Menyingkap Skandal Cinta di Balaikota Pemerintahan Hindia Belanda Dalam “Stadhuis Schandaal”,

_

Stadhuis Schandaal, film yang membuat penasaran akhirnya siap menyapa pencinta film nasional di tanah air. Tanggal 26 Juli 2016 ini, film tersebut akan diputar serentak di lebih dari 70 layar berbagai jaringan bioskop di Indonesia. Menurut produsernya sebelum pemutaran khusus untuk wartawan, film ini juga akan diedarkan di Cina, khususnya di Shanghai, kota yang sempat di mana film ini juga melakukan pengambilan gambar.

Mengapa film ini membuat penasaran, padahal ada begitu banyak film Indonesia yang diproduksi?

Yang pertama, film ini mengangkat drama percintaan di masa kolonial dipadukan dengan situasi kekinian. Cerita menggabungkan dua dimensi waktu yang berbeda dalam satu rangkaian. Untuk keperluan cerita, tim produksi sengaja membuat set khusus berupa Benteng Belanda buatan. Betapa seriusnya.

Di tengah serbuan genre horor yang menyesakkan perfilman Indonesia, genre yang diangkat ke dalam film ini terasa spesial. Apalagi, konon, cerita yang diangkat bukanlah fiksi, melainkan kisah yang benar-benar terjadi di masa pemerintahan kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen, seorang penguasa Belanda yang dikenal keras dan kejam ketika berkuasa di Hindia Belanda.

Sampai sejauh mana kebenaran cerita tokoh Saartje (Sarah Specx) yang menjalin cinta dengan serdadu Belanda berpangkat rendah bernama Peter Cortenhoof? Waallahualam. Dalam diskusi tentang cerita film ini di Gedung PPHUI Kuningan Jakarta, 14 Juli 2018, budayawan Remi Silado mengatakan kisah ini benar-benar terjadi.

Remi adalah budayawan yang sangat memahami sejarah kolonial Belanda berikut cerita-cerita yang terjadi di masa itu. Bahkan menurut Remi Silado, asal usul frasa “hidung belang” juga bermula di jaman itu. Menurutnya para penzinah di masa itu ketika diarak hidungnya dicoreng dengan arang sebelum dihukum, sehingga orang menyebutnya hidung belang. Namun film ini sendiri tidak menampilkan adegan Peter diarak dengan hidung yang dicoreng arang.

Point kedua yang membuat penasaran adalah, film ini digarap oleh sutradara kawakan Adisurya Abdy, sineas yang sudah 14 tahun tidak pernah membuat film. Film terakhir yang dibuatnya, masih menggunakan pita seluloid. Kematangan Adi diharapkan dapat mengatasi gap teknologi antara masa di mana ia terakhir membuat film, hingga saat ini.

Sarah dan Fei

Film ‘Sarah Dan Fei Stadhuis Schandaal’ bercerita tentang FEI, seorang mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia bersama teman kuliah yang lainnya. Saat ia mencari bahan dan riset tentang itu di kota tua, ia diperhatikan oleh seorang gadis cantik turunan Belanda – Jepang yang kemudian kita kenal dengan nama SAARTJE SPECX dipanggil SARAH.

SAARTJE SPECX atau SARAH pernah hidup pada awal abad ke-17, persisnya tahun 1628 masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen.

Sosok SARAH kemudian menghilang dari pandangan FEI manakala dering iphone membuyarkan perhatian FEI akan sosok Sarah itu. FEI bertanya kemudian apakah temannya ada yang melihat SARAH? Namun temannya menjawab tidak.

Pertemuan antara FEI dan SARAH itu membuat FEI tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam fikirannya akan apa dan siapa sosok perempuan muda cantik yang memperhatikannya di Gedung Fatahillah yang dahulu bernama Stadhuis .

Suatu hari tanpa sadar Fei dibawa melalui lorong waktu ke abad 17, menuju Batavia pada tahun 1628. Di sana Fei menyaksikan langsung cerita cinta murni dari Sara dengan Peter Cortenhoof yang penuh intrik.

Dari cerita dan keseriusan tim produksi membuat film ini, apalagi ada nama Tengku Russian sebagai Penata Artistik dan musikus kawakan Areng Widodo sebagai Penata Musik — dua-duanya sosok berpengalaman dan sangat berkompeten di dalamnya, tidak berlebihan jika masyarakat berharap menyaksikan sebuah tontonan berbeda.

Film ini dibintangi oleh Tara Adia, Amanda Rigby, Humonggo Volt, Septian Dwicahyo, Anwar Fuady, Iwan Burnani, Tio Duarte, Rensy Milano, dan lain-lain.

Ekspektasi itu belum sepenuhnya sampai. Ada beberapa kelemahan yang masih ditemui, mulai dari pemilihan pemain (casting); tata fotografi, maupun skenario.

Akan tetapi pemilihan cerita dan tema untuk diangkat ke dalam film patut diapresiasi. Masih ada keinginan untuk membuat sesuatu yang berbeda, adalah sebuah nilai tersendiri.

 

Share This: