul bintik-bintik yang merusak kecantikannya.

Gadis mengidap penyakit xeroderma pigmentosa. Sinar matahari yang mengandung ultraviolet dapat merusak DNA kulit si penderita.

Gadis itulah yang ditemui oleh Vino ketika ia diajak orangtuanya pindah ke perkebunan teh Bandung Selatan.

Secara tidak sengaja suatu malam ia melihat seorang gadis berjalan sendirian membawa pelita. Vino mengikuti diam-diam, ke suatu tempat di mana sang gadis mengekspresikan kebahagiaannya di sebuah bukit kapur.

Pada hari-hari berikutnya Vino tidak hanya mengamati, tetapi ia juga berusaha mendekati dan menggoda sang gadis. Vino makin dibuat penasaran dengan sikap tertutup sang gadis.

Melalui pendekatan yang intens Vino akhirnya berhasil menaklukan hari sang gadis.

Cinta Segitiga

Paparan di atas adalah sekelumit cerita dalam film “Meet Me After Sunset” (MMAS) produksi MNC Pictures, dengan sutradara Danial Rifki, mengangkat cerita karya Miftha Syafrian Yahya, yang ditulis ke dalam scenario oleh Haqi Ahmad dan Famaningsih Bustamar.

MMAS adalah film roman remaja yang digarap dengan apik, tidak berlebihan dalam konsep pengadegan maupun dialog-dialognya, meski pun gambaran anak muda masa kini tetap terasa, dan kadang terlepas dari setting yang dipakai untuk film ini.

Gadis (Agatha Chelsea) yang digambarkan sebagai anak Kepala Sekolah di Bandung Selatan itu, tak menguasai dialek Sunda. Padahal dia sehari-hari hidup dengan bapaknya yang Sunda asli. Film Indonesia memang suka melupakan detil seperti ini.

Dalam menggambarkan kisah remaja atau anak-anak muda, yang ditampilkan adalah prototype anak-anak muda kota besar yang, bukan saja dalam penampilan, tetapi juga dalam perilaku maupun dialog-dialog yang digunakan.

Kalau pun ada, masih terkesan dipaksakan, karena kurangnya riset dari pembuat film atau para aktornya sendiri.

Terlepas dari itu semua, Danila Rifki menggarap filmnya dengan baik. Film ini enak diikuti dan plotnya tidak membosankan, walau hanya berputar-putar di persoalan yang sama.

Gambar-gambar yang dihasilkan indah, apakah itu hasil permainan kompugrafik atau diambil apa adanya, tetapi terasa ada konsep yang matang dalam sinematografi.

Lebih dari tiga perempat durasi film ini mengolah cita segitiga antara Vino (Mahime Bouttiere), Gadis (Chelsea Agatha) dan Bagas (Billy Davidson). Penonton, seperti hampir semua orang dalam film itu, terfokus pada persoalan yang dihadapi Gadis dengan penyakitnya.

Semua orang tak ingin menyakiti Gadis, termasuk Vino yang sedikit urakan. Cinta segitiga di antara mereka membuat penonton deg-degan.

Untuk beberapa saat kita dipaksa harus menebak-nebak kepada siapa Gadis akan memberikan hatinya, karena baik Vino maupun Bagas sama-sama memberikan perhatian yang tinggi terhadap Gadis. Dua pemuda yang mendekatinya sama-sama ganteng, sama-sama menyayanginya.

Jauh sebelum Vino datang, Bagas sudah memberikan perhatian lebih kepada Gadis. Bagas juga sudah memperkenalkan Gadis kepada neneknya, dan sang nenek berharap Gadis membalas cinta Bagas.

Namun Bagas tidak bisa memberikan apa yang telah diberikan oleh Vino, yakni mengajaknya mengenal dunia nyata dengan segala upayanya, termasuk memberikan pakaian khusus seperti astronot, agar ia bisa baraktivitas di siang hari.

Xeroderma pigmentosa

Xeroderma pigmentosa Titik tolak dari cerita film ini adalah penyakit Xeroderma pigmentosa yang diderita oleh Gadis. Penyakit ini adalah pantangan bagi penderitanya untuk terkena paparan sinar matahari langsung.

Penderita memiliki dua jenis gen abnormal dan bisa berkembang dengan cepat. Bila terkena matahari kulit akan menutup hingga ke bagian mata. Sinar matahari yang mengandung sinar UV bisa merusak DNA dalam sel kulit.

Penderita akan memiliki kulit yang lebih tipis dan noda pada kulit dengan berbagai variasi. Mengangkat cerita dengan latar belakang suatu penyakit langka yang diderita oleh pelakon utama, merupakan sebuah keberanian yang jarang ditemui.

Apalagi dalam kisah-kisah remaja yang selalu berputar-putar dalam persoalan cinta yang dangkal. Apalagi akhir dari cerita ini justru mengejutkan.

Penulis scenario dan sutradara film ini ternyata mampu mengambangkan cerita menjadi sebuah film yang apik, tidak lebay dan menarik dalam aspek sinematografi.

Para pemain juga berhasil membawakan karakter yang harus diperankannya. MMAS bukan hanya menghibur tetapi juga berisi.

Share This: