Mengeluh Sepi, Pedagang Sayur Pasar Minggu Ancam Balik ke Jalan.

Pedaganga sayuran di Pasar Minggu, melamun karena sepi pembeli. (Foto: HW)
_

Tinah (36 tahun) duduk termenung di balik tumpukan cabe dan sayuran dagangannya. Tatapannya kosong, seperti sudah kehilangan harapan. Hari sudah siang, azan petanda dhuhur sudah berkumandang dari mushalla, tidak jauh dari tempatnya berdagang, tetapi dagangannya masih banyak. Dia tidak tahu akan dikemanakan jika dagangan itu tidak laku.

“Sayuran kalau tidak laku hari ini susah dijual Mas, orang ogah beli sayuran layu,” kata Tinah, dengan mimik yang tidak jauh berubah.
Tinah merupakan salah satu pedagang di pasar tradisional Pasar Minggu, yang letaknya tidak jauh dari terminal. Tidak hanya Tinah yang mengeluh; keluhan juga disampaikan oleh Narni (45 tahun) pedagang sayuran yang memiliki lapak lebih di depan. Tetapi posisi itu pun tidak menguntungkan baginya.

“Di sini sepi Mas. Enggak ada yang mau datang ke sini,” kata Narni. “Itu brokoli udah tiga hari. Kalau hari ini tidak laku, terpaksa dibuang. Habis mau dikemanakan? Dijual juga enggak laku.”

Murjiati (51 tahun) pedagang tempe yang menggelar dagangan di sebelahnya, tak kalah sewot. Tumpukan tempe terlihat masih tinggi, karena kurang pembeli.

“Nanti malam kalau tidak laku tempe itu saya buang. Kemarin aja saya buang empat puluh potong. Kalau sepotong harganya limaribu perak, kan saya rugi duaratus ribu,” kata wanita asal Kebumen itu.
Menurut penuturannya, dia bersama suami sama-sama berdagang tempe yang dibuatnya sendiri. Setiap hari suami isteri itu mengolah tidak kurang 500 kg kacang kedelai untuk dibuat tempat, lalu dijual di Pasar Minggu. Murjiati berdagang di pasar sayur yang terletak di bagian belakang pasar, dekat terminal, sedangkan suaminya berjualan di trotoar pinggir jalan masuk kendaraan menuju terminal.

Sudah tiga tahun Murjiati, Narni dan Tinah berjualan di tempat itu, setelah digusur oleh Pemda dari tempatnya berjualan, di pinggir jalan Raya Ragunan, dekat mal Robinson. Oleh Pemda mereka diberi tempat, dan membayar sewa Rp.750 ribu per lapak.

Sayangnya di tempat yang lebih representatif itu pembeli jarang mampir karena letaknya jauh dari jalan raya. Umumnya pembeli hanya mampir di bagian pasar yang dekat dengan jalan raya. Sedangkan di pasar sayur yang mereka tempati, jarang pembeli yang mampir, meski pun tempat mereka berjualan dilalui mikrolet dan angkot.

“Orang itu kan kalau naik kendaraan ya lewat aja. Ngapain mereka harus ngeluarin ongkos cuma mau ke pasar. Paling orang dari komplek perumahan dekat sini yang datang,” tambah Narni.

Di dekat pasar memang ada perumahan Bea Cukai dan Dirjen Pajak. Di tembok yang memisahkan pasar dengan komplek perumahan dibuat pintu kecil yang bisa dilalui orang. Tetapi bila malam jalan itu ditutup.

Narni maupun Murjiati mengaku sudah tidak tahan lagi berjualan di tempat itu. Narni agak beruntung karena bisa menyiasati dengan membawa sisa dagangannya mendekati pembeli di pinggir jalan bila sore, tetapi Murjiati tidak.

“Tempe kan susah kalau dibawa-bawa. Jadi sampe malem ya didiemin aja di sini. Makanya sering dibuang kalau ndak laku. Mau dijual ke mana? Orang Jakarta kan maunya makan yang seger-seger,” papar Murjiati.
Jika keadaan terus menerus seperti itu, para pedagang mengancam akan kembali lagi berjualan di Jalan Raya Ragunan, tempatnya berjualan dulu.

“Tidak bisa dong terus-terusan rugi, Mas. Emangnya kita mau makan apa? Mendingan berurusan sama Kamtib aja daripada dagang sepi. Paling malu aja kalo ditangkep melulu,” ujar Murjiati mengakhiri pembicaraan.

Share This: