Mencari Keindahan di LA

_

Setiap kali mendengar singkatan LA, pikiran kita pasti akan tertuju pada sebuah kota megapolitan di Amerika, Los Angeles. LA sangat terkenal di dunia karena di kota itulah terdapat pusat industri film Amerika, Hollywood, yang telah berdiri sejak tahun 1917, kemudian menjajah dunia puluhan tahun, sampai hari ini.

Tapi jangan salah, di Indonesia, tepatnya di Jakarta Selatan, ada pula tempat yang disebut LA (Lenteng Agung). Sebutan LA ini bisa jadi dipopulerkan oleh mahasiswa Insitut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Lenteng Agung, bukan oleh masyarakat setempat. Sebab merekalah, kaum terdidik itu yang lebih paham LA di Amerika, karena suka menonton dan membaca. Sampai sekarang alumni IISIP masih menyebut kampus mereka dengan sebutan LA 32. Angka 32 mungkin diambil dari nomor alamat kampus.

Keindahan di LA

Akhir-akhir ini kawasan di sekitar LA 32 menjadi topik menarik, terutama sejak munculnya berita pengecatan atap rumah warga. Rumah-rumah yang dicat persis berada di sebelah flyover (FO) Tapal Kuda yang terletak di depan Kampus IISIP.

Menurut kabar beredar menghabiskan biaya Rp.100 milyar lebih.

Saya sendiri belum dapat data resminya.
Menurut Lurah Lenteng Agung Bayu Pasca Soengkono untuk mewarnai atap rumah warga menghabiskan 8.000 kaleng cat, hasil sumbangan (CSR – corporate social responsibility) PT. Propan.

Pengecatan rumah-rumah warga di LA sudah berlangsung pada Novemver / Desember 2020 lalu. Beberapa media juga sudah memberitakan. Karena berita-berita media itulah teman saya yang fotografer, Dudut Suhendra,  pada 17 Desember 2020 menghubungi saya, mengajak melihat lokasi perkampungan yang dicatisasi.

Apanya yang indah?

Pada tanggal 20 Desember kami ke LA. Naik kereta commuterline dari tempat tinggal masing-masing, lalu bertemu di Stasiun KA LA. Atas petunjuk Polsuska, kami berjalan kaki dari stasiun menuju lokasi di dekat kampus IISIP.

Pedagang gorengan yang ada di ujung gang persis di sebelah kampus IISIP memberitahu bahawa rumah-rumah di dalam gang itulah yang dicat.

Kami masuk menelusuri gang-gang yang ada di kawasan perumahan kampus IISIP, sambil membayangkan kehidupan teman-teman kami para warakwuri wartawan saat ini, ketika masih kuliah di IISIP dan kos di rumah-rumah yang ada di situ. Dalam lamunan, saya mencium bau ganja dan alkohol, di samping deru suara mesin tik dan diskusi intelektual tentunya.

Pernah juga saya ke tempat itu menjelang tahun 90-an ketika mengantar teman wartawan yang adiknya juga kos di situ. Suasananya ramai ketika itu.

Ketika kami masuk gang, tembok panjang Kampus IISIP sudah digambari dengan cat, tetapi gambar-gambar terkesan asal jadi, kurang menarik. Kami terus mencari rumah-rumah yang dicatisasi, saya membayangkan akan melihat suasana perkampungan seperti Kampung Jodipan, Malang. Tetapi setelah menelusuri gang demi gang, bahkan sempat balik lagi ke tempat yang sama, suasana yang kami cari tidak ketemu.

“Yang dicat atapnya Pak. Kalau mau lihat harus dari flyover,” kata seorang warga

“What!!!???” kata saya dalam hati seolah-olah seperti tokoh dalam film kartun.

Karena flyover masih ditutup, kami tidak bisa naik. Setelah menelepon teman yang juga tinggal di lenteng, akhirnya kami diajak melihat-lihat mural di rumah-rumah warga di Gg. Harapan Lenteng Agung yang letaknya jauh dari flyover.

Kemarin saya lihat di media online foto atap rumah-rumah warga yang dicat. Gambari itu diambil dari ketinggian, menggunakan drone. Indah. Jadi kalau mau melihat keindahan rumah-rumah yang dicatisasi di Lenteng Agung, gunakan drone atau tunggu flyover beroperasi. Kelak penghuni apartemen di Tanjung Barat juga akan melihatnya.

Kagum

Diam-diam saya mengaguni kejeniusan Gubernur DKI Anies Baswedan. Itulah strategi dia untuk menaikan level kesejahteraan masyarakatnya. Secara tidak langsung dia berpesan: kalau mau lihat keindahan di Lenteng Agung, harus punya drone, naik kendaran lewat flyover atau tinggal di apartemen jangkung!

Tetapi saya juga ingin bertanya kepada Anies, mengapa dia tidak memperindah rumah-rumah di bantaran Sungai Ciliwung, di kawasan Manggarai, minimal seperti apa yang dilakukan oleh Romo Mangunwijaya di Kali Code, Yogyakarta.

Share This: