Mengintip Acara Halal Bihalal Keluarga Betawi.

Halal Bihalal di Keluarga alhamrhum H. Moertadi bin Naib di Pasar Minggu, Jakarta, 8 Juli 2017. (Foto: HW)
_
Sebagian keturunan almarhum H. Moertadi bin Naib sudah lansia (Foto: HW)

Hiasan berbentuk ondel-ondel terbuat dari styrofoam dan kertas warna seakan menyambut kedatangan tamu-tamu yang terus mengalir sejak pukul 09.00 WIB hingga siang. Lagu-lagu gambang kromong modern yang dinyanyikan oleh seniman Betawi Benyamin S terus berkumandang. Sekitar pukul 11.00 sudah ratusan yang datang, memenuhi kursi-kursi yang disediakan di bawah tenda, dan tikar di sebuah ruangan untuk lesehan.

Guna menampung tamu yang datang, rumah di sebelah yang masih kerabat tuan rumah juga disediakan bagi tamu-tamu yang tak tertampung di rumah yang dijadikan tempat berkumpul para tamu, yang merupakan keturunan almarhum H. Moertadi bin Naib.

Sekitar 200-an orang yang datang, besar-kecil, tua-muda. Tamu yang tidak mendapat tempat di dua rumah yang disediakan, bahkan duduk di kursi yang dijejer di pinggir jalan.

Hari itu, Sabtu, 8 Juli 2017, adalah acara halal bihalal keluarga besar H. Moertadi bin Naib, seorang tokoh Betawi di Kelurahan Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Selain spanduk di jalan masuk Jl. AUP Barat I, di pintu gerbang rumah dipasang hiasan berbentuk ondel-ondel.

Ketupar sayur dan semur tahu, tak ketinggalan (Foto: HW)

“Luar biasa, kami tidak menyangka tamu yang datang begitu banyak. Diperkirakan hampir 80 persen keturunan Haji Moertadi bin Naib yang datang,” kata Syaiful Akbar, biasa dipanggil Ipung,  cucu almarhum yang menjadi Ketua Panitia Halal Bihalal.

Karena banyaknya anggota keluarga yang datang, setiap keluarga diminta mengisi nama keluarganya dalam sebuah buku yang disediakan panitia, untuk mendata nama-nama anggota keluarganya.

Sebelum acara inti dimulai, mereka yang datang bisa menikmati makanan ringan berupa rebusan kacang tanah, singkong, ubi dan talas. Di meja juga disediakan kopi dan teh manis. Di meja sebelah terlihat 2 buah roti buaya yang cukup besar. Roti buaya merupakan sejenis roti berbentuk buaya yang selalu ada dalam setiap acara penting masyarakat Betawi, baik acara khitanan, pernikahan maupun hajatan lainnya.

Oleh panitia setiap keluarga diminta untuk mengikuti sesi foto keluarga dengan latar belakang spanduk berbunyi “Halal Bihalal Keluarga Besar H. Moertadi bin Naib”.

Memang tidak semua anggota keluarga dari keturunan H. Moertadi yang hadir. Namun demikian jumlah anggota keluarga yang mengikuti sesi foto, jumlahnya cukup banyak. Ada keluarga yang terdiri dari 10 orang, 20 orang atau bahkan 30 orang. Di antara keturunan alharhum adalah pendiri dan Ketua Umum pertama Ikatan Jurnalis Televisi Indoesia (IJTI), Haris Jauhari dan Direktur Utama Perum Film Negara (PFN), Muhammad Abduh Azis.

Roti buaya, roti yang penting dalam acara masyarakat Betawi (Foto: HW)

“Emang keluarga Uwan udah menyebar ke mana-mana. Selain di Jakarta ada yang di Bogor, di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Bahkan di luar negeri seperti Amerika juga ada,” kata Muhammad Agip, cucu pertama almarhum dari isteri kedua.

Uwan adalah panggilan kehormatan orang Betawi untuk lelaki tua yang sudah menunaikan ibadah haji,

Setelah melakukan sesi foto, anggota keluarga yang ingin memberikan testimoni diberi kesempatan. Suasana terasa haru ketika ada anggota keluarga yang menyatakan betapa pentingnya acara semacam ini, karena bisa saja ada keturunan yang tidak saling mengenal karena ikatan keluarga sudah semakin jauh. Sudah ada peristiwa terkait hal itu.

“Dulu ada keluarga kita yang dibacok di pasar. Eh usut punya usut yang ngebacok keluarga kita juga,” kata Nazar, salah seorang cucu almarhum H. Moertadi ketika memberikan tentimoni.

Usai acara inti, tuan rumah mempersilahkan semua yang datang untuk menikmati makanan. Hidangan yang disediakan adalah menu khas Betawi. Seperti sayur asem, gado-gado, semur jengkol, dan lain-lain. Selain itu ada pula ketupat sayur dengan semur tahu yang berbau harum kayu manis. Setelah makan, sebagian anggota keluarga berziarah ke makam almarhum yang terletak di tanah wakaf di belakang rumah tempat acara berlangsung.

Sebagian anggota keluarga terpaksa berdiri (Foto: HW)

Usai makan bagi yang ingin saling mengenal dipersilahkan untuk beramahtamah, sedangkan yang memiliki bakat menghibur, bisa menyumbangkan suaranya untuk menghibur. Lagu-lagu dangdut pun mengalun dari beberapa orang. Sebagian anggota keluarga, tua-muda berjoget gembira.

Almarhum H. Moertadi bin Naib, seorang tokoh Betawi di Kelurahan Jati Padang. Lelaki yang lahir tahun 1800-an (tidak satu pun keturunannya yang tahu persis tahun berapa almarhum lahir), sudah memiliki ratusan keturunan. Sampai saat ini sudah memasuki generasi kelima. Almarhum meninggal dunia tahun 1968 pada usia sekitar 90 tahun.

“Kalau dari anaknya aja masing-masing punya anak lima, lalu cucu-cucunya punya anak lima, belum lagi cicit, mungkin sudah seribuan lebih jumlahnya,” kata Ipung.

Keturunan almarhum berziarah di makan almarhum H. Moertadi bin Naib di makam keluarga. (Foto: HW)

Di masa hidupnya H. Moertadi memiliki dua isteri, masing-masing Djaonah yang memberinya 6 anak, yakni Hamidah, Djahwan, Hamzah, Gozali, Nurhazan dan Hamimah.

Dari isteri kedua, Siti Mariyam ia mendapatkan 4 anak, masing-masing Yusuf, Zubaedah, Rohmani dan Mansyuri.

Keturunan almarhum yang lain menceritakan, betapa alharhum adalah seorang lelaki yang berwibawa, ramah dan sangat dikenal oleh masyarakat di Pasar Minggu.

Almarhum H. Moertadi yang semasa hidupnya berprofesi sebagai pembuat furniture, dikenal memiliki tanah yang cukup luas di Jatipadang. Sayang anak-anaknya ketika itu tidak terlalu perduli, sehingga ada tanah almarhum saat ini ada yang dikuasai oleh pihak lain, yakni sebidang tanah seluar 4 hektar lebih yang kini dijadikan Sekolah Tinggi Perikanan oleh Kementerian Pertanian di Pasar Minggu. Keturunan almarhum kini sedang menempuh jalur hukum untuk menggugatnya.

Organ tunggal dan lagu-lagu dangdut, ikut memeriahkan suasana (Foto: HW)

Acara “Halal Bihalal” keluarga besar almarhum H. Moertadi tahun ini merupakan yang kedua kali diadakan. Yang pertama pada tahun 2001, 16 tahun yang lalu. Suasana guyub, sedih dan gembira bercampur menjadi satu dalam acara itu, meski pun bagi yang muda-muda, memainkan gadget masih dominan daripada keinginan untuk saling mengenal. Jaman memang sudah berubah.

Share This: