Menghidupkan The Rollies di Hard Rock Café

Anggota IKi di antaranya Jelly Tobing, Ario Wahab, Ermi Kullit, Renny Djajoesman, Memes dan gitaris Donny Suhendra ketika tampil di Hard Rock Cafe Jakarta, Senin (20/3) malam.
_

Ada yang berbeda di Hard Rock café Jakarta, Senin (20/3) malam. Bukan saja ruangan terasa sesak oleh tamu-tamu yang datang, tetapi nuansa tahun 70 – 90 benar-benar hadir, ketika para penyanyi dan pemusik yang tergabung dalam Indonesia Kita (IKi) membawakan lagu-lagu grup musik legendaris asal Kota Bandung, The Rollies, dalam acara I Like Monday.

Baik penyanyi maupun para pemusik berusaha tampil total baik dalam vokal maupun aksi panggung, membuat penonton yang rata-rata berusia 50-an tahun ikut larut dalam suasana, ketika lagu-lagu dinyanyikan. Mungkin kita tidak percaya melihat jika melihat politikus Ali Mochtar Ngabalin yang selalu mengenakan pakaian khas seperti pria Timur Tengah, atau mantan model Ratih Sanggarwati yang kini berhijab, ikut larut dan berjingkrak-jingkrak ketika lagu The Rollies dibawakan. Begitu juga dengan Dekan Fakultas Komunikasi UI yang juga dikenal sebagai pengamat Effendy Gazali ikut terbawa suasana yang ada.

“Musik itu kan dinamis. Di mana-mana musik menjadi satu inspirasi bagi semua orang yang hidup. Apalagi ini yang berkumpul orang-orang politik, teman-teman dari Hanura. Tentu kita memberi apresiasi kepada IKi. Itu sebabnya kenapa musik itu bebas dari nilai, dia netral dari semua kepentingan-kepentingan apapun. Karena musik itu mengukir nurani, mengukir jiwa, sehingga setiap orang melihat musik itu sebagai bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan,” kata Ali Mochtar Ngabalin.

“Itu sebabnya orang bilang ke sana kenapa Ali Mochtar ke sini, saya bilang musik itu bebas dari nilai, dari sekat-sekat. Mau ada di Hard Rock mau ada di mana. Saya delapan kali diajak orang ke sini saya tidak mau. Pertama ada Pak Ediwan, yang kedua lagu-lagu yang mereka mau nyanyikan adalah The Rollies. Itu sebabnya saya mau datang,” tambahnya.

Firza Tuffa (Foto: HW)

Effendy Gazali mengaku pertama kali datang ke Hard Rock Cafe, setelah tiga kali diajak tetapi tidak pernah mau. Suasana di Hard Rock Café malam itu menurutnya membuat dirinya benar-benar enjoy.

“Ada tiga hal yang membuat saya enjoy. Yang pertama ini pertama kali saya datang setelah tiga kali diajak. Yang kedua, benar-benar lebih dari apa yang saya harapkan. Terutama karena begitu banyak living legend berkumpul, terus merayakan keindonesiaan dengan berbagai cara, terutama dengan musik kita. Yang ketiga saya bayangkan IKi ini tiba-tiba akan muncul di New York, di Tokyo, di Melbourne, lalu ada orang-orang menyanyi dan mengatakan kami juga IKi. Itu baru gerakan yang luar biasa,” kata Effendy.

Ario Wahab (Foto: HW)

Pembuat rundown acara mampu membangun suasana dengan mulai menampilkan beberapa penyanyi untuk membawakan lagu-lagu The Rollies yang sudah dikenal penggemarnya, tetapi tidak tergolong hit. Beberapa lagu yang bertempo cepat terus dibawakan oleh bebarapa penyanyi secara bergantian, diantaranya lagu berjudul Problemaku oleh penyanyi wanita Virza. Anggota The Dance Company Ario Wahab mencoba tampil dengan gerakan-gerakan gemulai ala Gito Rollies (Bangun Sugito) ketika membawakan lagu “Nona”.

Pada sesi pertama baik penyanyi maupun pemusiknya berbeda. Pemusik sesi pertama antara lain diisi oleh Damon Koeswoyo (gitar) dan Rama Moektio (drum) dengan penyanyi Tommy Eksentrik, Firza Tuffa dan Ario Wahab.

Di sesi kedua deretan pemusik diisi oleh Donny Suhendra (gitar), Krisna Parmeswara (keyboard), Rival Pallo Himran (bass) dan Budhy Haryono (drum). Sedangkan panyanyi yang tampil adalah Renny Djajoesman, Memes, Ermi Kulit, Bangkit Sanjaya dan Jelly Tobing.

Meski pun lagu-lagu itu termasuk akrab di telingan pengunjung yang malam itu rata-rata menjadi penikmat lagu-lagu The Rollies, tetapi penonton belum merasa terlibat dengan usaha para penyanyi. Pengunjung mulai mengarahkan perhatiannya ke panggung dengan lebih serius, ketika rocker senior yang juga menjadi Koordinator IKi, Renny Djajoesman naik ke pentas.

Renny mencoba berkomunikasi dengan audiens dengan melempar pertanyaan kepada pengunjung untuk menebak judul lagu yang akan dinyanyikannya. Renny berjanji akan memberi hadiah kepada yang bisa menjawab. Pertanyaan itu akhirnya dijawab oleh Ratih Sanggarwati, dengan menebak judul lagu yang akan dibawakan Renny: Burung Kecil. Jawaban itu benar.

Burung Kecil sebuah lagu manis yang dibawakan oleh Gito Rollies, dengan lirik yang menggambarkan kedekatan manusia dengan seekor burung, dan membiarkannya terbang di alam bebas walau pun nasib dan hidupnya juga tidak pasti, dibawakan oleh Renny dengan penuh perasaan. Lagu bertempo sedang itu semakin menghanyutkan perasaan penonton ketika ditingkahi petikan gitar dari gitaris kawakan Donny Suhendra yang terdengar indah.

Penonton semakin larut ketika penyanyi jazz kawakan bersuara seksi Ermi Kulit naik ke pentas, membawakan lagu Bimbi, yang liriknya menggambarkan kisah gadis kampung yang pergi ke kota untuk mencari kehidupan yang mewah dan popularitas, tetapi ia melupakan kelaurga, teman dan kerabatnya di kampung. Meski pun tidak memperlihatkan aksi panggung berlebihan, suara Ermi Kulit benar-benar membius.

Klimaks dari acara I Like Monday malam itu adalah dengan tampilnya mantan penggebuk drum terkenal tahun 70-an Jelly Tobing. Dengan karakter suaranya yang tinggi – mirip dengan vocal Delly Joko Arifin atau yang dikenal dengan panggilan Delly Rollies (keyboardis / vokalis), Jelly Tobing benar-benar mampu “menghadirkan” The Rollies di Hard Rock Café.

Jelly membuka penampilannya dengan membawakan penggalan lagu Kebyar Kebyar ciptaan almarhum Gombloh. Ketika membawakan lagu Dansa Yo Dansa, ia mengajak pengunjung untuk berjoget. Ajakan Jelly Tobing mendapat sambutan antusias, sehingga hampir semua pengunjung Hard Rock Café malam itu bangun dari kursinya, dan berdansa mengikuti lagu yang dibawakan Jelly. Pukul 23.00 pertunjukkan berakhir, tanpa seorang pun pengunjung yang meninggalkan tempat sebelumnya.

Penampilan IKI dalam acara I Like Monday malam itu merupakan pencapaian terbaik selama acara tersebut diadakan. Seluruh meja di Hard Rock Café terisi penuh. Itu tidak bisa dilepaskan dari komitmen Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang, yang memborong semua tiket. Tidak heran jika malam itu ada banyak politisi yang hadir – khususnya dari Partai Hanura.

“Sebenarnya Pak OSO (Oesman Sapta Odang-Red.) akan datang malam ini. Sekretarisnya tadi sudah memberitahu. Enggak tahu kenapa dia tidak muncul. Tapi biar bagaimana pun kami dari IKi berterima kasih atas bantuan Pak Oesman yang telah membeli semua tiket pada malam ini,” kata Renny Djajoesman usai acara.

IKi sudah beberapa bulan mengisi acara I Like Monday di Hard Rock Café Jakarta. Setiap kali tampil, selalu dibawakan lagu-lagu dari penyanyi maupun grup musik legendaris Indonesia, seperti Koes Ploes, Iwan Fals, Chrisye dan lain-lain. Lagu-lagu diaransemen ulang dengan sentuhan rock, karena anggota IKi mayoritas pemusik rock.

Pementasan IKi di Hard Rock Café sempat tersendat karena ketiadaan sponsor, tetapi hambatan itu sudah tidak ada lagi, karena menurut Renny Djajoesman, sudah ada perusahaan rokok yang siap mensponsori.

Aransemen ulang itu ternyata tidak berpengaruh bagi telinga penggemar. Dalam hal tertentu justru membuat lagu terasa lebih dinamis dan cocok untuk pertunjukan langsung.

“Salah satu yang paling dahsyat yang paling saya sukai adalah Dunia Dalam Berita. Saya menimati betul. Itulah saya bilang kenapa musik itu tidak ada sekat-sekat, semau orang bebas menikmati,” ujar Ali Mochtar Ngabalin.

Sedangkan Effendy Gazali mengatakan semua lagu ada jamannya. Lagu-lagu uang dinyanyikan The Rollies juga living. Dibuat dengan konteks perasaan, dengan kedalaman dalam membuat liriknya. “Tentunya ada lagi yang seperti itu memang ada, tetapi lagu-lagu Rollies tetap bisa kita nikmati sampai saat ini,” kata Effendy yang mengaku menjadi penggemar The Rollies sejak dulu,” katanya.

The Rollies adalah sebuah grup musik jazz, rock, pop, soul funk asal Indonesia yang dibentuk di Bandung pada tahun 1967dan sempat populer di era 60-an sampai dengan akhir 90-an. Para personelnya antara lain terdiri dari Bangun Sugito (vokal),Delly Joko Arifin (keyboards/vokal), dan Teungku Zulian Iskandar (saxophone).Benny Likumahuwa (trombon) dan Bonny Nurdaya (gitarOetje F Tekol (bass), Jimmy Manoppo (drum), Didit Maruto (Trumpet) dan juga pendiri dan mantan personelnya almarhum Deddy Stanzah dan Iwan Krisnawan.

 

Share This: