Mengenal Hepatitis, Si Pembunuh Dalam Senyap.

Dokter Insan Hasan, ahli penyakit dalam dari RSCM menjelaskan tentang bahaya hepatitis. (Foto: HW)
_

Selama ini masyarakat pada umumnya mengetahui bahwa AIDS merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena sulit disembuhkan. Padahal ada satu lagi penyakit yang tak kalah berbahaya dibandingkan HIV/AIDS, yaitu Hepatitis C.

dr. Regina Sidjabat, M.Epid, Subdit Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan Direktorat P2PML – Dirjen P2P, Kementerian Kesehatan RI.

“Hepatitis C bahkan lebih infeksius dibandingkan HIV,” kata Dr. Regina Sidjabat, M Epid, Kepala Subdit Hapatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan Direktorat P2PML – Dirjen P2P, Kementerian Kesehatan RI.dalam Pelatihan Media Hepatitis C di Hotel 101 Bogor, Jum’at (3/11/2017).

Pelatihan Media Hepatitis C diadakan oleh Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) bekerjasama dengan Subdit Hapatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan Direktorat P2PML – Dirjen P2P, Kementerian Kesehatan RI. Peserta pelatihan ini wartawan dari berbagai media massa.

Meskipun Hepatitis C sangat berbahaya, masyarakat kurang memahami bahkan menyadari bahaya penyakit ini. Terlebih penyakit ini tidak memiliki gejala yang jelas, dan penderita baru mengetahui dirinya sakit setelah merasakan sakit yang hebat, mengalami sirosis (kanker hati) lalu dibawa ke rumah sakit.

“Hepatits itu tanpa gejala, karena lever (hati) tidak ada sarafnya, jadi penderita tidak merasakan nyeri, tidak ada keluhan. Paling keluhannya suka merasa capek. Keluhan itu kan umum, kita jalan jauh, habis kerja, rasanya juga capek,” kata dr. Irsan Hasan, SpPD, KGEH, dari

Departemen Penyakit Dalam RSCM pada acara yang sama.
Menurut dr. Irsan, 1 dari 10 orang di Indonesia berpotensi mengidap hepatitis, walau prevalensi hepatitis di Indonesia baru 1 persen, artinya 2,5 juta orang Indonesia mengidap hepatitis.

Namun bisa jadi jumlah penderitanya jauh lebih banyak dari itu karena sulit mendeteksi orang yang mengidap hepatitis. Seseorang baru diletahui mengidap hepatis atau tidak jika melalui pemeriksaan.

Dulu, untuk melakukan deteksi apakah seseorang mengidap hepatitis, dilakukan pemeriksaan yang sangat mahal. Tetapi sekarang sudah ditemukan alat yang membuat tes hepatitis jauh lebih murah, yakni dengan alat deteksi HCV RNA.

Tidak hanya pendeteksian, pengobatan hepatitis juga jauh lebih murah sejak ditemukannya obat oral. Selumnya pengobatan hepatitis harus dengan suntikan interveron yang mahal dan bisa menghabiskan dana tidak kurang dari Rp.1 milyar.

Namun dengan ditemukan obat-obatan hepatitis yang baru, pengobatan hepatitis belakangan ini lebih murah, dan keberhasilan pengobatan meningkat.

Pengidap hepatitis saat ini kebanyakan anak-anak muda pengguna napza (narkotika dan zat adiktif lainnya). Pasien cuci darah (hemodialis) juga rentan terhadap bahaya hepatitis. Oleh karena itu pasien hemodialis juga harus menjalani pemeriksaan hepatitis.

“Untuk mencegah agar pasien hemodialis tidak terkena hepatitis, darah yang akan digunakannya untuk transfusi harus benar-benar steril, bebas dari virus hepatitis. Oleh sebab itu para donor juga harus diperiksa dulu, jangan sampai pendonor mengidap virus hepatitis,” kata dr. Regina Sidjabat.

Hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan oleh berbagai faktor.
Faktor penyebab penyakit hepatitis ini antara lain adalah infeksi virus, gangguan metabolisme, konsumsi alkohol, penyakit autoimun, hasil komplikasi dari penyakit lain, efek samping dari konsumsi obat-obatan maupun kehadiran parasit dan bakteri dalam hati.

Dari sekian banyak faktor, virus menduduki peringkat pertama sebagai penyebab paling banyak penyakit hepatitis.

Ada lima macam hepatitis yang disebabkan virus, yakni virus Hepatitis A, virus Hepatitis B, virus Hepatitis C, virus Hepatitis D, dan virus Hepatitis E.

Hepatitis A adalah golongan penyakit hepatitis yang ringan dan jarang sekali menyebabkan kematian. Virus Hepatitis A (VHA=Virus Hepatitis A) penyebarannya melalui kotoran/tinja penderita yang penularannya melalui makanan dan minuman yang terkomtaminasi, bukan melalui aktivitas seksual atau melalui darah. Sebagai contoh, ikan atau kerang yang berasal dari kawasan air yang dicemari oleh kotoran manusia penderita.

Hepatitis B merupakan salah satu penyakit menular yang tergolong berbahaya di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan menyebabkan peradangan hati akut atau menahun.

Seperti hal Hepatitis C, kedua penyakit ini dapat menjadi kronis dan akhirnya menjadi kanker hati. Proses penularan Hepatitis B yaitu melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis B.

Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (VHC). Proses penularannya melalui kontak darah {transfusi, jarum suntik (terkontaminasi), serangga yang menggiti penderita lalu mengigit orang lain disekitarnya}.

Penderita Hepatitis C kadang tidak menampakkan gejala yang jelas, akan tetapi pada penderita Hepatitis C kronik menyebabkan kerusakan/kematian sel-sel hati dan terdeteksi sebagai kanker hati. Sejumlah 85% dari kasus infeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun.

Hepatitis D Virus ( HDV ) atau virus delta adalah virus yang unik, yang tidak lengkap dan untuk replikasi memerlukan keberadaan virus hepatitis B. Penularan melalui hubungan seksual, jarum suntik dan transfusi darah. Gejala penyakit hepatitis D bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-infeksi) atau amat progresif.

Pada umumnya penderita Hepatitis A & E dapat sembuh, sebaliknya B & C dapat menjadi kronis. Virus Hepatitis D hanya dapat menyerang penderita yang telah terinfeksi virus Hepatitis B dan dapat memperparah keadaan penderita.

Hepatitis C gejalanya mirip Hepatitis A, demam pegel linu, lelah, hilang nafsu makan dan sakit perut. Penyakit yang akan sembuh sendiri (self-limited), keculai bila terjadi pada kehamilan, khususnya trimester ketiga, dapat mematikan. Penularan melalui air yang terkontaminasi feces (kotoran manusia).

Banyak dari penderita hepatitis tidak menyadari gejala awal yang terjadi, hingga akhirnya mereka terlambat menanganinya. Jangan menunda deteksi dini penyakit hepatitis

 

Share This: