Melawan Korupsi Dengan Musik Keroncong

Salah satu peserta dalam Festival Musik Keroncong "Jangan Korupsi" di Sekolah Pilar Indonesia, Ciangsana Bogor, Sabtu (9/9/2017) - Foto: HW
_

Persoalan terbesar yang dihadapi bangsa ini adalah perilaku koruptif yang hampir merata di seluruh lapisan masyarakat hingga pemerintahan. Komitmen untuk melawan korupsi terus didengungkan, walau pun hasilnya masih jauh dari harapan.

Sekolah swasta Pilar Indonesia yang berlokasi di Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Bogor, punya cara untuk melawan korupsi, yakni dengan menggelar Festival Musik Keroncong untuk anak-anak muda, dengan tema “Jangan Korupsi”.

Dalam Festival Musik Keroncong ke-3 yang berlangsung di Sekolah Pilar Indonesia di Ciangsana, 9 September 2017 kemarin, tercatat ada 13 grup Orkes Keroncong anak-anak muda dari berbagai kota di Indonesia. Antara lain dari Kendal, Jombang, Cilacap, Malang dan Jakarta.

“Sampai menjelang lomba kami mendengar ada sepuluh grup musik keroncong yang menyatakan tidak bisa datang karena tidak ada dukungan dari pemerintah setempat atau pihak-pihak berkompeten di daerahnya,” kata Ketua Dewan Pembina Sekolah Pilar Indonesia, Iwan Kresna Setiadi, yang menggagas lahirnya festival keroncong ini.

Yang menarik dari festival ini adalah, para peserta terdiri dari anak-anak muda berumur antara 13 hingga 19 tahun. Mereka memainkan musik dan menyanyikan lagu-lagu keroncong dengan gaya yang lebih bebas, tidak terlalu terikat dengan musik keroncong tradisional yang terkesan jadul.

Tidak hanya dalam memainkan musik, mereka juga mengekspresikan gayanya melalui penampilan yang kekinian. Ada grup musik yang memakai jas lengkap, berpakaian daerah atau pakaian-pakaian yang dimodifikasi sendiri, meski pun sebagian besar penyanyi wanitanya masih mengenakan kebaya.

Foto: HW

Meski pun namanya musik keroncong, lagu-lagu yang dibawakan para peserta pun bukan lagu-lagu keroncong seperti yang dinyanyikan oleh Waljinah, Gesang atau maestro keroncong masa lalu seperti lagu-lagu “Rangkaian Melati”, “Bandar Jakarta”, “Keroncong Telomoyo”, “Selendang Sutra” dan lain sebagainya yang mendayu-dayu.

Para peserta menyanyikan dua buah lagu bertema anti korupsi, masing-masing satu lagu karya sendiri dan satu lagu lagi lagu wajib yang daftarnya disediakan oleh panitia. Maka terdengarlah lagu “Seperti Para Koruptor” karya Slank atau lagu “Wakil Rakyat”-nya Iwan Fals. Baik penyanyi maupun pemain yang umumnya anak-anak muda, enjoy memainkan musik mereka.

Para peserta juga mengaransemen lagu dengan lebih bebas, meski pun sentuhan musik keroncong dengan petikan gitar, contra bass (bass betot), petikan cello, biola, Cuk, Cuk, dan flute. Namun ada pula grup yang melengkapinya dengan alat musik gambang. Alhasil musik yang dihasilkan pun lebih ramai dan bervariasi.

Menurut Iwan Kresna, kebebasan bagi para peserta untuk menciptakan lagu dan memainkan musik keroncong yang lebih bebas, merupakan upaya untuk mengajak anak-anak muda menggemari musik keroncong. Sebab tidak dapat dipungkiri, dalam persepsi anak-anak muda, keroncong merupakan musik anak-anak muda yang terkesan “loyo”, kurang semangat dan tidak sesuai kemajuan jaman.

“Saya mengadakan ini pun tidak semuanya menyambut baik. Ada yang mengatakan saya merusak pakem keroncong. Merusaknya di mana? Kalau anak-anak saya suruh nyanyi keroncong tahun 40-an, ya bubar semua. Tapi kan dalam lomba juga ada yang dinyanyikan lagu-lagu lama. Ada lagu yang liriknya menggambarkan anti korupsi. Itu lagu tahun 1942,” kata mantan Ketua AMKRI (Asosiasi Musik Keroncong Indonesia) ini.

Dengan kebebasan yang diberikan dan tema yang dipilih dalam festival, ternyata sambutan anak-anak muda luar biasa, meski pun Pengamat Musik Bens Leo yang menjadi salah satu juri dalam festival ini menyayangkan tidak ada wakil dari Kota Solo.

“Kami dari tahun pertama sudah merasa kehilangan jejak dari kota keroncong Indonesia, Kota Solo. Dari tahun pertama tidak pernah ada peserta dari Solo. Solo juga dikenal sebagai tempat festival keroncong internasional, sejak Pak Jokowi. Kami prihatin Solo tidak ikut,” kata Bens Leo.

Namun yang menggembirakan, menurut Juri lainnya, Koko Thole festival ini ini sangat keren karena keroncong di bawah usia 20 sangat langka. Belum pernah ada.

“Biasanya anak muda tidak tertarik dengan keroncong karena keroncong dianggap musik yang tidak punya semangat. Padahal perjuangan di Indonesia ini dulunya diawali dengan lagu-lagu keroncong. Lagu-lagu langgamnya Pak Ismail Marzuki itu diiringi dengan musik keroncong,” kata Koko Thole.

Mengenai tema yang diusung, menurut Koko Thole sangat sesuai, karena musik keroncong adalah musik perjuangan, musik keroncong identik dengan perilaku baik, sehingga tepat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan seperti anti korupsi.

Musik keroncong itu itu tidak pernah ada yang seronok. Tidak ada penyanyi keroncong yang seronok. Tidak pernah ada orang yang setelah keroncong tawuran, karena isinya sarat dengan tuntunan. Penyanyi pun kerkebaya,” katanya.

Festival keroncong Sekolah Pilar Indonesia yang ke-3 ini diadakan secara mandiri oleh pihak sekolah tanpa ada bantuan dari pemerintah, pusat maupun daerah. Banyak sponsor, tetapi itu diperolah karena kedekatan pihak sekolah dengan pihak sponsor yang kebetulan anak-anak atau anggota keluarganya sekolah di sini.

Di tahun pertama Menko Polhuman Tedjo Edhy Purdjianto membantu dengan memberikan piala bergilir. Tetapi sejak beliau diganti, sekolah menyediakan sendiri piala untuk para pemenang. Pernah ada upaya untuk bertemu dengan Anies Baswedan ketika menjadi Mendikbud, tetapi juga tak pernah kesampaian karena ketika itu Mendikbud selalu sibuk.

“Sudah saatnya pemerintah turun tangan, jangan hanya ngomong ingin melestarikan ini-itu, tapi tidak ada buktinya. Pemerintah harus membantu event ini,” kata pemusik Didik SSS, yang juga menjadi Juri dalam acara ini.

 

 

 

Share This: