Menciptakan Hantu dengan Make-up Prostetik.

Seorang model sedang dibentuk wajahnya melalui make-up prostetik. (Foto: HW)
_

Pernah melihat mahluk-mahluk aneh, atau manusia berwajah menyeramkan dalam film? Bagi sebagian penonton mahluk-mahluk aneh atau manusia menyeramkan itu sangat menakutkan. Padahal mahluk-mahluk itu adalah manusia biasa yang dibuat melalui proses make-up prostetik (phrostetic make-up), oleh para ahli.

Cherry Wirawan sedang bekerja memake-up modelnya. (Foto: HW)

Prostetik makeup (juga disebut efek khusus make up dan FX prostesis) adalah proses menggunakan patung prostetik, molding dan casting teknik untuk membuat efek kosmetik canggih.

Proses menciptakan alat prostetik dimulai dengan Lifecasting, proses mengambil cetakan dari bagian tubuh (sering wajah) untuk digunakan sebagai dasar untuk memahat prostetik. Cetakan Lifecast terbuat dari alginat prostetik atau dari karet silikon kulit yang aman. Cetakan awal ini relatif lembek dan fleksibel. Sebuah cetakan master yang keras, biasanya terbuat dari plester atau fiberglass.

Salah satu bagian tersulit dari prostetik make-up adalah menjaga tepi setipis mungkin. Jaringan harus tipis, sehingga mudah untuk berbaur dan menutup memberikan tampilan sempurna. Tidak ada kesan itu sebagai buatan.

Penggunaan makeup prostetik untuk membuat luka atau trauma disebut moulage dan digunakan oleh militer dan sekolah kedokteran untuk mendidik dan mengurangi trauma psikologis bila terkena hal yang nyata.

Foto: HW

Di Hollywood, make-up prostetik tak bisa dipisahkan dalam industri film, karena melalui proses inilah banyak karakter baru diciptakan, sosok-sosok mahluk hidup yang tidak lazim. Ada beberapa nama di Hollywood yang sangat terkenal sebagai seniman make-up prostetik seperti   Stan Winston peraih 4 academy Award yang telah menciptakan karakter unik dalam film Terminator Series, Jurasic Parks, Aliens, dan Iron Man.

Kemudian ada John Chambers yang membuat primate-primata pintar dalam Planet of The Apes, atau tokoh tekenal dalam serial televisi Startrek, Mr Spock. Nama terkenal lainnya adalah Rick Baker yang terlibat dalam pembuatan film American Werewolf in London, The Nutty Profesor, Man in Black dan lain-lain.

Selain mereka masih ada nama-nama lainnya yang banyak menyumbangkan keahlian mereka untuk pembuatan film di Hollywood.

Indonesia ternyata sudah memiliki ahli make-up prostetik yang sudah banyak terlibat dalam pembuatan film. Salah satunya adalah Cherry Wirawan, atau lengkapnya dalam filmindoneisa.or.id disebut Chaery Eka Wirawan.

Foto: HW

Dalam film layar lebar, karya Cherry bisa dilihat melalui film Kuntilanak I, Firegate, Pinky Promise, atau Cado Cado. Tetapi sebagai Penata Rias, namanya juga tercatat dalam film-film Night Bus (2017), Barakati (2016) Pasukan Garuda: I Leave My Heart In Lebanon (2016), Di Balik 98 (2015), Jenderal Soedirman (2015), Hijrah Cinta (2014), 3 Nafas Likas (2014), Jejak Darah (2010), Anak Setan (2009) dan Identitas (2009). Selain itu Cherry juga pernah dikontrak untuk pembuatan film dokumenter National Geographic di Singapura, dan pembuatan iklan di Indonesia.

Ditemui di boothnya dalam arena Filartc di Studio PFN Jakarta, Sabtu (1/4/2017), Wirawan menuturkan perjalanannya menekuni dunia make-up artis, khususnya bidang prostetik make-up.

Lelaki berambut gondrong disemir pirang ini mengaku awalnya menjadi pemain teater di Teater Bulungan Jakarta. Belakangan ia tertarik dengan make-up panggung. Ia berkepikir kalau terus di teater tidak mendapat penghasilan memadai, akhirnya tertarik dengan make-up studio dan pemotretan.

Foto: HW

“Lalu ketemu denga Anwar Gepeng, dan berkenalankan dengan prostetik make-up. Saya merasa ini peluang besar karena di Indonesia cuma ada beberapa aja yang menekuni Prostetik Make-up. Sejak itu tahun 2004 sampai sekarang untuk prostetik make-up lebih berkembanglah,” tutur ayah lima anak ini.

Tahun 2001 – 2004 ia mulai masuk ke industri film, dan mulai fokus ke special effect sejak tahun 2007. Seiring dengan berjalannya waktu saya berkecimpung di special effect karena jarang yang berkecimpung di situ. Maka saya mengkhususkan diri di special effect. Kalau kualitas bolehlah diadu dengan negera asalnya.

Di Indonesia belum ada pendidikan prostetik make-up. Lelaki kelahiran Tegal ini (dia tidak menyebutkan tahun kelahirannya), belajar secara otodidak. Internet dan dari teman-teman menurutnya jadi sarana belajar yang baik, di samping mencari sendiri sarana belajar yang banyak di internet.

Meski pun belajar otodidak, keahlian Cherry sudah diakui. Dia pernah direkrut untuk menjadi pengajar di Forever academy Perancis. “Saya ngajar beatury bridal terus ada spesial efeknya,” katanya.

Ia menikah dengan Agustine Puji, seorang ahli make-up lulusan Perancis. Agustin adalah national trainer di make-up forever. Dari isterinya itu ia mendapat anak 5 orang.

Klien Cherry umumnya dari dunia film. Ia memiliki membentuk sebuah tim yang beranggotakan 7 orang dan 12 orang model. Untuk keperluan film, anggota tim bekerja di rumah, karena bikin prostetik seperti tokoh Voldemort butuh proses selama dua minggu. Anak buahnya datang dari berbagai latar belakang. Ada yang dari nol lalau dididik sampai bisa, sampai akhirnya jadi Chief sendiri, ada pula yang sudah bisa ditempat lain, lalu direkrut.

“Di rumah biasanya ada 3 orang yang menangani proses lifecasting, modeling sculping sampai cetak. Kalau model biasanya tergantung rumah produksinya. Dia maui pakai model siapa, bintang siapa, saya tinggal terima,” ujarnya.

Cherry siap mengerjakan karakter apa saja yang diminta, meski pun ia mengaku tidak bisa menggambar, karena dasarnya ia orang teater. “Dasar make-up saya tidak ada apalagi menggambar. Menggambar di kanvas saya tidak bisa. Tapi kalau medianya badan atau muka, Alhamdulillah saya bisa. Saya cuma niat dan mau dan belajar. Kolaborasi cuma di film, bekerjasama dengan wardrop, sutradara, skrip maupun produsernya,” papar Cherry.

Ia yakin profesi yang dijalaninya punya masa depan yang cerah, terutama dengan meningkatnya produksi film di Indonesia. “Insya Allah bisa, asal kita yakin dan asal berdedikasi. Karena setiap film ingin menunjukkan karakter yang berbeda dengan yang lain. Misalnya Rio dewanto dibikin kakek-kakek belum pernah, Vino G Bastian pernah ada dibuat kakek-kakek tapi dengan latex.”

Persoalan yang dihadapi adalah sulitnya mendapatkan bahan-bahan untuk praktek dan bekerja. Semua bahan dasar yang dibutuhkan masih harus diimpor dari Amerika. Itu pun tidak gampang masuk, karena kerap menemui persoalan di Bea Cukai. Pihak pabean masih menganggap barang-barang yang didatangkan Wirawan dari Amerika harus memiliki ijin khusus, setidaknya ia mengantongi surat dari BP POM.

“Saya mendapatkan barang-barang dari Amerika. Langsung impor, karena tidak ada agennya di Indonesia. Itu pun sangat susah apalagi kalau harus melewati lampu merah di Bea Cukai, kita harus memiliki ijin dari BP POM padahal ini sifatnya personal, karena bukan sebuah industri yang besar. Saya punya masalah sangat besar di situ. Kemarin barang saya masih di beacukai. Saya beli 4 juta, barang baru bisa ke luar kalau ada uang 8 juta. Semoga pemerintah bisa membantu untuk mendatang barang yang di sini tidak ada,” tuturnya.

Wirawan berhadap mendapat kemudahan untuk mendatangkan barang-barang yang dibutuhkanya untuk bekerja, karena tidak ada distributornya di Indonesia. Dia berharap Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dapat membantu memfasilitasi perijinan. Waktu Kepala Bekraf Triawan Munaf menghadiri Hari Film Nasional (HFN) di Studio Perum PFN, ada terbersit keinginan untuk menyampaikan isi hatinya. Apalagi ketika itu Triawan sempat mampir ke boothnya. Tetapi karena situasinya tidak memungkinkan, keinginannya tidak bisa disampaikan.

“Koordinasi dengan Bekraf belum, karena belum ada obrolan, karena waktu Kepala Bekraf ke sini belum ngomong. Sayaberharap diberi kemudahanlah, karena pesannya pun tidak sampai ratusan kilo atau kontainer. Paling 4 – 5 kilo,” katanya.

Bahan-bahan yang digunakan untuk bekerja memang bahan kimia. Untuk menghindari dampak yang fatal, sebelum membeli barnag-barnag itu dites dulu oleh penjualnya.

“Selama itu aman buat kulit tidak masalah. Karena bahan-bahan yang saya beli sudah dites, itu sudah ada semacam BP POMnya, lebih valid lah daripada di Indonesia. Kalau bahan pembersih semacam aceton itu kan banyak di sini,” katanya.

 

 

 

Share This: