Najwa Shihab, Sapta Nirwandar dan “Reshufle Kabinet”

Najwa Shihab (Foto: HW)
_

Negeri ini merupakan habitat yang baik untuk mengembangbiakan isyu. Tanpa perlu menyemai dan memberi pupuk, isyu yang dilempar langsung berkembang biak dengan cepat. Isyu terbaru yang sedang hangat adalah tentang pengangkatan mantan presenter Metro TV Najwa Shihab, menjadi Menteri Sosial menggantikan Mensos yang kini menjabat, Khofifah Indar Parawansa.

Isyu itu dengan cepat dipercaya oleh banyak kalangan, karena setelah diutak-atik seperti kode buntut, ketemu alasannya.

Pertama, Khofiifah disebut-sebut bakal mencalonkan diri lagi dalam Pilgub Jawa Timur yang akan datang. Konon Khofifah masih penasaran atas kekalahannya dari Cak Karwo (Gubernur Jatim Sukarwo) pada Pilgub yang lalu.

Yang kedua, Najwa Shihab ke luar dari Metro TV, televisi swasta yang telah membesarkan namanya. Insiden wawancara dengan Penyidik KPK Novel Baswedan yang diangkat ke dalam tayangan Mata Najwa, hanya menjadi trigger (pemicu) saja.

Isyu bahwa Khofifah akan ikut turun gelanggang lagi di Jatim mulai berhembus setelah Cak Imin (Ketum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar) mengirim sinyal kepada Khofifah, agar tidak ikut pertarungan Cagub di Jatim, mengingat sang Lady Minister sekarang masih menjabat. Dua tahun lagi masa jabatannya. Tetapi keinginan Cak Imin dianggap sepi, sampai mantan Menaker itu berhenti kecapekan.

Khofifah sendiri belum kedengaran suaranya, Meski telah mendapat konfirmasi kesediaan parpol untuk mengusung maju Pilkada Jawa Timur, namun ia menegaskan, keputusannya untuk maju atau tidak juga sangat tergantung dari restu para kyai, selain restu Presiden Joko Widodo. Itu kata berita media.

Presiden Joko Widodo yang telah berbaik hati mengangkat Khofifah jadi menteri, tidak mau banyak komentar soal kemauan Khofifah. Jokowi nampaknya sadar, kalau orang sudah punya mau, walau ada ikatan moral atau kontrak batin (bukan kontak batin), bakal susah dilarang-larang. Lha buktinya Neymar yang mengaku begitu cinta dengan Barcelona, langsung minggat ke Paris, begitu diiming-imingi fulus yang lebih gede.

Melarang orang yang lagi mengidamkan sesuatu enggak gampang. Kalau pun orang yang mengidam itu enggak bisa apa-apa karena ikatan kontrak, tapi kalau udah ngambek, malah ngerepotin. Contohnya Si Coutinho yang merengek pengen pindah dari Liverpool ke Barcelona. Karena ditahan, dia mulai ambek-ambekan.

Nah kembali ke soal Isyu, itung-itungan mulai gatuk. Najwa meninggalkan Metro TV untuk mendapatkan sesuatu yang baru, Khofifah juga ingin meraih sesuatu yang pernah sangat diimpikannya. Boleh saja orang bilang lebih baik burung di tangan walau cuma pipit, daripada cendrawasih di dahan; tetapi kan megang burung pipit sudah pernah. Pengen juga ngerasain megang cendrawasih.

Bagi Khofifah, bertarung dalam Pilgub Jatim mendatang merupakan perjudian. Kalau menang dia dapat jackpot, kalau kalah ya jabatan menteri hilang. Kan tidak mungkin presiden memberikan cuti bagi Khofifah untuk ikut Pilgub dan jabatan menteri sementara dipegang oleh Plt. (Pelaksana Tugas), dengan catatan kalau kalah di Pilgub, balik lagi jadi menteri.

Walaupun mendudukan seseorang menjadi menteri adalah hak prerogatif presiden, tidak bisa seenaknya presiden menaruh seseorang seperti memindah-mindahkan botol. Apa kata dunia?

Apalagi proses pemilihan Kepala Daerah memakan waktu cukup lama. Setelah terpilih pun bisa saja harus menunggu kalau sang lawan yang kalah lari ke Mahkamah Konstitusi.

Nampaknya semua sudah diperhitungkan oleh Khofifah. Dia tinggal tunggu restu Kyai dan Jokowi. Atas bantuan Kyai, bisa jadi Jokowi akan merestui.

Kita belum tahu apa yang terjadi dalam dunia politik tingkat atas. Apakah Khofifah benar-benar akan mencalonkan diri menjadi Cagub Jatim? Kita lihat nanti. Yang jelas isyu sudah berkembang, Najwa Shihab yang akan menggantikannya. Najwa sendiri tenang-tenang saja. Dia biarkan isyu mengenai dirinya bergerak liar.

******

Sapta Nirwandar (Foto: HW)

Keriuhan terjadi di tengah acara launching produk olahan coklat milik penyanyi Ita Purnamasari, di kawasan Kemang, Jum’at (11/8/2017). Tiba-tiba saja ada suara yang mengatakan, “Kasih salam tuh sama Pak Sapta, dia mau diangkat menjadi Menteri Pariwisata, tanggal 16 besok.”

Mendengar suara itu – entah dari siapa – karuan wartawan yang berada di acara itu ramai-ramai menyalami Pak Sapta (mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar).

Dan Pak Sapta, dengan gayanya yang akrab, meminta wartawan agar tidak menghembuskan isyu, meski terucap pula berkali-kali kata “Alhamdulillah” dari mulutnya.

Sapta Nirwandar merupakan orang yang dinilai tepat menjabat sebagai Menteri Pariwisata, karena keahlian dan pengetahuannya di bidang pariwisata sangat mumpuni. Ketika Presiden Jokowi ingin mengangkat pembantu-pembantunya di awal berkuasa, nama Sapta Nirwandar dianggap calon kuat. Ternyata Presiden Jokowi memilih Arief Yahya, mantan Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia,

Di bawah Arief Yahya, kunjungan turis asing ke Indonesia meningkat. Tetapi promosi pariwisata di tangannya gila-gilaan. Duit benar-benar punya mata di bawahnya. Dari pagu anggaran Rp,3,8 trilyun, 2,7 trilyun digunakan untuk promosi pariwisata, walau pun kemudian anggaran kementerian dipotong.

Besarnya anggaran promosi pariwisata di tangan Arief Yahya sering mendapat kritikan, terutama dari DPR. Sebab tingginya anggaran promosi wisata masih belum sebanding dengan peningkatan kunjungan wisatawan.

Dalam bincang-bincang dengan wartawan di Kemang, 11 Agustus lalu, Sapta Nirwandar terkesan paham betul persoalan pariwisata Indonesia, dan kiat-kiat untuk meningkatkannya.

“Jadi sudah siap Pak untuk diangkat?” tanya wartawan.

“Saya tidak pernah menolak tugas. Tapi jangan bikin isyu ya!” katanya sambil melotot.

Lalu ada wartawan berbisik, “Pak Sapta Nirwandar cocok mengemban tugas memajukan Sapta Pesona”.

Wah isyu lagi.

Share This: