“Membabi Buta”: Merebut Tahta Dendam

Adegan film "Membabi Buta" (SAS Film)
_

Sebuah rumah permanen kelas menengah yang tidak terlalu modern, nampak tenang, sejuk dengan pohon besar di halamannya, menyimpan misteri amat mengerikan. Pemilik rumah, seorang janda berusia di atas 60 tahun, seperti ningrat Jawa, tetapi cacat mata kanannya. Ia tinggal bersama adik kandungnya, wanita cantik yang tidak menikah hingga melewati usia 50 tahun, yang nampak anggun dengan kebaya, dan selalu berusaha menyembunyikan kedengkian dalam hatinya.

Rumah itu jarang dibuka pintu maupun jendelanya, kecuali pembantu rumahtangga ke luar untuk menyapu halaman. Setelah itu tuan rumah memintanya untuk segera masuk. Bahkan ketika seorang lelaki paruh baya berseragam pegawai negeri datang dengan sepeda ontelnya untuk menitipkan makanan, adik pemilik rumah yang perawan tua itu berpesan dengan ketus kepada pembantunya agar tidak melayani siapa pun yang datang, dan kemudian melempar begitu saja makanan titipan dalam rantang ke halaman, setelah si pemberi pergi.

Sikap pemilik rumah yang dipanggil Ndoro oleh Mariatin pembantu yang baru beberapa hari bekerja di rumah itu sangat kasar. Ia sering bersikap kasar ketika Mariatin melayaninya saat membersihkan badan maupun di meja makan.

Mariatin, mulai merasakan keanehan-keanehan di rumah besar yang selalu tertutup itu. Di malam hari ia mulai mendengar suara-suara aneh seperti perabot yang berbunyi karena terbentur, jeritan seorang perempuan, dan tembang Megatruh dari piringan hitam yang berbunyi. Megatruh adalah tembang mistik yang secara harfiah berarti memutus roh.

Tidak hanya mendengar suara-suara, Mariatin pun mulai mengalami sendiri kejadian-kejadian aneh. Antara lain memergoki orang bertopeng di dalam rumah yang kemudian berusaha membunuhnya.

Hari berikutnya ia melihat anaknya, Asti, tercebur di kolam renang pemilik rumah, sementara pintu ke luar terkunci, sehingga anaknya nyaris tewas jika ia tidak memaksa membuka pintu.

Suasana mencekam dan gambaran sadistis itu terdapat dalam film Membabi Buta, produksi SAS Film, yang disutradarai oleh Joel Fadli. Ini merupakan film pertama Joel Fadli, yang selama ini lebih banyak menggarap sinetron.

Membabi Buta merupakan sebuah film yang mengikuti tren pembuatan film di Indonesia saat ini. Lokasi yang terbatas hanya di dalam rumah dengan jumlah pemain minimalis. Melalui keterbatasan itulah sutradara berusaha mengeksplorasi berbagai elemen yang ada di dalamnya, baik artistik, karakter dan akting pemain, musik maupun unsur-unsur dramatik yang ada dalam skenario.

Yang membedakan film bergenre thriller karya Joel Fadli dengan banyak film yang sudah dibuat adalah, dalam ilustrasi musik maupun sound effect. Nyaris tidak terdengar efek suara mengagetkan karena volume yang tiba-tiba besar. Musik dalam film ini justru terdengar lembut, lirih dan menggiring ke dalam suasana yang miserius. Apalagi tembang megatruh yang berulangkali terdengar. Selain menjadi bagian dari isi cerita, tembang ini sekaligus berfungsi sebagai ilustrasi musik.

Joel Fadli yang selama ini juga berperan sebagai seorang Penata Fotografi berhasil membuat gambar-gambarnya “berbicara”, dengan menangkap elemen-elemen artistik yang terdapat dalam rumah.

Film yang diangkat dari cerita karya almarhum Kim Kematt ini cukup lama membiarkan penonton bertanya-tanya, apa motif sebenarnya yang membuat Sulasemi (Lenny Charlotte) demikian sadisnya. Melalui tokoh Mariatin (Prisia Nasution), penonton bahkan diajak untuk menyaksikan kesadisan Sulasemi, tuan rumah bermata cacat itu yang dengan sadis menyiksa seorang pembantu di bawah tanah rumahnya.

Melalui tokoh Sulasemi, film ini berhasil menyodorkan gambaran sadistis yang bisa membuat jantung berdegup keras. Ada seorang perempuan dengan tangan terikat berlumuran darah – itu adalah pembantu lama Sulasemi – dan dua ekor babi di kandang, bersebelahan dengan tempat pembantu rumahtangga itu terikat.

Lihatlah bagaimana cara Sulasemi menyiksa pembantunya di gudang bawah tanah, meski penggunaan kapak besar yang kerap dibawa dengan diseret-seret oleh Sulasemi – karena berat – terkesan agak berlebihan.

Meski pun tidak digambarkan secara jelas, tetapi golok besar yang berkelat dari tangan Sulasemi, jeritan sang pembantu, dan benda yang dilempar ke kandang babi lalu dimakan oleh dua ekor babi itu,kita tahu apa yang baru saja terjadi.

Misteri di dalam rumah itu mulai terbuka, setelah Mariatin terlibat perkelahian dan berhasil membuka kedok Sundari (Ivanka Suwandi), adik kandung Sulasemi yang menjadi perawan tua. Dan pertanyaan tentang motif Sulasemi bersama adiknya akhirnya terjawab.

Dalam mimpinya Mariatin melihat kekejaman seorang pembantu yang menyiksa anak gadis majikannya hingga membuat cacat mata sang anak. Gadis itu adalah Sulasemi. Jadi Sulasmi melakukan perbuatan biadab terhadap pembantunya karena didasari dendam masa lalu.

Film ini ditutup dengan adegan Mariatin yang berpenampilan anggun dengan kebaya, sedang dibersihkan kakinya oleh seorang pembantu, di atas kursi yang dulu diduduki oleh Sulasemi. Adegan ini seolah memberi pesan, tahta bisa berganti, kekerasan bisa diwariskan. Mariatin yang dulu menerima perlakuan zalim, kini bersikap yang sama terhadap pembantunya. Ia telah merebut tahta dendam dari majikannya.

Share This: