Mengejar “Sunset” ke Titik Nol Indonesia

Senja di Titik Nol Kilometer Indonesia, di Kecamatan Iboih, Pulau Weh. (Foto-foto: HW)
_
Kapal Cepat tujuan Pelabuhan Ule Lheue sandar di Pelabuhan Balohan, Pulau Weh. (Foto: HW)

Datang ke Kota Sabang di Pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam, merupakan keinginan yang sudah lama ada dalam benak penulis. Cerita tentang Sabang, mulai dari keramaian di jaman Pelabuhan Bebas (Free Port), hingga keindahan pantai dan laut di Pulau Weh, selalu menarik-narik keinginan untuk mendatangainya.

Tapi bagaimana caranya? Pulau Weh merupakan titik terluar Indonesia, berada di paling Barat terotori Republik Indonesia. Dari Jakarta, harus menggunakan pesawat lebih dulu ke Kota Banda Aceh, lalu menyeberang ke Pulau Weh dari Pelabuhan Ule Lheue atau menggunakan kapal cepat ke Pelabuhan Balohan di Pulau Weh.

Jika dihitung-hitung, biaya perjalanan ke sana cukup mahal. Apalagi jika kemudian harus menginap, tidak di hotel atau penginapan, menyewa kendaraan, mengeksplore pantai dan laut sekitar Pulau Weh yang indah, harus berhitung dengan matang sambil melihat isi kocek.

Kesempatan untuk datang ke Sabang akhirnya datang juga. Tidak direncanakan sebetulnya, tapi hanya inisiatif pribadi sambil memanfaatkan kesempatan.

Jalan-jalan di Kota Sabang, mulus. (Foto: HW)

Mulanya, penulis diajak untuk mengikuti acara Sosialisasi Sensor Mandiri oleh Lembaga Sensor Film (LSF) di Hotel Hermes Banda Aceh. Acara hanya berlangsung satu hari, tanggal 21 Februari 2017, dan datang ke Banda Aceh sehari sebelumnya. Menurut jadwal, usai acara pada sore harinya harus berangkat ke Jakarta, karena tiket sudah dibeli untuk hari itu.

Tetapi karena keinginan untuk datang ke Sabang begitu kuat, penulis meminta agar jadwal pulang direschedule, termasuk minta agar tanggal kepulangan ke Jakarta diundur ke perusahaan penerbangan. Kalau pun harus membayar penalti, penulis siap. Kapan lagi bisa ke Pulau Weh, karena selain biaya, waktu juga belum tentu ada.

Pengunduran jadwal pulang diupayakan ke perusahaan penerbangan. Ternyata bisa. Dari jadwal Senin pagi harus kembali ke Jakarta, bisa diundur esok sore. Hanya beda beberapa jam. Artinya ada sedikit peluang untuk bisa berangkat ke Sabang.

Senin siang, usai acara, penulis langsung berangkat dengan becak ke Pelabuhan Ule Lheue. Kalau menurut jadwal yang ada di internet, kapal terakhir akan berangkat dari Pelabuhan Ule Lheue menuju Pelabuhan Balohan di Pulau Weh, pada pukul 16.00, sementara kegiatan di Hotel baru berakhir pukul 01.30, lalu disusul dengan makan siang. Waktu menunjukkan pukul 14.30 ketika penulis memutuskan untuk berangkat ke Ule Lheue, dengan harapan masih ada penyeberangan.

Setelah teman sekamar agar menitipkan koper penulis ke resepsionis, penulis meninggalkan hotel, lalu memanggil becak minta diantar ke Pelabuhan Ule Lheue.

“Saya tidak tahu apakah masih ada kapal ke Sabang. Tapi kita coba saja. Kadang ada yang terlambat berangkat karena harus mengatur muatan barang-barang,” kata Pak Adin, pengemudi becak.

Kami lalu berangkat. Untuk menutupi kegelisahan, sepanjang perjalanan penulis mengajak bicara Pak Adin. Mulai dari soal pekerjaan, keluarga, bioskop hingga masa-masa Aceh dilanda konflik dan tsunami. Setengah jam kemudian becak sampai di Pelabuhan Ule Lheue, langsung ke dekat penjualan tiket. Ternyata masih ada penyeberangan. Penulis membeli selembar tiket VIP seharga Rp.100 ribu.

Penulis berpisah dengan Pak Adin di dekat dermaga. Dia berjanji akan menjemput lagi besok, dan mengantar ke beberapa tempat yang menjadi saksi sejarah keganasan tsunami tahun 2004 di Aceh.

Penulis lalu naik ke kapal, duduk di ruang VIP yang sejuk dekat jendela. Tidak lama kemudian penumpang-penumpang lain berdatangan. Tidak sampai penuh, kapal cepat menuju Pelabuhan Balohan lalu bergerak. 45 menit kemudian kapal merapat di Pelabuhan Balohan, setelah melewati Selat Benggala yang memisahkan Pulau Sumatera dengan Pulau Weh.

Pukul 17.00 selesai makan, penulis bertanya kepada pemilik warung, apakah ada kendaraan yang bisa mengantar ke Kilometer Nol Indonesia, dan setelah itu mencari penginapan. Pemilik warung memanggil seorang lelaki berusia sekitar 30 tahun, dan menjelaskan keinginan penulis kepada lelaki tersebut.

Lelaki itu, Iwan namanya, mengaku akan mengantar orang ke Iboih. Menurutnya dari Iboih tidak jauh lagi untuk sampai ke Kilometer Nol. “Nanti saya mengantar orang dengan becak, bapak ikutin saja dengan motor. Bisa naik motor kan? Matic kok gampang,” kata Iwan. “Biayanya sertus ribu, sampai besok bapak kembali,” tambahnya.

Penulis setuju. Tidak lama kemudian kami bergerak. Saya memacu motor persis di belakang becak motornya yang membawa sepasang suami isteri. Tetapi waktu terus bergerak semakin sore. Meski pun pukul 18.00 di Aceh langit masih terang, penulis khawatir tidak akan bisa melihat tugu Nol Kilometer di Iboih karena hari sudah gelap.

Sepanjang perjalanan menuju titik Nol Kilometer pemandangan sangat indah. Teluk Cot Batre yang indah terlihat di kanan jalan. Ada sebuah pulau kecil bernama Pulau Klah terlihat jelas di seberang. Tetapi sekitar lima kilometer dari sana, jalan melewati hutan yang masih perawan. Banyak monyet yang duduk di pinggir jalan.

Karena di dalam hutan, langit kelihatan tidak cerah lagi. Penulis lalu mint aijin kepada Iwan untuk jalan lebih dulu. Iwan setuju. Akhirnya penulis memacu motor dengan cepat melewati hutan, kadang perkampungan, di jalan aspal yang mulus. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Hanya sesekali berpapasan dengan motor atau mobil lain.

Pukul 18.30 penulis sampai di Kilometer Nol Indonesia. Sebuah tugu berbentuk bulat di atasnya berdiri gagah menghadap laut lepas. Tidak jauh dari tugu adalah tebing curam dengan laut lepas di bawahnya.

Hari masih terang, meski pun matahari sudah berwarna kemerahan, dan tidak lama lagi akan tenggelam di laut. Masih ada beberapa wisatawan yang mengambil gambar sendiri (selfie) dengan latar belakang tulisan “Kilometer Nol Indoesia”. Penulis juga sempat mengambil gambar tugu, orang-orang yang sedang bergaya dan sebuah perahu nelayan yang sedang menyisir pingiran pantai.

Setelah melakukan pemotretan, penulis menemui petugas yang sedang membuat sertifikat untuk para pengunjung yang datang ke titik Nol Kilometer Indonesia. Bagi yang ingin mendapat kenang-kenangan, dapat memberikan nama dan alamat ke petugas, kamudian akan akan dibuatkan sertifikat yang ditandatangani oleh Bupati Sabang. Dalam sertifikat tertulis urutan nomor pengunjung. Kita akan tahu orang keberapa yang mengunjungi Titik Nol Kilometer.

“Mau ke mana dari sini?” tanyanya.

“Cari penginapan di Iboih,” jawab penulis.

“Sudah dapat?”

“Belum”

Teluk Cot Batre (Foto HW)

Dia lalu menawarkan penginapan “miliknya” di Iboih. Tarifnya Rp.300 ribu permalam untuk kamar ber-AC. Setelah tawar menawar disepakati harga Rp.250 ribu. Dia lalu menghubungi seseorang, dan meminta agar orang itu menunggu saya di suatu tempat.

“Meski pun malam, jangan takut jalan di sini. Aman. Saya juga pulang nanti malam,” katanya.

Waktu menunjukkan pukul 18.50. Penulis lalu memacu motor menuju Iboih. Tetapi jalan keburu gelap, melewati hutan. Dengan berbagai macam perasaan, penulis memacu motor melwati hutan, dan kadang kampung yang sepi. Hanya terlihat satu atau dua rumah di pinggir jalan.

Sampai di bawah sebuah neon sign nama penginapan, tulisannya “Gapang Resort”, penulis berhenti, lalu menghubungi orang yang akan menjemput. Ketika disebutkan di mana penulis berada, dia mengatakan masih sekitar satu kilometer tempatnya. Penulis berpikiran 1 kilometer berikutnya. Akhirnya penulis memacu motor lagi, melewati hutan lagi.

Kira-kira satu setengah kilometer dari situ penulis berhenti, lalu menghubungi orang dimaksud. Ternyata penulis salah, karena penginapan yang dimaksud sudah kelewat jauh. Harus balik lagi. Dengan berbagai persaaan penulis kembali. Melewati hutan, jalan yang gelap. Tak ada satu pun kendaraan yang berpapasan di jalan.

Di dekat sebuah persimpangan, di depan asrama tentara. Di situlah penulis dijemput, lalu diajak ke penginapan miliknya di Pantai Iboih. Karena hari sudah malam, penulis tidak dapat melihat keindahan Pantai Iboh. Hanya debur ombak dan suara nyanyian grup musik sederahana dari sebuah kafe yang tengah menghibur sekitar sebelasan turis asing.

Di kejauhan terlihat cahaya sangat terang. Menurut pemilik penginapan, itu adalah Pulau Rubiah. Pemerintah Indonesia telah menentukan daerah perairan ini, sekitar 2600 hektar sekitar pulau Rubiah sebagai daerah special nature reserve. Terletak di teluk Sabang, dimana air disini relatif tenang dan sangat jernih (25 m visibility) laut disini diisi oleh bermacam trumbu karang dan ikan bermacam warna. Dapat ditemukan gigantic clams, angel fish, school of parrot fish, lion fish, sea fans, dan banyak lagi.

“Dulu ketika masih menggunakan kapal laut, orang yang pergi haji berangkat dari Pulau itu,” kata Ashar, pemilik penginapan. Sayang penulis tidak bisa melihat keindahan Pantai Iboih yang terkenal serta Pulau Iboih di seberangnya. Esok pagi, penulis harus berangkat ke Pelabuhan Balohan, untuk mengejar pelayaran pertama kapal cepat, pukul 08.00. Esoknya, pukul 06.30, hari masih gelap, penulis sudah memacu motor menuju Pelabuhan Balohan, seraya berjanji dalam hati akan kembali lagi ke Pulau Weh.

 

 

 

 

Share This: