“Ngabuburit” Sambil Mematung Bersama Gebar Sasmita

_

Yayasan Guriang Tujuh Indonesia kembali menggelar workshop project belajar mematung bersama Gebar Sasmita, seorang maestro seni rupa Banten.

Acara berlangsung di di Pekarangan Jati Kp. Cemplang Alun alun Rt.06 Rw.02 Desa Warunggunung Kec. Warunggunung, Sabtu (18 / 5/2019) .

Dede A. Majid selaku ketua YaGuTujI (Yayasan Guriang Tujuh Indonesia) dalam sambutannya mengungkapkan acara kali ini merupakan agenda rutin bulanan dari program kerja Guriang yaitu “Rangkasbitung Corner”

“Karena momentumnya bertepatan di bulan suci ramadhan maka kami mengangkat tema Ngabuburit di Pekarangan Jati Sambil Matung. Dan kegiatan mematung ini adalah bagian dari workshop project yang pertama kali kami lakukan sesuai dengan program kerja dari yayasan,” papar Madjid.

Majid menambahkan kegiatan diskusi sebelumnya di bulan lalu yang mengangkat tema “Bumi Manusia” yaitu suatu upaya bagaimana mensinergikan kehidupan alam dan manusia, agar saling berkesinambungan dan saling memanfaatkan tanpa saling merusak antara satu dengan yang lainnya,

Kegiatan workshop project mematung sebagai upaya atau langkah pendidikan dalam menjaga lingkungan benang merah dari diskusi sebelumnya yang juga mengangkat tema lingkungan.

Bagaimana memanfaatkan tanah yang agar bisa memiliki nilai seni dan mampu bernilai secara ekonomi sehingga bisa mencukupi dan memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari, tanpa harus merusaknya.

Rangkasbitung corner kali ini dihadiri berbagai elemen masyarakat seperti pelajar, mahasiswa, seniman, komunitas pecinta alam, dinas pariwisata lebak dan provinsi, masyarakat setempat, dan perupa tangerang.

Di sela-sela mematung para peserta dihibur oleh penampilan ubrug dari teman-teman komunitas teater Agata SMA Negeri 2 Pandeglang. Ubrug adalah drama tradisional Banten yang dibawakan secara komedi.

Parwa Rahayu selaku ketua rombongan juga guru di SMA Negeri 2 Pandeglang menegaskan bahwa upayanya menampilkan Ubrug sebagai bentuk pemeliharaan dan pemeliharaan bagi tradisi Banten.

“Ubrug kali ini kami mengangkat tema rahwana nganjor. Menceritakan peperangan barata yuda tetapi peperangan disini diganti dengan ngadu bedug sebagai ciri tradisi masyarakat Pandeglang”.

Guriang bekerja sama Teater Agata akan tampil di Gedung Kesenian Sasono Lengon Budoyo TMII Jakarta tanggal 21 s.d. 22 Juni mendatang mewakili Banten dalam Festival Teater Daerah Tingkat Nasional ke 8.

Yayasan Guriang Tujuh Indonesia didirikan 2012 silam oleh Majid, sebagai upaya mengembangkan seni dan budaya Banten. Harapannya, setelah memiliki tempat tetap, Guriang menjadi tujuan bagi orang orang yang ingin memajukan kebudayaan Banten.

“Guriang harus menjadi Lab Terbuka bagi penelitian dan pendokumentasian. Segala bentuk dokumentasi seni dan budaya Banten terhimpun di Guriang. Sehingga yang mau penelitian tentang Banten tak usah lagi repot cari data,” tambah Majid. (Rohim)

Share This: