Mengunjungi Johor Island: Peristirahatan Sultan Johor, dan Air Kelapa Beraroma Pandan (Bagian II – Habis)

Foto-foto: HW
_

Agenda kami pada hari kedua adalah menuju ke Pulau Tinggi. Selepas makan siang kami membawa barang ke dalam speedboat yang akan membawa ke Pulau Tinggi. Dari Pulau Besar, pulau ini terlihat seperti gunung berapi yang menyembul dari dalam laut.

Speedboat yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan penuh. Percikan air dari gelombang yang terbelah badan kapal mengenai tubuh kami. Kadang badan boat terhempas ke permukaan air, menimbulkan suara yang agak keras.

Pantai Pulau Tinggi dilihat dari ujung dermaga speedboat. (Foto: HW)

Setengah jam kemudian speedboat sudah mendekati sebuah pulau. Tetapi pengemudi sengaja membelokan kapal mengitari sebuah bangunan megah yang indah di tengah laut. Bangunan itu adalah tempat peristirahatan  Sultan Johor dikala liburan. Kesempatan itu kami gunakan untuk memotret. Tetapi kami diminta untuk tidak mempublikasikan bangunan tersebut.

Speedboat yang kami tumpangi akhirnya merapat di dermaga Pulau Tinggi. Selain terdapat resort, di Pulau ini juga terdapat instalasi penting dan permukiman penduduk. Kami lalu diajak masuk ke kawasan TAD Marine Resort. Dibandingkan dengan Bayu Lestari Resort di Pulau Besar, TAD Marine terkesan lebih terbuka. Tidak jauh dari pos jaga terdapat sebuah kolam renang terbuka. Di tempat itu makan malam diadakan.

Suasana di TAD Marine Resort tidak setenang dan seteduh resort-resort di Pulau Besar. Pantainya panas, karena pepohonan besar sudah ditebang, hanya meninggalkan pangal bawahnya saja. Menurut seorang awak media dari Kuala Lumpur yang ikut dalam rombongan, pohon-pohon itu sengaja ditebang dan diambil kayunya untuk bangunan-bangunan di resort.

Bangunan di TAD Marine, ada beberapa macam. Ada bangunan tunggal dan berbentuk kopel dua lantai. Mirip barak tentara. Namun bagian interiornya dibuat seperti kamar hotel dengan AC yang dingin.

BALAIKITA melewati malam di TAD Marine untuk bertirahat karena sejak tiba hingga sore hari hanya berkeliling untuk mencari spot pemotretan yang bagus. Beberapa awak media bernyanyi di karaoke yang ada di resort tersebut. Pada pukul 21.00 waktu setempat ada tawaran untuk melihat penyu bertelur di tepi pantai. Tetapi setelah berjalan sejauh 300 meter dari resort, tidak ada penyu bertelur.

“Biasanya penyu akan naik ke pantai pukul duabelas,” kata seorang pemuda yang bertugas di sana.

Johor Island merupakan tempat yang disenangi  penyu dan dugong. Penyelam yang beruntung akan menemui kedua hewan ini dalam penyelaman mereka, meski diakui dugong adalah mahluk air yang misterius dan sulit ditemukan.

Esoknya kami diminta untuk menaiki speedboat untuk melihat dan mendatangi beberapa spot menarik. Antara la.n tebing  karang yang memiliki gua kecil dan selat yang sangat kecil di antara dua pulau karang. Celah yang kecil tapi dalam itu bahkan tidak bisa dilewati oleh speedbot. Pemandangan di sini cukup indah.

Dari tempat itu speedboat kembali melaju menuju ke sebuah pulau kecil yang lain. Speedboat berhenti sebentar di pinggir pulau. Air di sini sangat jernih berwarna hijau tosca, sehingga dasar laut kelihatan. Cuma sebentar di sana, speedboat kembali bergerak, dan berhenti di sebuah pulau kecil yang memiliki pantai mini berpasir putih. Kami diminta turun di tempat itu.

“Kita akan melakukan snorkling di sini. Ayo semua turun,” pinta Ahmad Nizam dari Johor Tourism.

Speedboat merapat di pulau kecil tersebut. Peralatan snorkling dibagi-bagikan. Hampir semua mengambil, walau ada beberapa orang yang tidak turun ke air.

“Di tempat ini kalau mau melihat ikan Nemo,” kata Ibu Rose, pemilik Bayu Lestari Resort yang ikut bersama rombongan.  BALAIKITA mengambil satu peralatan snorkling, dan mencoba melihat ke dasar laut. Lautnya jernih, terumbu karangnya masih terawat. Bunga-bunga karang “bermekaran”. Tetapi karena kurang ke tengah, BALAIKITA tidak menemukan Nemo. Hanya beberapa ikan kupu-kupu dan jenis ikan kecil lainnya yang bersliweran. Seorang awak media membawa roti dalam genggamannya. Dengan roti di tangan dia mengaku dikerubuti ikan.

Satu jam kami berada di pulau karang kecil itu, kegembiraan bermain air dan snorkling berakhir. Kami diminta naik kembali ke speedboat untuk menuju Kampung Tok Mok. Di Tok Mok kami disajikan kelapa muda yang langsung dipetik dari pohonnya di tepi pantai. Di tengah panas yang menyengat, rasa lelah sehabis bermain-main di laut, terbayar dengan rasa air kelapa yang nikmat. Air kelapa di Tok Mok bukan saja manis, tetapi baunya harum seperti diberi daun pandan.

Kami tidak lama di Kampung Tok Mok. Hanya menukmati kelapa muda dan melihat Rumah Tok Mok yang di dalamnya terdapat seluruh Sultan Johor dan Permaisuri mereka, turun-temurun. Dari Tok Mok kami kembali ke Pulau Tinggi.

Foto keluarga Sultan Johor

Di Pulau Tinggi ada tawaran untuk melihat air terjun (waterfall), letaknya di leremg Gunung Semudu. Gunung Semudu memiliki tinggi 2000 meter di atas permukaan laut, sehingga Pulau Tinggi terlihat dari pulau-pulau di sekitarnya.

Hanya beberapa orang saja yang ingin melihat air terjun di Gunung Semuda. BALAIKITA salah satunya. Sedangkan yang lain memilih untuk menikmati makan siang dan kembali ke kamar masing-masing. Di bawah terik matahari menyengat, menikmati makan siang atau melepas lelah di kamar berpendingin, memang nikmat.

Untuk mencapai air terjun kami harus menelusuri pantai hingga ke ujung pantai yang berbatasan dengan tebing batu, tidak jauh dari tempat peristirahatan keluarga Sultan Johor. Dari sana jalan mulai menanjak. Ada undakan yang dibangun sepanjang beberapa meter. Nafas mulai memburu, kaki terasa pegal. Beruntung ada tambang yang dipasang dari pohon ke pohon untuk membantu pendaki, sehingga cukup menolong mengurangi beban tubuh dan jalan yang licin di beberapa tempat.

Air terjun mini di Pulau Tinggi. (Foto: HW)

Sekitar 15 menit berjalan, kami sampai di jalan menurun. Suara air terjun sudah terdengar, membuat semangat kami timbul. Ternyata lokasi air terjun memang tidak jauh. Melewati dua tikungan menurun dan sebuah tebing terjal, sampailah kami di air terjun. Untuk menuruni tebing terjal disediakan dua buah tambang yang dipasang berjajar. Lagi-lagi ini sangat menolong. Andaikata jalur-jalur pendakian gunung di Indonesia diberi fasilitas seperti ini, alangkah sangat berguna.

Air terjun di Gunung Semudu tidak terlalu tinggi. Hanya kira-kira 30 meter tingginya. Di bawahnya berbentuk kolam, sebagai proses alam akibat curahan air. Beberapa dari kami mandi di dalam kolam alami berdiameter kira-kira 10 meter.

Dibandingkan banyak air terjun di Indonesia, air terjun di Gunung Semudu tergolong kecil. Namun demikian ini menjadi salah satu spot yang tidak boleh dilewatkan bila berkunjung ke Pulau Tinggi. Apalagi air terjun ini berada di tengah hutan perawan yang masih terjaga keasriannya.

Melihat air terjun di Gunung Semudu adalah trip terakhir kami di Johor Island. Siang itu kami meninggalkan Pulau Tinggi untuk kembali ke Kuala Lumpur, melalui Pelabuhan Tanjung Leman. Pelbuhah khusus speead boat ini hanya 30 menit dari Pulau Tinggi. Lebih dekat jika dibandingkan melalui Pelabuhan Mersing.

Pelabuhan Tanjung Leman tidak terkalu besar, retapi memiliki tempat parkir yang luas. Di situ juga terdapat sebuah bangunan besar yang bersih, terdapat beberarapa warung penjual makanan di dalamnya.

Di Tanjung Leman BALAIKITA — bersama empat awak media lain — berpisah dengan rombongan. BALAIKITAN dan empat awak media lainnya naik ke sebuah van yang akan membawa ke Kuala Lumpur, s9edangkan mayoritas anggota rombongan naik bus yang membawa kami dari Kuala Lumpur.

Ada beberapa catatan menarik dari kunjungan di Johor Island. Pengelolaan wisata di sini dikelola secara profesional. Antara transportasi dan akomodasi terintegrasi walau berada di bawah pengelolaan terpisah.

Lokasi yang bisa dinikmati oleh wisatawan sangat beragam, karena kondisi alam di Johor Island yang sangat mendukung. Alam di Johor Island sangat terjaga. Hutannya masih asri, dan hewan-hewan di sana, terutama burung-burung, tak ada yang mengusik. Sayang di Pulau Tinggi kami masih menemukan sampah yang berserakan, terutama botol plastik bekas minumanyang terbawa gelombang laut hingga terdampar di pantai. Nampaknya tidak ada petugas khusus yang menangani kebersihan pantai.

Seekor burung bermain di dekat sampah bekas kaleng cat di pantai Pulau Tinggi. (Foto: HW)

Namun demikian dari kedua pulau yang kami kunjungi – Pulau Besar dan Pulau Tinggi, Johor Island merupakan tempat yang recomended untuk berlibur, terutama bagi mereka yang selalu menghadapi rutinitas dan kesibukan kota besar. Selain kedua pulau itu masih terdapat beberapa pulau lain yang juga sudah menjadi tujuan wisata.

“Di Pulau Tengah tempatnya lebih eksklusif, tetapi harganya sangat mahal, bisa mencapai tiga ribu ringgit per malam (RM 3000),” kata salah seorang wartawati dari Kuala Lumpur yang ikut dalam rombongan

Untuk mencapai Johor Islamd, bila dari Indonesia bisa melalui Singapura atau langsung ke Bandara Senai di Johor. Rute ini jauh lebih dekat dibandingkan melalui Kuala Lumpur. (Selesai).

Share This: