Melestarikan Budaya Betawi melalui Festival Palang Pintu

Dua pesilat memperlihatkan keahliannya berarung dalam Festival Palang Pintu di Kemang, Jakarta, Sabtu (6/5/2017) pagi. - Foto: HW
_

Dalam arti harfiah, palang pintu adalah septong kayu panjang untuk menghalangi daun pintu agar tidak bisa dibuka. Palang pintu digunakan ketika budaya kunci belum dikenal.

Rombongan mempelai pria menuju rumah mempelai wanita, dalam tradisi Betawi, ditampilkan dalam Festival Palang Pintu di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (6/5/2017) – Foto: HW

Kini kata palang pintu itu juga digunakan untuk para jago silat yang bertugas untuk menguji ketrampilan bermain silat dari pihak “lawan” yang akan datang untuk masuk ke wilayah tuannya. Yang dimaksud lawan di sini sebenarnya adalah calon besan yang membawa calon pengantin pria untuk melakukan lamaran.

Sebelum diijinkan masuk, pihak tuan rumah akan menguji dulu rombongan tamu dengan ilmu bela diri silat dan pembacaan ayat suci Al Qur’an. Pihak tamu biasanya akan membawa beberapa orang pesilat, sebaliknya tuan rumah juga sudah menyiapkan beberapa pesilat tangguh.

Setelah menerima salam dari tamu yang datang, protokol tuan rumah akan menguji pihak tamu dengan beberapa pertanyaan yang disampaikan dengan cara berpantung. Pihak tamu pun membawa seorang ahli pantun untuk menjawab pertanyaan tuan rumah. Fase berikutnya adalah ujian keahlian beladiri untuk rombongan besan.

Tuan rumah akan mengijinkan tamu masuk bila ahli-ahli silat yang dibawanya mengalahkan tuan rumah.Tantangan itu diterima, sehingga terjadilah pertarungan silat yang seru oleh para pesilat dari masing-masing pihak. Tidak hanya tangan kosong, senjata tajam jenis golok pun di keluarkan, sehigga perkelahian semakin seru.

Biasanya pesiat tuan rumah akan kalah, atau sengaja mengalah, agar pihak besan bisa masuk. Dan ujian terakhir adalah permintaan dari tuan rumah, agar rombongan besan membacakan shalawat. Pihak besan tentu saja sudah menyiapkan seorang pembaca shalwat yang bersuara merdu, sehingga membuat tuan rumah terkesima. Setelah itu uian dianggap selesai, dan rombongan besan dipersilahkan masuk.

Itulah adat masyarakat Betawi dalam ketika bebesanan. Tradisi itu belakangan ini mulai jarang terlihat, karena dinilai kurang praktis oleh masyarakat Betawi yang ingin praktis dan tidak memiliki biaya berlebih.

Untuk melesatarikan Budaya Betawi itu organisasi masyarakat Forkabi, menggelar Festival Palang Pintu yang diadakan di sepanjang jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan.

Tahun ini Festival Palang Pintu diadakan untuk yang ke-12 kalinya, selama dua hari, yakni tanggal 6 – 7 Mei 2017. Selama festival berlangsung, jalan Kemang Raya yang membentang mulai dari TPU Kemang hingga ke Jalan Kemang Selatan ditutup untuk kendaraan. Di kiri kanan jalan berdiri stand-stand berbagai macam dagangan, mulai makanan, produk kerajinan, pakaian, produk kecantikan dan lain sebagainya. Dan di ujung jalan, dekat Jalan Kemang Selatan, berdiri sebuah panggung untuk menampilkan berbagai atraksi.

Kemang merupakan kawasan asli Betawi yang telah lama berubah. Di sepanjang Jalan Kemang Raya hingga ke Jalan Bangka, telah tumbuh pusat bisnis kuliner, hotel, kafe-kafe yang konsumennya tentu saja bukan masyarakat Betawi.

Melalui Festival Palang Pintu ini diharapan masyarakat expratriat yang banyak tinggal di kawasan Kemang dan sekitarnya atau para pendatang yang tinggai di Kemang, bisa mengetahui Budaya Betawi.

Ke depan, Budaya Betawi akan memberi warna pada berbagai tempat dan kehidupan masyarakat di Jakarta. Sejak dikeluarkannya Perda No.4/tahun 2016, maka Budaya Betawi secara resmi dijadikan sebagai budaya daerah.

“Nanti hotel-hotel, gedung-gedung pemerintahan, akan memakai ornamen Betawi. Mungkin di depan hotel akan ada ondel-ondel, di kafe-kafe akan disediakan bir pletok dan camilan khas Betawi seperti kembang goyang, kue cucur, kue untuk, geplak dan sebagainya,” kata Ketua Bamus Betawi H. Zainuddin, ketika memberi sambutan dalam Festival Palang Pintu

Perda No.4 tahun 2016 yang berisi 49 pasal antara lain mengatur tentang pelestarian kebudayaan Betawi yang diselenggarakan melalui pendidikan, pengembangan, pemanfaatan, pemeliharaan, pembinaan dan pengawasan.

Perda tersebut juga menyebutkan kalau pemerintah daerah dan masyarakat wajib melakukan pelestarian kebudayaan Betawi yang dianggap hampir punah. Pemerintah daerah juga diminta untuk menetapkan kebijakan untuk melakukan pembinaan, pengawasan, pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pelestarian kebudayaan Betawi dan menetapkan kawasan kebudayaan Betawi.

Sementara itu, masyarakat juga berhak memberikan masukan kepada pemerintah daerah dalam upaya pelestarian kebudayaan Betawi. Industri kecil kerajinan dan makanan khas Betawi juga wajib dikembangkan.

Perda yang ke luar di masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, ni untuk menguatkan apa yang sudah dilakukan pemerintah beserta masyarakat DKI. Hanya saja, selama ini dasar hukumnya belum jelas.

“Hotel-hotel semua sudah lakukan (pelestarian) soal souvenir, soal kebudayaan, itu semua sudah dilakukan. Dulu orang juga tidak ada kewajiban untuk menjual souvenir khas Betawi, dengan Perda ini kita akan lebih kuat untuk melakukannya,” ujar Ahok.

Selain bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Betawi, pengesahan Perda ini juga bertujuan untuk mengembangkan pariwisata. Budaya Betawi dianggap sebagai modal dasar atau aset yang sangat penting dan strategis untuk mengembangkan prospek pariwisata Jakarta.

Di saat semakin terpinggirkannya identitas Betawi dalam kehidupan masyarakat di Jakarta, lahirnya Perda tersebut menjadi angin segar bagi kebangkitan Betawi, yang sudah sejak lama “kalah” dalam persaingan politik dan ekonomi di tanah kelahirannya sendiri.

Identitas kebetawian diharapkan akan memberi kesadaran baru bagi masyarakat Betawi Jakarta dan sekitarnya, bahwa persaingan itu sulit dimenangkan jika hanya mengandalkan fanatisme kesukuan, ego kedaerahan atau nostalgia masa lalu belaka.

Masyarakat Betawi harus mempersiapkan diri untuk bersaing, bertarung dalam kehidupan di ibukota yang semakin keras, jika tidak mau hilang dari tanah kelahirannya sendiri.

Share This: