Naik bus Gratis di Kualalumpur

_
Meskipun bus gratis, bus ini sejuk, bersih dan sangat nyaman.(Foto: HW)

Kebijakan pemerintah Malaysia dalam melayani warganya memang luar biasa. Segala sarana dan prasarana publik, disediakan oleh pemerintah dengan baik. Transportasi misalnya, pemerintah menyediakan berbagai jenis angkutan publik yang bisa dinikmati dengan udah, aman dan nyaman.

Selain buskota, pemerintah juga membangun jaringan monorail, LRT, KTM dan KLIA Transit dan Ekspress, terutama di Kota Kuala Lumpur dan sekitarnya. KLIA Transit dan Ekspress merupakan kereta cepat yang menghubungkan Bandar Udara KLIA dan KLIA 2 ke tengah kota Kuala Lumpur (KL Sentral) dalam waktu sekitar 30 menit dengan biaya maksimal RM 35 per orang untuk sekali perjalanan.

LRT dan Monorail merupakan kereta cepat yang menjangkau beberapa daerah di Kuala Lumpur, terutama tempat tujuan wisatawan seperti KLCC, Pasar Seni, Bukit Bintang dan Masjid Jamek. Sedangkan KTM merupakan kereta komuter yang lebih banyak jangkauan daerah di Kuala Lumpur dan sekitarnya namun cenderung lebih lama dan tidak pasti jadwal kedatangannya. Biaya jenis transportasi ini tergantung jarak tempuhnya dengan minimal biaya RM 1 untuk jarak terdekat. Seluruh jenis kereta ini terpusat di stasiun KL sentral, dimana penumpang dapat melakukan perpindahan jenis transportasi yang satu ke ke jenis yang lain.

Jika ingin berhemat, masyarakat dapat memanfaatkan bis Go KL, merupakan free shuttle bus yang disediakan bagi masyarakat maupun wisatawan selama di Kuala Lumpur. Go KL memiliki 4 line, yaitu purple, green, pink dan red line yang menjangkau beberapa tempat wisata seperti Pasar Seni, Bukit Bintang dan KLCC. Bis ini beroperasi dari jam 6 pagi hingga 11 malam, untuk hari sabtu hingga 1 pagi, tanpa memungut biaya namun frekuensi kedatangan bis yang cepat.

Bersama seorang teman, Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Soultan Saladin, balaikita mencoba naik bus gratis tersebut untuk merasakan sejauhmana pelayanan yang diberikan. Jum’at (14/7/2017) pagi, balaikita bersama teman berangkat dari hotel di Jalan Pandan Belia menuju stasiun monorel yang berada di dekat mal NU Central. Balaikita naik monorel hingga ke stasion Titiwangsa.

Dari stasiun dilanjutka dengan berjalan kaki sejauh 50 meter. Boleh dibilang antara stasiun monorel dengan terminal bus, terintegrasi. Di terminal ada berbagai bus untuk ke berbagai jurusan. Bebepapa di antaranya harus membayar. Balaikita memilih bus berwarna ungu, atau bus gratis. Sudah banyak calon penumpang yang menunggu. Sebagian adalah karyawan yang akan berangkat bekerja pagi itu.

Tanpa menunggu penuh, bus berangkat. Meski pun bus gratis, ternyata cukup nyaman. Kondisinya beraih, ber-AC. Bus berhenti di halte-halte yang sudah ditentukan. Menjelang berhenti di halte, ada informasi nama halte yang disampaikan melalui monitor di dekat langit-langit bus di belakang sopir, atau melalui announcing yang sudah direkam, sehingga penumpang tidak perlu bertanya-tanya lagi. Di setiap halte ada penumpang yang naik dan turun.

Kurang dari satu jam dari terminal Titiwangsa, bus gratis yang dinaiki balaikita sudah sampai di kawasan Central. Meski pun pagi hari, jalan-jalan di Kuala Lumpur tidak macet. Balaikita hanya merasaka jalan melambat ketika kembali dari Putrajaya, sebuah kawasan yang dijadikan kantor-kantor pemerintah dan permikiman pegawainya, pada sore harinya.

Ketika itu dengan menumpang mobil milik seorang rekan wartawan di Kuala Lumpur, balaikita bersama Ketua Parfi Soultan Saladin, baru saja diajak menghadiri acara halal bihalal di Gedung Convention di Putrajaya. Kembali dari

Putrajaya jalan agak tersendat, sebelum masuk ke Smart Tol, terowongan sejauh 3,5 kilometer yang dijadikan jalan tol sekaligus saluran air ketika hujan. Di tepi jalan itu terdapat sebuah pintu masuk mal yang bersebelahan dengan menara kembar Petronas.

Dari sana balaikita bersama Ketua Parfi Soultan Saladin, kembali menggunakan bus gratis menuju kawasan Central Kuala Lumpur. Banyak wisatawan asing yang naik bus gratis itu.

Share This: