Menghidupkan Wisata di Tempat Halal

_

Ide wisata halal yang dicetuskan oleh Sandiaga Uno sempat memicu perdebatan hangat. Apalagi ketika konsep wisata itu ingin diterapkan di Bali, pulau terindah di dunia yang menjadi destinasi wisata nomor wahid di Indonesia. Karuan saja Ide Bang Sandi mendapat penolakan dari sejumlah elemen masyarakat di Bali.

Bali tanpa label halal tetap diminati. Mereka yang tidak paham arti kata halal sampai yang mengagungkan kehalalan datang untuk melihat keindahan Bali. Bahkan Raja Salman, pemimpin dari negara Islam yang menjadi penguasa kota paling suci buat umat Islam, memilih berlibur ke Bali ketika dia datang ke Indonesia pada Maret 2017, beristirahat (liburan) selama 6 hari di Bali. Bersama Raja Salman, ada 19 Pangeran dan seribu lebih anggota rombongan yang ikut serta.

Artinya tanpa label wisata halal, siapa pun tetap ingin datang ke Bali. Mengapa Raja Salman tidak datang ke Lombok, Sulsel atau Aceh yang juga memiliki tempat-tempat indah? Aceh bahkan menerapkan Hukum Syariah.

Di tempat judi casino terbesar di Asia Tenggara, Genting, Malaysia, saya melihat ada keluarga Arab yang datang — isterinya memakai penutup wajah. Tentu saja bukan untuk berjudi, tetapi berwisata kawasan Genting Highland yang menyatu dengan casino.

Pertanyaannya kemudian, apakah benar wisatawan yang datang dari negeri-negeri muslim, terutama dari Timur Tengah benar-benar ingin datang ke tempat wisata halal? Bagaimana dengan wisatawan yang berbondong-bondong datang ke kawasan Puncak Bogor, bahkan ada yang sampai “bertelor” di sana?

Kembali kepada gagasan Sandiaga Uno, kita harus melihat pada konteks. Apa yang diucapkannya dulu adalah ketika ia sedang ikut kontestasi Capres – Cawapres di Indonesia. Ketika itu dia menjadi Cawapres mendampingi Prabowo Subianto. Bisa jadi gagasannya adalah sebagai cara untuk menarik perhatian (attractivness) bagi calon pemilih muslim yang sangat besar di negeri ini.

Namun perjalanan hidup manusia memang tidak bisa direncanakan oleh manusia itu sendiri. Kini Sandi menjadi Menteri Pariwiisata dan Ekomomi Kreatif (Menparekraf) menggantikan Wishnutama. Belum seminggu dia diangkat, Sandi sudah meminta agar perdebatan wisata halal itu dihentikan. Sudah sadar dia!

Sebagai menteri tantangan Sandiaga Uno adalah, bagaimana dia menghidupkan wisata di tempat-tempat halal, di daerah yang menerapkan Hukum Syariah seperti di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) atau daerah-daerah yang cenderung suka menerbitkan Perda Syariah.

Pada Maret 2017 saya mendatangi beberapa obyek wisata di Aceh, termasuk ke Pulau Weh yang terkenal keindahannya. Ternyata tempat-tempat wisata di Aceh sangat sepi. Di Pantai Iboih yang indah, pada suatu malam, hanya ada 6 wisatawan asing sedang mendengarkan seorang lelaki sedang bermain gitar. Mungkin mereka sambil minum Kopi Aceh yang terkenal atau wedang jahe, karena alkohol sudah pasti dilarang di sana.

Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyatakan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) mengunjungi Provinsi Aceh sepanjang 2019 mencapai 34,4 ribu orang, turis Malaysia masih mendominasi kunjungan ke daerah berjulukan Serambi Mekkah tersebut.

Pada tahun yang sama Wisman ke Bali mencapai 5.738.385.

Kini dengan jabatannya sebagai Kemenparekraf, sekali lagi, tantangan terbesar Sandiaga Uno adalah menghidupkan wisata di daerah-daerah halal, agar perekonomian di sana ikut terdongkrak. Bagaimana wisatasan bisa nyaman di tempat-tempat tersebut, senyaman orang datang membawa uang ke Bali. Bisa ora son?

Sandiaga, atau siapapun tidak perlu punya ide aneh-aneh untuk Bali, tidak perlu memprokosikan Bali, karena Bali sudah dewasa, sudah bisa berjalan sendiri.

Share This: