Menelusuri Peninggalan Romawi di Kota Split.

_

Tanggal 3 – 8 Juni 2017 lalu balaikita bersama 4 wartawan lain dari Forum Pewarta Film diundang Kedubes RI di Kroasia untuk mengadiri acara Prkan Film Indonesia (Indonesia Movie Week) di Zagreb dan Split, Kroasia. Kesempatan tersebut juga digunakan untuk melihat-lihat beberapa tempat menarik di Kroasia. Tulisan ini adalah salah satu dari tiga tulisan travelling di Kroasia.

Setelah meningap selama 4 hari di Zagreb, rombongan melanjutkan perjalanan ke Split, kota yang terletak di negara bagian Dalmatia. Kota cantik tepi Laut Adriatik itu berjarak 400 kilometer dari Zagreb. Split adalah kota terbesar kedua di Kroasia dan kota terbesar di wilayah Dalmatia. Itu terletak di pantai timur Laut Adriatik dan tersebar di semenanjung pusat dan sekitarnya. Sebuah pusat transportasi intraregional dan tujuan wisata populer, kota ini terhubung dengan pulau Adriatik dan semenanjung Apennine.

Menggunakan dua buah mobil van berkapasitas 8 orang setiap kendaraan, kami berangkat siang hari dari Zagreb. Ke luar dari Kota Zagreb kendaraan memasuki jalan tol yang mulus. Tidak jauh dari sana terdapat Stadion Arena milik Klub Sepakbola Dinamo Zagreb.

Rombongan sempat mampir di rumah makan Marche, yang sudah ada cabangnya di Jakarta. Selesai makan kembali melanjutkan perjalanan menuju Split. Jalan menuju Split terhubung oleh jalan tol yang mulus. Kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan jalan tol di Indonesia.

Sepanjang perjalanan kami hanya melihat pegunungan karang yang tidak terlalu tinggi, mirip di Gunung Kidul, Jawa Tengah. Tetapi di pegunungan Karang itu sesekali terlihat perkampungan yang rapi dan tanah-tanah pertanian di bawahnya. Entah bagaimana masyarakat memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Jalan tol menuju Split berulangkali menembus gunung karang / kapur. Gunung itu ditembus oleh terowongan-terowongan yang rapi dan kokoh. Di kiri-kanan dinding karang atau kapur diberi anyaman kawat untuk menjaga agar tidak ada batu-batu atau longsongan yang jatuh ke jalan.

Perjalanan menuju Split sangat lancar. Jarak 400 km dapat ditempuh dalam waktu 4 jam. Itu pun diseling waktu makan dan istirahat sebenar di sebuah minimarket kecil yang memiliki fasilitas untuk buang air.

Kami tiba di Split pukul 16.00, di sebuah villa bertingkat tiga yang terletak di perbuktian karang. Kota Split memang berada di atas pegunungan karang. Staf kedutaan meminta agar kami bersiap pada pukul 19.00 karena akan dijemput lagi untuk makan malam. Waktu terasa cepat. Setelah meletakaan barang-barang dan istirahat sebentar, mobil penjemput sudah datang. Pukul 19.00 kami berangkat ke

Diocletian’s Palace, kota tua yang menjadi tujuan wisata utamadi Split. Tempat ini terletak di tepi pantai. Di depan bangunan peninggalan Romawi yang masih berdiri kokok itu dibuat sebuah plaza, tempat para wisatawan duduk-duduk bersantai di tepi laut, atau di kafe-kafe yang terletak sepanjang jalan.

Diocletian Palace adalah sebuah istana kuno yang dibangun untuk Kaisar Romawi diocletian pada pergantian abad ke-4 Masehi. Strukturnya masif dan lebih menyerupai sebuah benteng besar: sekitar setengahnya adalah untuk penggunaan pribadi Diocletian, dan Sisanya ditempatkan garnisun militer. Diocletian membangun istana besar tersebut dalam persiapan untuk pensiun pada tanggal 1 Mei 305 M.

Setelah orang-orang Romawi meninggalkan situs tersebut, Istana tersebut tetap kosong selama beberapa abad. Pada abad ke-7, penduduk terdekat melarikan diri ke istana berdinding dalam upaya untuk melarikan diri dari serangan orang-orang Kroasia. Sejak saat itu istana ditempati penduduk membuat rumah dan bisnis mereka di dalam ruang bawah tanah istana dan langsung di dindingnya.

Saat ini banyak restoran dan pertokoan, dan beberapa rumah, masih bisa ditemukan di dalam dinding. Selama 3 hari di Split kami hanya bolak-balik dari villa tempat menginap ke Diocletian’s Palace untuk mengikuti pemutaran film di bioskop milik kine klub setempat di Zlara Plata yang terdapat di dalam benteng, makan, mengilingi kawasan istana untuk melihat keindahan dan keuninkannya atau sekedar membeli souvenir.

Walau pun beberapa bagian sudah rusak termakan jaman, tetapi secara umum benteng atau istana itu masih bisa digunakan baik untuk tempat tinggal, kafe-kafe atau toko-toko souvenir. Split merupakan kota yang dipenuhi oleh wisatawan. Selain berputar-putar di Diocletian Palace, wisatawan juga bisa mengunjungi pulau-pulau milik Kroasia yang berada di peraiaran Adriatik. Ada ferry yang selalu standby dan para agen tiket membuka kios di pinggir pantai. Harga tiket untuk mengelilingi pulau itu 110 Euro. (Bersambung: Makarska, Kota Kecil Yang Cantik di Tepi Laut Adriatik)

Share This: