Melihat Pasar Terapung Lok Baintan 

Para wanita melakukan aktivitasnya di atas perahu, di Pasar Terapung Lok Baintan, Martapura, Kalimantan Selatan. (Foto-foto: HW)
_

 

Para wanita melakukan aktivitasnya di atas perahu mereka, di Pasar Terapung Lok Baintan, Martapura, Kalsel. (Foto-foto: HW)

Salah satu obyek wisata yang cukup terkenal di Kalimantan Selatan adalah Pasar Terapung Lok Baintan. Pasar Terapung Lok Baintan atau Pasar Terapung Sungai Martapura adalah sebuah pasar terapung  tradisional yang berlokasi di desa Sungai Pinang (Lok Baintan), kecamatan Sungai Tabuk, Banjar.

Tiga tahun lalu, Oktober 2013, penulis bersama beberapa teman yang sedang membuat TV Magazine untuk sebuah kementerian, menyempatkan diri datang ke Lok Baintan. Pembuatan TV Magazine sendiri mengangkat tentang bebek alabio, yang berada di Kampung Alabio, Desa Mamar, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.

Selesai melakukan pengambilan gambar di Desa Mamar, penulis dan dua jurukamera menuju Danau Panggang, di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, yang menjadi habitat kerbau rawa. Dari sana, sekitar pukul 19.00 langsung berangkat menuju Kota Martapura, yang dikenal sebagai penghasil berlian.

Untuk menuju pasar terapung Lok Baintan dari pusat kota bisa ditempuh dengan dua alternatif. Alternatif pertama menyusuri Sungai Martapura dengan menggunakan klotok, sejenis sampan bermesin. Dengan klotok, perjalanan dari pusat kota menuju pasar terapung terbilang cepat karena membutuhkan waktu 30 menit. Alternatif kedua dengan menggunakan kendaraan darat seperti mobil. Namun, untuk alternatif kedua membutuhkan waktu lebih panjang yakni satu jam untuk mencapai pasar terapung. Hal itu disebabkan medan perjalanan yang cenderung berat dan berliku-liku. 

Kami menginap di sebuah hotel kecil di Martapura. Setelah Subuh, kami langsung berangkat menuju Lok Baintan. Perjalanan ke Lok Baintan menyusuri perkampungan, melewati jalan kecil yang hanya bisa dilewati oleh dua mobil kecil. Itu pun harus mengurangi kecepatan bila berpapasan. Udara masih berkabut.

Sekitar pukul 06.00 kami sampai di tepi sungai di sebuah kampung. Di sana ada beberapa perahu yang tertambat di dermaga kecil. Perahu-perahu itu disewakan untuk wisatawan yang akan melihat Pasar Terapung Lok Baintan. Kami memilih sebuah perahu. Setelah sepakat dengan harga sewa, kami berangkat dengan perahu bermesin itu menelusuri sungai Pinang.

Sekitar 15 menit perjalanan, sampailah kami di badan sungai yang lebar. Di sana sudah banyak perahu yang berkumpul. Itulah Pasar Terapung Lok Baintan. Kami mendekati kumpulan perahu itu. Di atas perahu ternyata terjadi aktivitas yang menarik untuk dilihat.

Perahu ini milik pedagang dan petani yang akan memasarkan hasil kebun mereka. Mereka berasal dari berbagai anak Sungai Martapura, seperti Sungai Lenge, Sungai Bakung, Sungai Paku Alam, Sungai Saka Bunut, Sungai Madang, Sungai Tanifah, dan Sungai Lok Baintan.

Banyak perahu yang berisi buah-buahan maupun sayur mayur. Ada pula yang berisi bahan-bahan pokok kebutuhan sehari-hari, di perahu yang lain ada wanita yang sedang membuat gorengan di kompor yang terus menyala. Beberapa lelaki terlihat membeli gorengan dari perahu mereka – tanpa turun dari perahu – dan menikmati gorengan sambil minum kopi.

Sebagaimana layaknya pasar, terjadi aktivitas jual-beli yang ramai. Satu perahu bergerak mendekati perahu lainnya, dan pemiliknya melakukan jual beli. Beberapa wanita lain memegang piring, menikmati sarapan mereka di atas perahu. Yang menarik, hampir semua wajah wanita yang beraktivitas di Lok Baintan itu diolesi oleh pupur berwarna putih. Nyaris hanya mulut dan mata mereka yang terlihat. Konon itu adalah pupur tradisional pelindung wajah mereka dari sengatan matahari.

Pasar Lok Baintan merupakan obyek foto menarik bagai kalangan fotografer. Kami melihat ada beberapa fotografer yang asyik mengarahkan kamera mereka ke arah perahu-perahu yang ada di sana. Ada pula turis asing.

Sekitar pukul sembilan, aktivitas di Lok Baintan mulai berkurang. Perahu-perahu meninggalkan “pasar” menuju tempat asal masing-masing. Ada pula perahu-perahu yang kembali bersamaan: sekitar 3 – 4 perahu ditarik oleh sebuah perahu yang lebih besar. Kami kembali degnan perahu yang kami sewa ke dermaga asal tempat perahu bertambat. Selama perjalanan menuju dermaga, kami juga sering berpapasan dengan perahu-perahu lain. Perahu merupakan moda transportasi penting di Kalimantan Selatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: