Menteri Pariwisata Jangan Pilih Kasih!

_

Oleh: Cocomeo Cacamarica

Malam minggu tadi malam, 19 Desember 2020, tidak sengaja mBah Coco melihat live streamning dari Konser 7 Ruang, yang digelar Donni Hardono, pemilik DSS. Kebetulan, yang tampil, pasukan “Elek-Elek Pandaan, Mas” alias ElPamas. Pasukan, Totok Tewel dan kawan-kawan, yang melantunkan hits grup classic rock legenda, sangat apik banget.

mBah Coco, jadi teringat bulan-bulan sebelumnya, Slank tampil di KompasTV, antara 4 Oktober sampai 1 November, setiap hari Minggu, tampil di KompasTV, lima (5) kali. Dari iklan promosi yang beredar, semuanya dibiayai kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, dibawah komando Wishnutama Kusubandio.

Menonton konsernya siaran langsung tanpa penonton, di lima lokasi destinasi, bagai mbah Coco memang topmarkotop, yaitu The Kaldera – Danau Toba, Sumatera Utara, Desa Penglipuran – Bangli, Bali, Pantai Seger – Mandalika, Lombok, Pasir Berbisik – Bromo, Jawa Timur, dan Kapal Pinisi – Labuan Bajo – NTT. Di mana setiap konser, Slank melantunkan tujuh lagu. Sambil, katanya mempertontonkan keindahan pariwisata Indonesia.

Yang jadi pertanyaan mBah Coco, emang kalau Slank dengan keliling ke lima titik, memperkenalkan destinasi premiun Indonesia, di saat pandemik, ada turis yang ngotot tetap akan datang?

Berapa biaya, satu titik konser Slank, yang disiarkan secara langsung oleh KompasTV?

mBah Coco, coba berhitung ongkosnya, seolah-olah sebagai EO. Membayar Slank diluar transportasi dan akomodasi, Rp 475 juta (dari CCTV mBah Coco)). Transportasi dan akomodasi Slank satu titik, sekitar Rp 100 juta. Tim produksi KompasTV, sekitar Rp 100 juta. Biaya siaran langsung, Rp 100 juta.

Nggak mungkin KompasTV hanya minta Rp 200 juta? Maka, ada biaya-biaya promosi, sebagai bagian dari slot iklan KompasTV. Nggak mungkin, KompasTV mau membuang slot hari Minggu prime time, dari pukul 21.00 sampai 22.00 (lima minggu), hanya dengan angka sebesar biaya tim produksi dan biaya siaran langsung?

Maka, kalau mBah Coco prediksi, Kemenparekraf bisa mengeluarkan dana tidak kurang dari Rp 3 miliar, per episode, untuk slot iklan KompasTV, dan anggaran Slank dan produksinya, mencapai Rp 700 juta, per episode.

mBah Coco, lambaga pariwisata, di bawah Wishnutama, terkesan tidak adil dan tidak kreatif. Kalau, memang berkreasti untuk kepentingan pariwisata. Harusnya, lembaganya Wishnutama, bisa bekerjasama dengan semua televisi swasta dan TVRI, untuk membuat event serupa, dengan genre musik yang berbeda-beda, sesuai target pemirsanya. Slank dipilih Menteri Pariwisata dan KompasTV, karena sesuai pangsa pasarnya.

Semua televisi, juga butuh iklan dan sponsor dari Kemenparekraf. Jangan hanya KompasTV saja. Musisi Indonesia, juga bukan Slank doang. Tapi, banyak jenis musik dari semua genre yang kesulitan mendapatkan pemasukan. Khususnya, di masa pendemik Covid-19 yang berkepanjanagan, karena nyaris satu tahun belakangan ini sangat terbelenggu, tanpa ada income bagi semua musisi dari berbagai genre musiknya.

Atau, dari awal harusnya, Slank berinisiatif dan memberi masukan kepada Menteri Pariwisata, bahwa yang bisa dan mampu serta siap mempromosikan destinasi premium di Indonesia, bukan hanya Slank doang. Melainkan, banyak musisi dan banyak grup band yang juga punya reputasi dan mampu ikutan jadi duta pariwisata Indonesia.

mBah Coco, sangat treyuh dengan program Konser 7 Ruang, yang dikelola Donni Hardono, yang terkesan ngamen. Tapi, tata cara membangun image – live streaming-nya, justru sangat asyik, sangat komunikatif, dan sangat kekeluargaan. Bahkan, karena komunikatif, sealah-olah imajinasinya, seperti ada di dalam gedung, bisa memesan lagu dan bisa langsung nyawer.

Acara Konser 7 Ruang inilah, yang harus dibantu total oleh pihak Kemenparekraf. Konser 7 Ruang, selain kreatif, juga sangat peduli dengan sbanyak musisi di tanah Air. Harusnya, di support dan diberi dana dari anggaran kementrian yang berlimpah itu.

Pasalnya, hingga sampai hari ini, Konser 7 Ruang, sudah memasuki episode ke-100. Tadi malam, malam Minggu 19 Desember 2020, mBah Coco mendengar pengumuman Donni Hardono, bahwa donasi yang terkumpul, mampu mencapai Rp 40 jutaan. Ini, sangat luar biasa. Ngamen emat jam, dapat puluhan juta.

Kalau anggaran Kemenparekraf, untuk 5 episode di KompasTv bisa mencapai Rp 20 miliar. Maka, menurut mBah Coco, seandainya anggaran tersebut, dibagi-bagikan sambil menggelar Konser 7 Ruang. Maka, berapa musisi dari berbagai genre yang bisa ditolong kehidupan mereka, sejak terkena musim pandemik, Maret – Desember 2020?

Anggaran Kemenparekraf untuk 2020, sebesar Rp 4.1 triliyun, dan tahun 2021 naik menjadi Rp 4.9 triliyun. Menurut mBah Coco, seharusnya Wishnutama, bisa anggarkan sebagian kecil dari anggaran untuk memulihkan dunia pariwisata dari pandemik, kepada para musisi. Karena, dunia musisi adalah dunia kreatifitas tanpa batas.

Bayangkan saja, Donni Hardono menurut mbah Coco, bukan siapa-siapa dalam di pemerintahan Indonesia. Namun, dengan suasana hati sebagai musisi. Donni menurut mBah Coco, pantas didaulat menjadi pahlawan musik di Indonesia di tahun Covid-19 ini.

Walaupun, tidak semua musisi, penyanyi atau grup band bisa ditampung di dalam Konser 7 Ruang. Namun, setidaknya keseriusannya membantu para musisi hinga sudah 100 episode, jauh prestasinya di atas Wishnutama, yang katanya orang hebat di dunia entertaint.

Sebagai pencinta musik Indonesia, mBah Coco berpesan kepada Jokowi, presiden RI ke-7 ini. Jika di akhir Desember 2020 ini, ada reshuffle atau pergantian menteri. Salah satu menteri yang harus dibuang, adalah Wishnutama. Karena, sudah ceroboh, pilih kasih, menyengsarakan komunitas hiburan, dan tidak ada kreatif babarblassss yang menonjol dan viral.

Katanya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tapi, tak ada terobosan. Tak ada kreatifitas yang terdengar. Yang kreatif dan prihatin, malahan Donni Hardono. Oleh sebab itu, jangan lupa copot segera Menteri Pariwisata, Pak Jokowi.

 

Share This: