“Ngaseuk Pare”, Penanaman Padi Suku Baduy Yang Sakral dan Meriah

_

Provinsi Banten memiliki 7 (tujuh) tujuan wisata unggulan yang disebut 7 Wonders of Banten antara lain, Banten Lama, Taman Nasional Ujung Kulon, Pulau Sangiang, Suku Baduy, Pulau Umang, Gunung Krakatau, dan Rawadano.

Yang paling terkenal di kalangan wisatawan Nusantara (Wisnus) adalah permukiman Suku Baduy dan ritual tahunan mereka, Seba Baduy. Daya tarik Suku Baduy yang bermukim di areal seluas 5.101 hektare di Desa Kanekes, Leuwidamar atau sekitar 38 km dari Rangkasbitung, ibukota kabupaten Lebak, adalah keteguhan dalam memelihara hukum adat yang sangat kuat, dengan sistim pemerintahan sendiri yaitu pemerintahan adat Baduy, dan lingkungan tempat tinggal yang masih asri dengan arsitektur tradisional.

Foto-foto: Herman Wijaya

Suku Baduy dibagi dua, yakni Baduy Dalam yang bermukim di Cikeusik, Cibeo dan Ciketawarna, dan Baduy Luar yang bermukim di 60 kampung lebih di Desa yang sama. Baduy Dalam lebih tertutup dibandingkan Baduy Luar.

Wisatawan bisa mengunjungi permukiman Baduy. Untuk ke Baduy Dalam biasanya wisatawan hanya menuju Cibeo, sedangkan di Baduy Luar lebih banyak kampung yang biasa didatangi untuk menginap, terutama di kampung-kampung yang memiliki lingkungan indah dan menarik.

Selain menginap di perkampungan Suku Baduy, wisatawan juga datang setiap tahun untuk melihat Seba Baduy, tradisi tahunan warga Baduy mendatangi Ibu / Bapak Gede (Gubernur Banten dan Bupati Lebak), walaupun banyak wisatawan yang hanya datang ke Rangkasbitung, Pendopo Kabupaten Lebak atau ke Kantor / Musium Banten di Serang tempat warga Baduy bertemu Bupati dan Gubernur.

Saat ini Seba Baduy sudah masuk ke dalam Calender of Event (COE) yang didukung oleh Kementerian Pariwisata. 

Ngaseuk Pare

Apakah hanya dua point itu yang menarik wisatawan untuk mengunjungi Baduy? Sementara hanya itu yang diketahui masyarakat luas dan mendapat perhatian pemerintah, baik Pemerintah Daerah maupun Pusat (Kemenpar). Padahal menurut hemat penulis, masih ada satu lagi atraksi wisata masyarakat Baduy yang sangat layak ” dijual” kepada wisatawan, yakni Ngaseuk Pare.

Ngaseuk Pare, merupakan proses menanam padi yang melibatkan banyak anggota masyarakat Baduy, bila berlangsung ngaseuk pare di ladang milik Jaro (Kepala Desa) Kanekes. Penulis ikut menyaksikan ngaseuk pare di ladang milik Jaro Saija di Kampung Bojong Menteng, Leuwidamar, Kabupaten Lebak, yang berada di luar kawasan Baduy, Desa Kanekes.

Masyarakat Baduy menanam padi di tanah tegalan kering, bukan sawah berair seperti masyarakat Indonesia, bahkan di Asia pada umumnya. Tanah tegalan yang ditanami bekas hutan yang berada perbukitan dengan kemiringan 30 derajat – 45 derajat. 

Apabila penanaman dilakukan di ladang yang luas milik Kepala Desa (Jaro), ratusan bahkan bisa seribuan warga yang terlibat. Bukan hanya warga Baduy Luar, tetapi akan ada utusan dari warga Baduy Dalam.

Ngaseuk Pare merupakan peristiwa sakral sekaligus ajang untuk bersilaturahmi, gotong royong dan mempererat tali persaudaraan bagi warga Baduy. Wanita dan lelaki, tua/muda maupun anak-anak terlibat. Masing-masing mendapatkan tugas sesuai porsinya.

Sebagaimana layaknya upacara sakral, ritual dan doa-doa dilakukan sesuai dengan kepercayaan masyarakat Baduy sebagai penganut Sunda Wiwitan. Ritual sudah dilakukan sehari sebelumnya di rumah Jaro, terutama pada malam hari sebelum penanaman padi berlangsung.

Sejak siang hari warga sudah bergotong royong, terutama menyiapkan makanan untuk warga yang menginap di rumah dinas Jaro, dan esoknya ikut ke ladang. Karena jumlah yang menginap sangat banyak — ratusan jumlahnya, Jaro mengiapkan makanan untuk semua warga yang menginap. 

Kaum wanita memasak di dapur. Beberapa pria membakar potongan-potongan daging ayam yang disindik dengan potongan bambu. Seperti sate, tapi potongannya besar-besar, seperti potongan ayam di rumah makan. Masakan itu akan dihidangkan pada malam hari bagi warga yang datang atau menginap.

Pada malam menjelang penanaman padi itu ritual mulai dilakukan. Para tetua adat melakukan pembacaan doa-doa, sementara beberapa lelaki memainkan angklung besar dan memukul gendang dengan ritmis, sambil membawakan tembang-tembang Sunda kuno yang hanya dilantunkan pada acara-acara tertentu. Mereka berputar-putar dalam lingkaran imajiner di kegelapan. Beberapa bocah tanggung ikut serta.

Menjelang tengah malam, kegiatan berhenti. Semua beristirahat di balai-balai rumah Jaro atau rumah warga yang ada di sekitar situ, guna menyimpan tenaga untuk melakukan perjalanan menuju huma di Bojong Menteng, dan penanaman padi di tanah perbukitan yang tentunya akan menguras tenaga. 

Esoknya harinya, sebelum fajar sebagian sudah bangun. Setelah langit terang belasan perempuan dan lelaki langsung menuju ke huma. Beberapa lelaki berjalan sambil membunyikan angklung dan gendang sepanjang perjalanan menuju huma, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Kaduketug, kampung terluar Desa Kanekes yang berbatasan dengan Ciboleger.

Setelah 500 meter menyusuri jalan raya Ciboleger, rombongan berbelok ke kiri menuju Desa Bojong Menteng. Sempat menyeberangi jembatan Ciujung, lalu rombongan yang mengular menelusuri persawahan. Kurang dari setengah jam barisan yang berada di paling depan sampai di hamparan tanah kosong yang luas. Masih banyak tonggak bekas potongan pohon. Tanah itulah yang akan ditaburi bibit padi. Sampai dengan pukul 08.00 pagi sisa-sisa rombongan masih berdatangan.

Rombongan berkumpul dalam kelompok-kelompok di tempat yang agak teduh. Umumnya wanita dengan wanita, para lelaki dengan lelaki, dan anak-anak bermain sesama mereka. Sementara para tua-tua adat berembug, lalu menyebar menjauh, mendekati bukit dan hutan di pinggir areal yang akan ditanami. Menurut Rasudin, salah seorang tetua adat yang kerap bertugas membaca doa-doa dan mantera, para tua-tua adat itu berdialog dengan “penunggu tempat”, seraya minta ijin untuk melakukan penanaman.

Sementara para tua-tua adat berkomunikasi dengan “penunggu tempat”, sebagian warga yang akan ikut dalam penanaman padi hanya menunggu. Sebagian wanita menyiapkan makanan di dangau. Nasi dan lauknya yang dibawa dari rumah Jaro, dibungkusi di daun pisang, dan kelak akan dibagi-bagi kepada seluruh warga yang ikut penanaman padi.

Foto-foto: Herman Wijaya

Usai para tetua adat “meminta ijin” mereka berkumpul lagi. Selanjutnya adalah tugas Rasudin untuk melakukan ritual. Rasudin sudah membuka bajunya, mengenakan ikat kepala, lalu jongkok di tengah tanah lapang. Dia membuka bungkusan berisi sesaji yang akan digunakan dalam pembacaan doa. Sementara Rasudin melakukan upacara pembacaan doa / mantera.

Sejumlah lelaki dewasa dan anak-anak muda mengelilinginya sambil menyanyi, menabuh gendang dan angklung. Upacara tersebut berlangsung sekitar 30 menit.

Setelah ritual selesai, seluruh warga yang ada di tempat tersebut kembali membentuk kelompok-kelompok, untuk makan. Biasanya makanan yang sudah dibungkus didaun pisang dibuka lagi di hamparan daun pisang untuk makan bersama (botram).

Setelah selesai makan, para lelaki membentuk formasi berjajar sambil memegang tongkat kayu yang dilancipkan ujungnya. Sementara para perempuan berada di belakang mereka. Beberapa lelaki membawa bulir-bulir padi yang akan dijadikan bibit di dalam karung, lalu dibagi-bagi kepada para perempuan yang ada di belakang para lelaki bertongkat.

Tidak lama kemudian aba-aba disampaikan, dan secara serentak para lelaki yang memgang tongkat kayu menusuk-nusukan ujung tongkatnya yang lancip ke tanah seraya bergerak ke samping dan ke depan secara teratur. Tanah yang ditusuk oleh tongkat lancip itu kemudian dimasukan butiran-butiran padi oleh para perempuan yang berada di belakang mereka.

Mereka terus bergerak menuju hamparan tanah yang belum disentuh, bahkan terus menanjak ke perbukitan. Umumnya tidak mengenakan alas kaki walau banyak tonggak sisa pepohonan. Perempuan yang menggendong anak di belakangnya, ikut naik ke perbukitan sambil terus menaburkan benih.

Hampir dua jam kegiatan itu berlangsung, sampai matahari tepat berada di atas ubun-ubun, proses penaburan benih berakhir. Masing-masing membawa peralatan kerjanya. Sisa benih yang masih ada di karung dikumpulkan. Semua beristirahat. Beberapa orang membuat kopi. Yang memiliki uang jajan pada pedagang makanan ringan dadakan yang memanfaatkan situasi.

Sebagian pemuda melakukan perminan adu bahu di sebuah arena yang mereka buat. Mereka mengitari pemain angklung dan kendang yang bediri di tengah sambil berlari dengan arah berlawanan. Begitu bertemu, mereka akan mengadu pangkal lengan dan bahu mereka dengan keras. Masing-masing menunjukkan kekuatannya, tetapi tidak ada yang marah. Masyarkat Baduy memang tidak pernah berkonflik, apalagi terlibat perkelahian.

“Orang Baduy umur lima tahun udah bawa golok, tapi enggak pernah ada orang Baduy yang bacok orang,” kata Rasudin.

Menjelang sore, satu persatu atau bersama keluarga, kerabat dan sahabat, warga yang mengkuti Ngaseuk Pare kembali ke rumah masing-masing. Urusan perawatan dan penjagaan tanaman, menjadi tanggungjawab Jaro Saija, sebagai pemilik tanah. Warga akan kembali ke tempat yang sama untuk membantu panen.

Atraksi Menarik

Ngaseuk Pare bukan hanya kegiatan penanaman padi biasa, tetapi menjadi sebuah peristiwa sakral yang menarik. Ngaseuk pare merupakan peristiwa sakral bagi masyarakat Baduy, tetapi “Ngaseuk Pare” di huma milik Jaro merupakan sebuah peristiwa menarik, karena melibatkan ratusan, bahkan hingga seribu lebih warga Baduy dan Dalam, meski warga Baduy Dalam hanya beberapa orang saja. 

Ngaseuk Pare adalah sebuah peristiwa Budaya bagi masyarakat Baduy. Menurut hemat penulis, Ngaseuk Pare jauh lebih menarik dibandingkan Seba Baduy yang terasa monoton, karena itu hanya kedatangan masyarakat Baduy untuk menemui Bupati dan Gubernur dengan membawa buah tangan, tetapi tidak diramaikan dengan atraksi masyarakat Baduy itu sendiri, seperti yang terlihat dalam Ngaseuk Pare.

Dalam Ngaseuk Pare pesertanya sangat beragam, mulai dari kaum lelaki, perempuan dan anak-anak. Ritual dalam Ngaseuk Pare lebih banyak dan sangat menarik, terutama bagi masyarkat dari luar Baduy.

Ke depan, Pemerintah Daerah atau Kementerian Pariwisata bisa mempertimbangkan agar peristiawa ini (Ngaseuk Pare) menjadi salah satu kegiatan yang bisa ditawarkan kepada wisatawan, khususnya Ngaseuk Pare secara massal di ladang / huma milik Jaro.

Tentu saja untuk menjadikan kegiatan itu sebagai “tontonan” bagi wisatawan, harus dibicarakan dulu dengan masyarakat Baduy, khususnya Jaro, sebagI Kepala Desa sekaligus Kepala Adat masyarakat Baduy Luar. Dan yang terpenting, jika itu menjadi agenda resmi pariwisata, masyarakat Baduy juga bisa memperoleh benefitnya.

 

 

 

 

 

 

 

Share This: