“Ngaseuk Pare”, Ritual Menanam Padi Orang Kanekes

Pemain angklung dan kendang menyanyi sambil mengelilingi seorang tetua adat yang sedang berdoa dan mempersembahkan sesaji, sebelum penanaman padi dilakukan dalam kegiatan "Ngaseuk Pare" oleh Orang Kanekes (Baduy Luar) di Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Oktober 2015 lalu. (Foto: HW)
_

Seperti umumnya masyarakat di Indonesia, beras merupakan makanan pokok orang Kanekes (masyarakat Baduy). Beras yang dikonsumsi oleh orang Baduy berasal dari padi yang ditanam sendiri. Biasanya orang Baduy menanam padi di tanah tegalan, bukan sawah, yang berada di tanah perbukitan dengan kemiringan 30 derajat – 45 derajat.

Menanam padi atau dengan bahasa Sunda setempat disebut “Ngaseuk Pare”, merupakan proses menanam padi yang melibatkan banyak warga. Apalagi bila penanaman dilakukan di ladang yang luas milik Kepala Desa (Jaro), bisa ratusan warga yang terlibat. Bukan hanya warga yang berada di wilayah kekuasaan seorang Jaro, tetapi akan ada utusan yang ikut terlibat dari kampung lain, termasuk utusan dari warga Baduy Dalam.

Bersama dua orang teman, saya beruntung mendapat “undangan” untuk meliput kegiatan Ngaseuk Pare dan acara adat yang dilakukan sehari sebelumnya dan ritual-ritual yang dilakukan di ladang, meski pun tidak semua ritual boleh diabadikan dengan kamera. Kami diundang oleh Pak Rasudin, seorang tetua adat yang biasa membacakan doa selama ritual berlangsung.  Penanaman padi berlangsung di tanah garapan milik Jaro Saija, di sebuah kampung di Leuwidamar, Lebak, Baten, Oktober 2015 lalu.

“Ngaseuk Pare” merupakan peristiwa sakral sekaligus ajang untuk bersilaturahmi, gotong royong dan mempererat tali persaudaraan bagi warga Baduy. Wanita dan lelaki, tua/muda maupun anak-anak terlibat. Masing-masing mendapatkan tugas sesuai porsinya.

Sehari sebelum penanaman padi dilakukan (Ngaseuk Pare), warga sudah mulai bergotong royong. Kaum wanita memasak bersama di dapur, kamu lelaki menyiapkan kebutuhan yang diperlukan, termasuk memanggang potongan-potongan ayam. Makanan yang diolah akan dimakan bersama pada malam hari setelah upacara adat berakhir. Upacara adat biasanya berupa sembahyang kepada leluluhur dan menyanyikan lagu-lagu sacral sambil memainkan angklung serta gendang, pada malam hari.

Upacara adat dan makan bersama kembali dilakukan esok harinya, pada saat sebelum penaman dimulai. Setelah itu, ratusan warga Baduy luar, pria dan wanita, orang tua maupun anak-anak mulai melakukan penanaman. Kaum pria membuat lubang dengan kayu berujung lancip, kaum wanita memasukan benih ke lubang. Sebagian lainnya mendistribusikan benih.

Usai penanaman, mereka kembali makan bersama, dan anak-anak muda bermain adu badan diiringi nyanyi dan musik angklung. Semua bergembira. Setelah itu padi-padi yang ditanam dibiarkan, dan pemilik akan kembali menengoknya untuk menjaga dari burung-burung atau hewan liar seperti babi hutan, hingga saat panen tiba. ****

Share This: