Mengunjungi Johor Island: Menikmati Keindahan dan Ketenangan Pulau Besar (Bagian I)

Resort di Pulau Besar dengan latar belakang perbukitan dan hutan perawan. (Foto: HW)
_

Atas undangan Johor Tourism dan Malaysia Travel Information Center (MaTIC), BALAIKITA mendapat kesempatan untuk mengunjungi obyek wisata di Johor Island (Kepulauan di Kesultanan Johor), yakni Pulau Babi Besar (sering disebut Pulau Besar) dan Pulau Tinggi, di Mersing.

Wisatawan bisa menelusuri bagian Barat Pulau dengan berjalan kaki atau naik sepeda dalam suasana teduh. (Foto: HW)

Namun perjalanan ke Johor tidak melalui rute terdekat, yakni melalui Batam – Singapura – Johor, melainkan dari Kuala Lumpur (KL). Karena jadwal berangkat berangkat dari halaman kantor MaTIC pukul 05.30 waktu Malaysia, maka sehari sebelumnya saya sudah sampai KL dan menginap di sebuah hotel di kawasan KL Sentral.

Pk.4.30 (14/04/2018) BALAIKITA memesan grabcar ke MaTIC dengan tarif R8 (delapan Ringgit). 15 menit perjalanan mobil yang saya tumpangi tiba di halaman parkir MaTIC. Di sana sudah ada puluhan jurnalis yang akan ikut rombongan menuju Mersing, Johor.

Setelah mengisi daftar hadir dan semua peserta kumpul, bus berangkat dari Matic menuju Mersing. Perjalanan menuju Mersing melalui highway yang mulus. Infrastruktur di Malaysia memang dibangun dengan baik.

Lepas dari Kuala Lumpur pemandangan hanya didominasi oleh perkebunan kelapa sawit. Pohonnya sudah tua-tua dan banyak yang diganti dengan pohon-pohon baru. Sesekali kami menjumpai pepohonan jatin di kiri-kanan jalan. Pemandangan monoton dan aspal yang mulus membuat kamu mengantuk. Nyaris semua penumpang tertidur.

Bus sempat berhenti di rest area. Kami yang belum sarapan memesan makanan dari kios-kios kecil. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Mersing. Sekali lagi sopir menepikan kendaraannya di sebuah rest area untuk memberi kesempatan kepada penumpang yang ingin buang air kecil. Setelah itu perjalanan non stop hingga ke Mersing.

Pukul 13.00 bus  sampai di Kota Mersing, tepatnya di Mersing Harbour Centre (Pelabuhan speedboat Mersing).

Kami disambut oleh sekelompok pemain rebana dan wanita berpakaian khas wanita Malaysia. Staf dari Johor Tourism memberikan ucapan selamat datang dan membagi-bagikan tanda pengenal. Kami lalu dipersilahkan duduk mengelilingi beberapa meja bulat untuk makan siang. Ahmad Nizam dari Johor Tourism menyambut kami dengan ramah. Selesai makan kami langsung menuju pelabuhan. Rombongan menaiki lima speedboat yang sudah tersedia, menuju destinasi wisata unggulan di lepas pantai Johor.

Di Johor terdapat beberapa pulau yang menjadi destinasi wisata unggulan, yakni Pulau Besar, Pulau Tengah, Pulau Rawa, Pulau Dayang, Pulau Pemanggil, Pulau Aur yang kecil, Pulau Tinggi dan Pulau Sibu. Tujuan kami adalah Pulau Besar. Lebih ke arah Barat Laut ada Pulau Tioman yang terkenal, tetapi itu masuk ke Kesultanan Pahang.

30 menit perjalanan dari pelabuhan Mersing, speedboat merapat di dermaga Pulau Besar. Kami disambut oleh nyanyian kelompok vokal oleh 7 orrang lelaki yang menyanyi dengan suara koor yang kompak. Sosok mereka seperti orang Indonesia Timur. Rambut ikal dan kulit agak kelam terbakar matahari. Belakangan baru diketahui bahwa mereka adalah orang Sangir (Sangihe Talaud), Sulawesi Utara, yang bekerja di Bayu Lestari Resort . Lagu yang dinyanyikan mirip lagu koor gereja.

Kami berkumpul sebentar di restoran milik Bayu Lestari Resort untuk menikmati makanan yang disediakan. Rombongan lalu dibagi tempat menginap di beberapa bilik dengan kapasitas berbeda. Ada yang bisa ditempati 4 orang, 3, 5 hingga 7 untuk bangunan berlantai dua. Bangunan kayu milik Bayu Lestari Resort sangat artistik. Bangunan-bangunan itu ternyata dibuat oleh orang-orang Woloan, Minahasa, Sulawesi Utara.

Bangunan kayu di resort Bayu Lestari dibangun oleh orang-orang Woloan, Sulawesi Utara. (Foto: HW)

“Saya pergi ke Manado untuk memcari pembuat rumah-rumah kayu di sini,” kata Denis, pemuda anak pemilik resort.

Kami diberi waktu satu jam untuk menaruh barang-barang dan memilih tempat tidur. Setelah itu kami mengikuti agenda pertama, menelusuri Pulau Besar.

Menurut staf dari Johor Tourism, Ahmad Nizam, Pulau Besar dahulu dihuni oleh penduduk. Tetapi penduduk sudah menjual tanahnya kepada beberapa pemilik resort, sehingga tidak ada lagi penduduk yang menetap. Masih ada beberapa bangunan bekas penduduk dan barang-barangnya yang sudah rusak yang dibiarkan teronggok.

Setelah melewati bekas perkampungan penduduk, kami menelusuri jalan setapak melewati kawasan yang masih penuh pepohonan. Di sebuah pohon cemara di tepi pantai terlihat puluhan kalong bergelantungan. Tak ada yang mengusik. Tidak jauh dari sana ada resort besar lainnya, namun terkesan tenang dan tidak banyak wisatawan. Lebih ke ujung lagi ada Coconut Island Resort.

Resort-resort di Pulau Besar sangat tenang, tidak ada musik hingar bingar atau turis berpakaian seronok yang mondar-mandir. Resort di Pulau Besar cocok untuk liburan keluarga yang ingin menghilangkan kepenatan rutinitas dan suasana kehidupan kota besar yang ramai.

Suasana resort yang tengang di Pulau Besar (Foto: HW)

Pulau Besar memiliki pantai yang panjang dan cukup lebar. Pasirnya putih halus nyaris seperti tepung. Airnya jernih, sehingga sangat menyenangkan untuk mandi dan bermain-main air di pantai. Di beberapa tempat terdapat spot untuk menyelam (diving) dan snorkling.

Alhasil hari itu kami hanya melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang hunting foto, bermain kayak, menelusuri pantai, berenang atau bermain tarik tambang. Pada malam harinya diadakan pesta barbaque. Ada daging kambing dan ayam, serta sate. Sayang tidak ada ikan laut. Rasanya aneh. Wisata pantai tetapi tidak ada ikan bakar.

“Tidak semua orang suka ikan, tetapi kalau ada pesanan sebelumnya, akan kami udahakan. Saran itu akan kami perhatikan,” kata Denis kepada BALAIKITA.

Agenda lain yang disiapkan panitia adalah melalukan trekking melewati hutan lebat dan perbukitan untuk menuju pantai di bagian Timur yang menghadap ke Laut Cina Selatan. Sayang agenda itu tidak bisa dilakukan, karena pagi hari esoknya cucaca kurang baik. Hujan turun sejak pagi hingga menjelang siang.

Pantai yang landai dengan air yang jernih dan pasir putih di Pulau Besar. (Foto: HW)

“Jalannya licin dan berbahaya kalau hujan,” kata Husen staf di Bayu Lestari Resort kepada BALAIKITA, yang rencananya akan memandu kami melakukan trekking.

BALAIKITA hanya mondar-mandir untuk mencari spot pemotretan terbaik. Beruntung di dekat dermaga ada tiga ekor burung elang dengan warna berbeda, sedang mencari ikan. Sesekali elang-elang tersebut menukik ke per mukaan air lalu pergi menuju perbukitan di belakang resort, sambil membawa ikan dalam cengkeramamnya.

Bagi fotografer yang memiliki perlalatan memadai dan kemampuan teknis mumpuni, ini merupakan momen langka yang tidak boleh dilewatkan. Sungguh sulit melihat elang menangkap ikan yang muncul di permukaan laut. Di Pulau Besar hal itu sangat mudah dilihat. Elang berulang kali menerkam ikan lalu membawa hasilnya ke sarangnya di perbukitan.

“Kalau beruntung, kita akan melihat elang paruh emas, badan dan sayapnya coklat putih. Paruhnya kuning seperti emas. Saya pernah memotretnya di Coconut Island, tapi dia cuma singgah sebentar, lalu terbang lagi,” tutur Husen penuh semangat.

Entah jodoh atau kebetulan. Elang yang dimaksud melintas terbang di atas ban

Kami berkumpul sebentar di restoran milik Bayu Lestari Resort. Rombongan lalu dibagi tempat menginap di beberapa bilik dengan kapasitas berbeda. Ada yang bisa ditempati 3, 4, atau bahkan 7 orang untuk bangunan bertingkat.

Kami hanya diberi waktu satu jam untuk memilih tempat tidur dan beristirahat sebentar. Setelah itu kami diminta kembali ke restoran untuk menikmati makanan yang disediakan oleh Bayu Lestari Resort. Setelah makan kami diiajak untuk menelusuri jalan setap ke bagian Barat pulau, untuk melihat-lihat bekas perkampungan warga.

Menurut staf dari Johor Tourism, Ahmad Nizam, Pulau Besar dahulu dihuni oleh penduduk. Tetapi penduduk sudah menjual tanahnya kepada beberapa pemilik resort, sehingga tidak ada lagi penduduk yang menetap. Masih ada beberapa bangunan bekas penduduk dan barang-barangnya yang sudah rusak yang dibiarkan teronggok.

Setelah melewati bekas perkampungan penduduk, kami menelusuri jalan setapak melewati kawasan yang masih penuh pepohonan. Di sebuah pohon cemara di tepi pantai terlihat puluhan kalong bergelantungan. Tak ada yang mengusuik. Tidak jauh dari sana ada resort besar lainnya, namun terkesan tenang dan tidak banyak wisatawan. Lebih ke ujung lagi ada Coconut Island Resort.

Resort-resort di Pulau Besar sangat tenang, tidak ada musik hingar bingar atau turis berpakaian seronok yang mondar-mandir. Resort di Pulau Besar cocok untuk liburan keluarga yang ingin menghilangkan kepenatan rutimitas dan suasana kehidupan kota besar yang ramai.

Pulau Besar memiliki pantai yang panjang dan cukup lebar. Pasirnya putih halus nyaris seperti tepung. Airnya jernih, sehingga sangat menyenangkan untuk mandi dan bermain-main air di pantai. Di beberapa tempat terdapat spot untuk menyelam (diving) dan snorkling.

Wisatawan bisa bermain kayak (cano) dengan tenang di Pantai Pulau Besar (HW)

Alhasil hari itu kami hanya melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang hunting foto, bermain kayak, menelusuri pantai, berenang atau bermain tarik tambang. Pada malam harinya diadakan pesta barbaque. Ada daging kambing dan ayam, serta sate. Sayang tidak ada ikan laut. Selama kami di Pulau Besar dan Pulau tinggi, tidak sekali pun mencicipi ikan. Di Indonesia, menu yang paling digemari bagi wisatawan pantai adalah ikan bakar.

“Tidak semua orang suka ikan, tetapi kalau ada pesanan sebelumnya, akan kami udahakan. Saran itu akan kami perhatikan,” kata Denis, putra pemilik resort.

Agenda lain yang disiapkan panitia adalah melalukan trekking melewati hutan lebat dan perbukitan untuk menuju pantai di bagian Utara yang menghadap ke Laut Cina Selatan. Sayang agenda itu tidak bisa dilakukan, karena pagi hari esoknya cucaca kurang baik. Hujan turun sejak pagi hingga menjelang siang.

“Jalannya licin dan berbahaya kalau hujan,” kata Husen staf di Bayu Lestari Resort yang rencananya akan memandu kami melalukan trekking ke pantai sebelah Utara.

BALAIKITA hanya mondar-mandir untuk mencari spot pemotretan terbaik. Beruntung di dekat dermaga ada tiga ekor burung elang dengan warna berbeda, sedang mencari ikan. Sesekali elang-elang tersebut menukik ke per mukaan air lalu pergi menuju perbukitan di belakang resort, sambil membawa ikan dalam cengkeramamnya.

Bagi fotografer yang memiliki perlalatan memadai dan kemampuan teknis mumpuni, ini merupakan moment langka yang tidak boleh dikewatkan. Sungguh sulit melihat elang menangkap ikan yang muncul di permukaan laut. Di Pulau Besar hal itu sangat mudah dilihat. Elang berulang kali menerkam ikan lalu membawa hasilnya ke sarangnya di perbukitan.

“Kalau beruntung, kita akan melihat elang paruh emas, badan dan sayapnya coklat putih. Paruhnya kuning seperti emas. Saya pernah memotretnya di Coconut Island, tapi dia cuma singgah sebentar, lalu terbang lagi,” tutur Husen penuh semangat.

Entah jodoh atau kebetulan. Elang yang dimaksud melintas terbang di atas restoran Bayu Lestari Resort. Burung elang dengan warna kecoklatan sedikit putih itu terbang dengan tenang menuju perbukitan.

Pulau Besar merupakan  surga bagi burung-burung. Berbagai jenis burung bisa dilihat dengan mudah di sana – umumnya jenis jalak. Banyak burung yang bermain dan mencari makan di pinggir pantai atau pepohonan yang ada di sekitar situ.

Di belakang resort-resort yang dibangun memang masih terdapat hutan perawan hingga ke perbukitan stinggi 500 meter. Berbagai jenis hewan hidup di sana.

“Di atas masih ada lutung, monyet, ular dan jenis kelabang besar. Saya pernah menemukan kelabang sebesar ini,” kata Husen sambil menunjukan tangannya sampai ke siku.

“Tapi jarang hewan-hewan itu yang turun ke sini. Di sama masih banyak pohon-pohon tua yang besar-besar!” tambah Husen.

Sebenarnya mengunjungi Pulau Besar tak ubahnya seperti mengunjungi Kepulauan Seribu di Jakarta. Namun yang tak bisa dibantah, alam di Pulau Besar sangat terjaga. Hutan-hutan dan hewan-hewan tidak ada yang mengusik, lautnya bersih.

Untuk menuju Kepulauan di Johor (Johor Island) tidak perlu harus melalui Kuala Lumpur. Melalui Singapura lebih dekat, atau langsung menggunakan penerbangan hingga ke Bandara Senai di Johor.

“Kalau mau datang ke sini antara bulan Mei hingga Agustus, karena pada bulan-bulan itu laut di sini sangat tenang. Biasanya banyak ekspatriat Eropa yang bekerja di Singapura, berlibur ke sini bersama keluarganya,” tutur Denis.

Share This: