Memperkenalkan Keindahan Makassar ke Dunia Melalui “F8”

_

Makassar merupakan sebuah kota pesisir yang sudah dikenal oleh pelaut-pelaut dan saudagar-saudagar dunia sejak masa lampau. Pada abad ke-16  Makassar menjadi pusat perdagangan yang dominan di Indonesia Timur, sekaligus menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tengara. Raja-raja Makassar menerapkan kebijakan perdagangan bebas yang ketat, di mana seluruh pengunjung ke Makassar berhak melakukan perniagaan disana dan menolak upaya VOC Belanda untuk memperoleh hak monopoli di kota tersebut.

Nama Makassar sudah disebutkan dalam pupuh 14/3 kitab Nagarakartagama karya Mpu Prapanca pada abad ke-14, sebagai salah satu daerah taklukkan Majapahit. Walaupun demikian, Raja Gowa ke-9, Tumaparisi Kallona (1510-1546) diperkirakan adalah tokoh pertama yang benar-benar mengembangkan kota Makassar. Ia memindahkan pusat kerajaan dari pedalaman ke tepi pantai, mendirikan benteng di muara Sungai Jeneberang, serta mengangkat seorang syahbandar untuk mengatur perdagangan. 

Makassar menjadi pusat yang penting bagi orang-orang Melayu yang bekerja dalam perdagangan di Kepulauan Maluku dan juga menjadi markas yang penting bagi pedagang-pedagang dari Eropa danArab.Semua keistimewaan ini tidak terlepas dari kebijaksanaan Raja Gowa-Tallo yang memerintah saat itu (Sultan Alauddin, Raja Gowa, dan Sultan Awalul Islam, Raja Tallo).

Kontrol penguasa Makassar semakin menurun seiring semakin kuatnya pengaruh Belanda di wilayah tersebut dan menguatnya politik monopoli perdagangan rempah-rempah yang diterapkan Belanda melalui VOC. Pada tahun1669, Belanda, bersama dengan La Tenri Tatta Arung Palakka dan beberapa kerajaan sekutu Belanda Melakukan penyerangan terhadap kerajaan Islam Gowa-Tallo yang mereka anggap sebagai Batu Penghalang terbesar untuk menguasai rempah-rempah di Indonesia timur. Setelah berperang habis-habisan mempertahankan kerajaan melawan beberapa koalisi kerajaan yang dipimpin oleh belanda, akhirnya Gowa-Tallo (Makassar)terdesak dan dengan terpaksa menanda tangani Perjanjian Bongaya.

Kota Makassar, dari 1971 hingga 1999 secara resmi dikenal sebagai Ujung Pandang. Kota metropolitan terbesar di kawasan Indonesia Timur ini adalah ibukota provinsi Selatan. Dan pada masa lalu pernah menjadi ibukota Negara Indonesia Timur dan Provinsi Sulawesi.

Makassar merupakan representasi dari wajah Sulawesi Selatan, yang dikenal memiliki kekayaan adat dan budaya. Suku Bugis yang menjadi mayoritas di Sulawesi Selatan diketahui memiliki adat istiadat yang kaya dan kuat.

Untuk memperkenalkan adat dan budaya Sulawesi Selatan kepada masyarakat dunia, Pemerintah Kota Makassar tahun ini menyelenggarakan  Makassar Internasional Eight Festival (F8) and Forum 2017 pada 8-10 September 2017.  Ini merupakan ajang untuk menunjukkan kepada masyarakat Indonesia dan Dunia, bahwa Sulawesi Selatan merupakan destinasi menarik yang kaya akan daya tarik alam, budaya, serta daya rarik wisata buatannya.

“Pemilihan nama F8, ini merupakan simbol kecepatan kita untuk memahami dan menampilkan kekayaan adat dan budaya yang luar biasa melalui kegiatan ini,” ungkap Walikota Makassar, Mohammad Ramadhan Pomanto di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (9/5/2017).

Penyelenggaran di tahun kedua ini, merupakan salah satu event internasional ini menjadi luar biasa bagi Makassar. Mengingat tahun lalu kegiatan tersebut dihadiri oleh 300 ribu peserta dari 22 negara partisipan mulai dari Amerika, India, Slovania, Pakistan, hingga Swiss , 47 partisipan dari kabupaten dan kota yang hadir. Oleh karena itu, kegiatan di tahun ini pun telah dipersiapkan secara matang konsep acara yang lebih baik lagi.

 

Walikota Makassar pun menerangkan, untuk F8 tersebut antara lain, Fashion, untuk fashion pada kegiatan F8 ini akan  meampilkan designer lokal dan internasional, dimana nantinya para designer tersebut akan mengeksplore batik lontra yang merupakan batik khas Makassar.

Pada kegiatan tersebut akan menampilkan beberapa makanan khas Makassar juga akan ada beberapa kegiatan seperti Phinisi Dining Experience, Waterfront Cafe, Traditional Food Vaganza, SeaSidr Market Place, dan Waterfront Food Festival.

Lalu ada Fiction Writer & Font, merupakan salah satu kegiatan kesusastraan seperti membaca puisi, kegiatan membaca beberapa cerita pendek, kegiatan mendongeng hingga kontes menulis “A Love letter to Makassar”.

Kegiatan lainnya adalah Fine Arts, ajang untuk mengeksplore seluruh seniman Makassar dan masyarakat Indonesia serta dunia yang punya banyak talenta melukis dengan bermacam media.  Selain itu akan ada 1000 siswa SMP dan SD yang akan memainkan musik khas Makassar, dalam sub event Folk.

“Di Makassar banyak seniman besar dan akan menunjukkan pada acara ini. Punya banyak karya seni yang kurang secara promosi tapi punya banyak kreativitas, kita berikan panggung internasional. Kita akan kembali gali potensi budaya yang hampir hilang,” kata Mohammad Ramdhan.

Sesi Fusion Music, Flora & Fauna, dan Film akan menjadi ajang untuk membangkitkan sineas Makassar mengingat beberapa film dari sineas tersebut ada yang menembus box office.

“Tahun ini kegiatan kita berbeda dimana tahun ini, kita tidak hanya berfokus di darat saja tapi tahun ini ada juga di laut, mulai dari kegiatan Fashion show water front yang tahun ini jauh lebih siap, kemudian kegiatan internasional ada Fly board, kejuaraan jetski, yang nantinya event tersebut berlangsung di sepanjang Pantai Losari,” bebernya.

Untuk kegiatan F8 yang digelar dari 8-10 September tahun ini, pihak pemerintah Makassar telah menargetkan akan ada 100 negara yang hadir pada acara ini.

 

Share This: