Napthali Ivan Ingin Membuat Film Yang Membawa Kebaikan.

Nafthali Ivan sedang bertatap muka dengan pelajar Islamic School yang menonton filmnya.
_

Usianya masih muda, 20 tahun, tetapi pemikirannya luas. Naphtali Ivan, anak muda bertubuh gempal ini ingin memberi sesuatu yang berguna untuk kehidupan manusia.

“Saya tidak ingin menikmati hidup ini sendirian. Saya harus berbuat sesuatu untuk orang lain, sesuatu yang bermanfaat, membawa kebaikan buat orang lain,” katanya ketika ditemui saat pemutatan film “Impian 1000 Pulau” yang disutradarinya.

Di usianya yang masih muda itu Ivan telah menghasilkan sebuah karya, sebuah film. Tapi jangan berpikir film yang dibuatnya bertema horor atau film-film komersil dengan tema umum seperti film Indonesia kebanyakan.

“Impian 1000 Pulau” adalah film yang menggambarkan cita-cita anak muda di Kepulauan Seribu Jakarta, yang berisi pesan untuk menjaga lingkungan.

Film itu dikerjakan oleh anak-anak muda, dan merekrut belasan anak-anak muda dari Kepulauan Seribu sebagai kru. Mulai dari asisten kameraman, pencatat skrip, asisten produser, tim artistik, make-up dan lain sebagainya.

“Tujuan kita membuat film ini memang ingin membantu orang-orang di Kepulauan Seribu, mereka yang memiliki usaha rumahan, sekaligus melestarikan lingkungan,” kata Eksekutif Produser Ivonny Zakaria.

Ketika film mukai dikerjakan, Ivan masih duduk di Kelas III SMA. Proyek itu berjalan selama lebih dari 2 tahun karena biayanya hasil donasi dan urunan berbagai pihak, termasuk dari beberapa corporate.

Ivan sendiri menyadari, ketika dipercaya menangani proyek itu kemampuannya masih terbatas. Ia hanya memiliki sedikit bekal pengetahuan sinematografi dan kemauan yang kuat.

“Ketika saya bikin film pertama kali saya tahu bagaimana rasanya direndahkan. Tapi saya tidak mau orang merasakan seperti yang saya alami. Makanya saya akan membagikan apa yang saya bisa bantu,” tutur Ivan ketika ditemui di   CGV Pasific Place Jakarta, belum lama ini.

Waktu itu orang-orang di Kepulauan Seribu yang didatangi juga banyak yang bersikap apriori. Banyak yang berpikiran orang-orang yang datang untuk membuat film di Kepulauan Seribu hanya mau menipu. Dapat uang dari pihak lain, lalu mengajak syuting cuma-cuma.

Ivan dan timnya tidak kecil hati. Dia melakukan pendekatan kepada masyarakat, membuat workshop pembuatan film, sehingga anak-anak muda di sana merasa senang, dan mau terlibat.

Di Kepulauan Seribu, Ivan dan timnya tidak semata-mata ingin membuat film, ia juga mengedukasi masyarakat untuk menjaga lingkungannya. Kepada para pemuda setempat, ia bersama timnya mengajar mereka untuk bekerjam dalam sebuah tim pembuatan film.

Tentang diri Ivan sendiri cukup menarik. Dia
lahir dari keluarga etnis Tionghoa yang menjadikan bisnis senagai sandaran hidup. Ivan menjadi satu-satunya anggota keluarga yang memilih film. Untungnya kedua orangtua dan saudaranya tidak mementang cita-cita Ivan.

“Ya mereka tidak mengatakan apa-apa ketika saya bilang ingin terjun di film. Yang penting apa yang saya lakukan baik. Makanya kalau sudah lulus nanti saya tidak mau membuat film yang hanya untuk mencari uang semata. Saya ingin membuat film yang membawa  kebaikan. Kalau kita berbuat baik, uang pasti akan datang sendiri,” katanya , yakin.

Untuk mendukung cita-citanya itu, Ivan lalu mendaftar ke Institut Kesenian Jakarta, dan kini duduk di semester 3 Fakultas Film dan Televisi IKJ.

Ia juga pernah menemui sutradara wanita Indonesia yang berkarya di Amerika Livi Zheng, tapi tidak beruntung bisa bekerjasama. Ketika itu ia justru bertemu dengan Ernest Lesmana, yang kemudian menulis cerita film ‘Impian 1000 Pulau”. Kini Ernest juga sudah kembali ke Amerika untuk melanjutkan sekolahnya.

 

Share This: