Mubes ke-8 GPBSI: Setiap Pengelola Bioskop Jadi Anggota

Ketua GPBSI Djonny Sjafruddin, SH (kiri) menerima palu sidang dari Bendahara Umum GPBSI Jimmy Haryanto, dalam Mubes ke-8 GPBSI di Jakarta, Selasa (24/10/2017) malam. (Foto: HW)
_

Untuk mengantisipasi perkembangan jaman, setiap pemilik bioskop otomatis menjadi anggota GPBSI. GPBSI mengganti kepanjangan guruf P dari Pengusaha menjadi Pengelola, hasil Mubes memutuskan anggota GPBSI tidak lagi pemilik, melainkan pengelola bioskop.

Ketua Umum GPBSI terpilih Djonny Syafruddin berfoto bersama Kepala Pusbang Film Maman Wijaya dan Ketua LSF Ahmad Yani Basuki bersama peserta Mubes ke-8 GPBSI. (Foto: HW)

Kepanjangan dari GPBSI saat ini adalah Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia. Sebelumnya Gabungan Pengusaha Bioskop Indonesia.

“Kalau pengusaha bioskop kan cuma sedikit. Katakanlah Twenty One Grup, itu kan pemiliknya cuma satu. Tapi pengelolanya ada di mana-mana yang ada bioskop milik Twenty One,” kata Bendahara GPBSI Jimmy Haryanto kepada balaikita di Jakarta, Selasa (24/10/2017) malam.

GPBSI baru saya melaksanakan Musyawarah Besar (Mubes) ke-8 di Hotel Dreamtel Jakarta, pada 23 – 24 Oktober kemarin. Mubes yang diikuti oleh sebagian pengelola bioskop itu kembali memilih Ketua Umum GPBSI Djony Sjafruddin, SH, untuk menjabat kembali hingga tahun 2022.

Kongres ditutup oleh Kepala Pusbang Film Dr. Maman Wijaya mewakili Dirjen Kemdikbud Didi Suhardi yang berhalangan hadir. Acara penutupan juga dihadiri oleh Ketua Lembaga Sensor Film, Ahmad Yani Basuki.

Dalam sambutannya Maman Wijaya mengatakan salut GPBSI masih tetap rukun, walau pun bidang usaha yang digelutinya selalu bersaing. Namun Maman melihat persaingan antaranggota GPBSI sangat positif, karena masing-masing berusaha meningkatkan lualitas pelayanan kepada penonton, sehingga biskop semakin baik.

“Saat ini orang bisa menonton di mana saja, tidak harus di bioskop, jadi bioskop memang harus cerdas menyiasati agar penonton masih mau datang ke bioskop,” kata Maman.

Setidaknya ada enam fungsi yang dimiliki bioskop, yakni fungsi ekonomi, edukasi, informasi, hiburan, budaya dan sosial. “Kalau kita nonton film di komputer, di kamar sendirian, kan fungsi sosialnya tidak ada,” tambah Maman.

Ketua LSF Ahmad Yani Basuki menilai, GPBSI adalah mitra LSF yang baik, karena semua film yang diputar di bioskop anggota GPBSI, telah disensor. Yani meyakini, anggota GPBSI telah mengetaui dan memahami isi UU Perfilman.

“Tapi saya kadang heran juga ya, kenapa film untuk kategori 17 tahun ke atas, masih ada penonton yang di bawah umur. Kalau saya tanya, pasti jawabnya, bagaimana melarang penonton yang membayar Pak, penonton merasa punya hak. Kalau begitu baiklah kita mendidik masyarakat agar memahami sensor mandiri,” kata Ketua LSF.

Ketua GPBSI terpilih Djonny Sjafruddin mengatakan, organisasinya selama ini memang tak pernah terlibat konflik. Semua persoalan yang dihadapi, diselesaikan dengan baik oleh semua anggota. Djonny juga mengapresiasi masuknya 2 jaringan bioskop besar, CGV Blitz dan Cimemaxxx ke dalam GPBSI.

“Permasalahan kita ini kan sama. Sama-sama menghadapi saingan di luar bioskop, persoalan pajak di daerah. Karena itu kita harus duduk bersama membicarakan masalah ini. Alhamdulillah kawan-kawan dari CGV dan Cinemaxxx paham dan mau bergabung,” kata Djonny.

Djonny menegaskan, sebagai matarantai peredaran film nasional, bioskop selalu akan memgutamakan kepentingan film nasional. Tetapi dia juga berharap agar produser juga bisa membuat film-film bagus yang diminati penonton.

“Biaya investasi bioskop itu kan besar. Untuk bioskop kecil saja paling tidak butuh 2 milyar. Biskop standar Twenty One bisa 6 milyar. Kita juga harus menggaji karyawan, pajak, dan listrik yang tinggi. Kalau filmnya tidak ditonton masyarakat, kita juga berat,” kata Djonny.

Mubes GPBSI ke-8 hanya memilih Ketua Umum, dan Ketua Umum terpilih diberi waktu untuk menyusun pengurus dalam waktu 3 mingggu.

Share This: