Memahami Pertikaian Ojek Online dan Opang

Ojek online menunggub penumpang di Pangkalan Ojek biasa, di Tebet, Jakarta Selatan. (Foto: HW)
_

Akhir-akhir ini perseteruan antara angkutan umum regular dengan angkutan berbasis aplikasi marak terjadi di mana-mana. Di beberapa tempat bahkan sampai menjurus ke pertikaian fisik yang membahayakan jiwa. Masing-masing membawa kelompoknya untuk menyerang yang lain, merasa paling benar dan paling berhak untuk mencari rejeki dengan menjual jasa sebagai pengemudi.

Yang paling dirugikan dari perseteruan itu adalah masyarakat, konsumen pengguna angkutan umum, terutama masyarakat yang belakangan mulai terbiasa menggunakan angkutan berbasis aplikasi. Dengan adanya pertikaian itu, banyak angkutan berbasis aplikasi – terutama ojek online – yang tidak berani beroperasi, karena sering dimusuhi, bahkan diserang oleh ojek-ojek pangkalan.

Keberadaan ojek online memang sangat membantu masyarakat yang memerlukan angkutan murah, aman dan terpercaya. Begitu pula dengan angkutan roda empat berbasis aplikasi. Pengguna cukup membuka aplikasi ojek / taksi online yang ada di telepon genggam, menuliskan tempat penjemputan dan alamat tujuan, maka tidak lama lagi kendaraan yang diminta akan segera datang. Harganya pun sudah tertera di situ, sehingga tidak perlu lagi tawar-menawar dengan sang pengemudi, seperti kita ingin menggunakan ojek non aplikasi yang biasa mangkal.

Soal keamanan juga lebih terjamin menggunakan kendaraan beraplikasi karena data si pengemudi jelas tercatat, dan bila terjadi sesuatu akan lebih muda melacaknya. Tinggal hubungi operator perusahaan ojek / taksi online yang bersangkutan, maka akan terlacak dengan cepat nomor kendaraan hingga nama pengemudi yang mengantar penumpangnya.

Baru-baru ini saya baru saja mengalami kejadian kecil. Saya ketinggalan tablet mini di taksi aplikasi yang penulis gunakan bersama beberapa teman lain, dari kawasan Kuningan ke SCBD Semangi, sekitar pukul 20.30. Saya baru sadar tablet tertinggal ketika mau memesan lagi taksi aplikasi untuk pulang. Itu dua setengah jam berlalu setelah saya dan teman-teman menggunakan taksi aplikasi ketika mengantar dari Kuningan ke SCBD.

Akhirnya saya menghubungi operator perusahaan taksi aplikasi bersangkutan. Setelah memberi keterangan seperti yang diminta, akhirnya operator menemukan nomor kendaraan dan sopir yang mengemudikannya. Tablet itu aman, karena setelah mengantar saya dan teman-teman, sopir itu langsung pulang. Dia mengaku menemukan tablet milik saya ketika ingin membersihkan mobil. Esoknya tablet itu dikembalikan.

Kendaraan umum berbasis aplikasi juga sangat membantu bagi penghuni kompleks perumahan, karena bisa menjemput dan mengantar sampai di depan rumah. Berbeda dengan ojek pangkalan misalnya, yang harus didatangi ke pangkalannya. Itu pun kita harus pandai-pandai menawar untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan isi kantong. Ketika belum ada ojek online, ojek-ojek pangkalan di Jakarta menerapkan tarif yang tinggi. Terlebih bila jalan sedang padat.

Sejak adanya angkutan berbasis aplikasi, ojek terbagi menjadi dua kelompok, yakni ojek online dan ojek pangkalan. Awalnya keberadaan ojek online tidak dipermasalahkan oleh ojek pangkalan. Tetapi setelah sebagian besar masyarakat beralih ke ojek online, bibit-bibit konflik mulai muncul. Mulai ada penolakan-penolakan ojek pangkalan terhadap ojek online. Di banyak tempat muncul spanduk yang melarang ojek online untuk beroperasi di situ.

Belakangan tidak hanya larangan atau peringatan dalam spanduk, muncul juga gesekan-gesekan fisik, karena tetap saja banyak ojek online yang masuk di wilayah operasi ojek pangkalan. Persoalannya karena banyak pengemudi ojek online yang tidak tahu adanya larangan itu, karena datang dari tempat yang jauh. Seorang pengemudi ojek online dari Bogor misalnya, bisa beroperasi di Jakarta. Wilayah operasi ojek online memang tidak terbatas, berbeda dengan ojek pangkalan yang seperti memiliki wilayah operasi tertentu.

Penolakan terhadap pengemudi ojek pangkalaan (Opang) terhadap ojek online memang sangat merugikan pengguna ojek online. Terutama konsumen yang tinggal di komplek-komplek perumahan yang jauh dari jalan raya. Bayangkan, bila harus menggunakan ojek pangkalan, harus jalan dulu dari rumahnya yang terletak jauh di dalam komplek, ke pangkalan ojek yang biasanya berada di depan gang atau gerbang komplek perumahan. Pengelola perumahan biasanya melarang Opang mangkal di dalam komplek perumahan.

Saya juga merasakan dampak perseteruan antara Opang dengan ojek online. Beberapa kali ojek online yang dihubungi minta dibatalkan karena tidak berani masuk ke dalam perumahan, walau pun sudah malam. Kadang ada yang berani, tetapi dengan menanggalkan atribut perusahaan ojek yang biasa dipakainya, seperti jaket dan helm.

Seperti kebanyakan konsumen ojek online lainnya, saya juga sempat apriori terhadap Opang. karena ada Opang yang berani memberhentikan ojek online yang ditumpangi oleh wanita, dan meminta pengemudi ojek tidak masuk ke dalam komplek perumahan, dan membiarkan penumpangnya berjalan kaki ke rumahnya di dalam komplek.

Tetapi menyimpan prasangka dan kebencian terus-menerus juga tidak baik. Saya juga ingin mengetahi mengapa Opang bersikap seperti itu. Mengapa terkesan otoriter, sombong dan barbar, mengapa mereka tidak mendaftar saja menjadi pengemudi ojek online daripada bersaing secara tidak sehat dan bersikap otoriter.

Rabu (22/3) kemarin, ketika mau mengambil barang di rumah teman di kawasan Karadenan, Bogor, saya sengaja naik Opang yang ada di pintu keluar stasiun Bojonggede. Setelah tawar menawar harga akhirnya saya setuju naik Opang tersebut. Memang lebih mahal daripada harga ojek online, tapi demi menggali keterangan yang dibutuhkan, rasanya jadi tidak mahal.

Sang pengemudi bernama Yadi, penduduk asli Bojonggede berumur sekitar 50 tahun, sehingga dia bisa menceritakan perkembangan Bojonggede dari tahun ke tahun. Dari stasiun Bojonggede ke Karadenan dia memilih rute melalui Kampung Galonggong yang masih agak asri, melewati jalan yang sudah dicor, tetapi masih bisa ditemui rerimbunan pohon bambu di pinggir kali Ciliwung. Untuk menyeberangi kali Ciliwung, ada jembatan gantung yang dasarnya dibuat dengan papan.

Ternyata asyik juga berbicara sambil jalan dengan Yadi. Dia mengaku sebelum mengojek bekerja serabutan. Tetapi kini memilih untuk menjadi pengojek saja, mengingat tenaganya sudah tidak terlalu kuat untuk bekerja berat. Karena dengan mengojek dia bisa mengatur jam kerjanya sendiri. Setiap hari ia ke luar dari rumahnya yang terletak di belakang Stasiun Bojonggede pukul 07.00. Pukul 12.00 ia kembali ke rumah untuk istirahat, dan ke luar lagi pukul 13.00 sampai pukul 22.00. Dari jam kerja yang diaturnya itu ia mengaku dapat penghasilan rata-rata Rp.100 ribu per hari.

Penghasilannya itu menurut Yadi sudah jauh berkurang dibandingkan dulu ketika belum ada ojek online. “Kalau dulu kan kita suka dapat tarikan ke Sentul atau ke Pasar Parung. Sekali tarik hasilnya lumayan, bisa dapet limapuluh ribu atau seratus ribu. Sejak ada ojek online enggak ada lagi tarikan yang jauh, semua penumpang udah lari ke ojek online,” kata Yadi.

Ketika ditanya mengapa tidak mendaftar saja menjadi pengemudi ojek online, Yadi mengaku tidak tertarik, karena dengan menjadi pengojek online dia harus bekerja mengejar target, mengambil dan mengantar penumpang ke tempat-tempat yang jauh, yang kadang asing baginya. Secara fisik menurutnya juga sangat berat bekerja sebagai pengojek online.

Persoalan lain, jika mendaftar jadi pengojek online, tidak bisa lagi masuk ke pangkalan. Para pengojek pangkalan akan menolaknya meski pun rata-rata sudah kenal, dan bahkan ada saudaraya di sana. “Banyak temen-temen yang jadi ojek online, begitu mau kembali ke pangkalan enggak dikasih,” katanya.

Mengapa Opang melarang ojek online mengambil penumpang di dekat pangkalan Opang, menurut Yadi, karena jika diperbolehkan maka semua calon penumpang akan beralih ke ojek online.

“Awalnya dulu dikasih, tapi kita jadi enggak kebagian penumpang. Semuanya lari ke dia (ojek online). Kan lama-lama kita jadi kesel ngelihatnya. Ya biar bagaimana juga perasaan kita terganggu. Akhirnya temen-temen di pangkalan sepakat melarang ojek online,” tutur Yadi.

Menjadi pengojek pangkalan merupakan pekerjaan yang paling memungkinan bagi orang-orang sepertinya. Apalagi di wilayahnya tempat tinggalnya sekarang sudah penuh dengan perumahan. Tidak ada lagi masyarakat yang bekerja sebagai petani, karena sudah tidak memiliki tanah luas.

Bagi Yadi dan beberapa temannya, menjadi Opang merupakan pekerjaan satu-satunya yang bisa dilakoni untuk menyambung hidup. Dia bersama teman-temannya bertekad mempertahankan sumber hidupnya itu apapun resiko yang harus dihadapi.

“Kalau saya ini kan jadi pengojek memang bener-bener buat cari makan ya. Tapi kan kalau ojek online ada yang sambilan. Ada orang yang udah punya kerjaan tetap, terus dia ngojek online buat cari tambahan. Dan kebanyakan juga orang dari daerah yang jadi ojek online,” kata Yadi.

Yadi tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan menjadi pengojek, dan berapa lama lagi bertahan dari desakan ojek online yang semakin banyak. Tiap hari jumlah pengojek online terus bertambah, karena banyak penganggur dari daerah yang datang ke Jakarta atau kota-kota di sekitarnya untuk mencari hidup dengan menjadi pengojek online – jenis pekerjaan yang relatif mudah diperoleh. Bahkan warga Jakarta dan sekitarnya yang belum mendapat pekerjaan atau kehilangan pekerjaan, juga memilih menjadi pengojek online.

Pemerintah sendiri nampaknya gamang menghadapi fenomena itu. Membuat peraturan sesuai perundang-undangan, seperti ketika Ignasius Jonan menjadi Menteri Perhubungan, akan menutup peluang kerja banyak orang. Membiarkan situasi dan kondisi ini berlarut-larut, ancaman konflik yang lebih besar sudah menunggu. Seperti makan buah simalakama.

 

 

 

 

Share This: