Menikmati Lagu Papua Dalam Konser “Tribute to Rio Grime”

Salah seorang penyanyi yang tampil dalam konser Papua Dalam Cinta "Tribute to Rio Grime" (Foto: HW)
_

Ada suasana yang berbeda di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, Selasa (31/10/2017), malam. Sejumlah penyanyi dan musisi Papua menggoyang panggung yang selama ini lebih banyak digunakan untuk kegiatan budaya.

Para musisi Papua dengan penampilannya yang khas dan suara yang merdu – sebagian membawakan lagu-lagu bernada tinggi, menyanyikan lirik-lirik menarik karya grup musik legendary Rio Grime. Sebagian lagu menggunakan lirik berbahasa Papua, walau pun jenis musiknya sangat akrab di telinga. Ada irama pop, R&B, rock, reggae dan sedikit blues.

Dengan iringan sebuah big band, ada pula kelompok musik yang memainkan musiknya sendiri, para penyanyi Papua memperdengarkan suara mereka yang memanjakan telinga. Walau pun para penonton non Papua tidak mengerti bahasa yang digunakan dalam sebagian lirik lagunya, tetapi irama musiknya bisa diterima.

Para penggemar musik pop di masa lalu mungkin masih ingat dengan grup musik Black Brother yang melahirkan hit Bintang Jatuh”, “Cinta dan Pramuria”, “Hilang” dan banyak lagi.

Selain itu masih ada beberapa grup musik lainnya yang sangat terkenal, khususnya di Papua, yakni “Black Papas”, “Black Sweet”, dan “Rio Grime”, selain beberapa vokalis solo seperti Edo Kondologit, Nowela, Michael Herman Jakarimilena atau Michel Idol, dan banyak lagi.

Namun kemarin Puluhan musisi yang kurang akrab dengan penggemar musik di luar Papua, tampil seperti Papua Original, Abreso, Nowela, Edo Kondologit, Frans Sisir, Sandy Betay, Anafre Singer’s, Steve Waramori, Koba Womsiwor, Lala Suwages dan Michael Idol sangat enjoy menyanyikan lagu-lagu dari grup musik legendaris Rio Grime.

Semua memiliki kelebihan dan ciri khas masing-masing, sehingga penonton sangat terhibur dengan penampilan mereka.

Rio Grime dikenal oleh masyarakat Papua sebagai group legendaris yang berdiri sejak tahun 1980-an. Rio Grime memiliki aliran musik medley reggae. Group yang digawangi oleh Mechu Imbiri, Agus Bonay, Jack Demetouw, William Sawaki dan Bob Kalba telah merilis banyak Album, salah satu yang cukup terkenal berjudul “Wayawai Windawe”. Nama Rio Grime terinspirasi oleh sebuah nama sungai di Jayapura.

Pada album kedua “Irsinggit” Andy Manoby bergabung dengan Rio Grime, ketika Agus Bonay dan Bob Kaiba berhalangan. Kelompok vokal ini mulai dikenal luas pada dekade tahun 1980an. Nama Rio Grime berasal dari nama Sungai di Jayapura Papua. Kawarine diambil dari album : “Wayawai Windawe”.

Judhi Kristianto produser album Rio Grime mengatakan, sejak awal ia yakin bahwa kelompok Rio Grime memiliki kemamuan musik yang hebat. “Awalnya saya merekam  dengan sistim analog 24 track pake mixer 32 channel dan pita 2 inchi. Bener-bener jaman dulu. Tapi Hasilnya hebat,” kata Judhi mengisahkan.

Judhi juga mengakui bahwa sebagai produser dia tidak terpaku pada musisi di ibukota saja melainkan juga di pelosok-pelosok Indonesia. “Papua boleh dibilang gudangnya musisi bagus selain Maluku dan Nusa Tenggara untuk wilayah timur Indonesia. Saya ingin musik kita juga beragam seperti semboyan Bhineka Tunggal Ika,” katanya.

Konser Papua Dalam Cinta “Tribute to Rio Grime” yang berlangsung di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki berlangsung semarak. Sejumlah penyanyi Solo dan grup musik, hingga tari-tarian daerah tampil. Sebuah big band dengan sound system yang sempurna membuat penampilan para penyanyi sangat dinikmati penonton.

Sayang konser malam kemarin agak terganggu dengan soundsystem yang sempat mati sebelah, dan pengaturan rundown yang kurang tepat, sehingga di bagian tengah konser sedikit agar mengendurkan minat menonton.

Secara umum konser Papua dalam Cinta “Tribute to Rio Grime” menarik. Di antara penonton nampak Menpora Imam Nachrwori, Menteri PUPR Basuki Hadimulyo dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise.

 

 

 

Share This: