“Night Bus: Perjalanan Mencekam di Sebuah Bus Malam.

Film "Night Bus" (Night Bus Pictures)
_

Melakukan perjalanan jauh dengan sebuah bus memang sangat melelahkan. Jika berjalan dimalam hari, akan lebih baik, karena penumpang bisa beristirahat sepanjang perjalanan. Namun tidak demikian halnya dengan para penumpang bus malam Babad, yang berangkat dari sebuah kota di Sumatera menuju Sampar, kota yang konon kaya raya tetapi dilanda konflik berkepanjangan, antara pemerintah yang sah dengan kaum separatis Samerka (Sampar Merdeka).

Perjalanan selama 12 jam dalam bus yang dikemudian sopir berpengalaman Amang dengan keneknya yang sok tahu, Bagudung, terasa sangat mencekam, dan penumpang mengalami teror yang seakan tak putus-putus.

Belum lama meninggalkan terminal, bus menabrak seseorang yang tiba-tiba melintas di jalan – atau sebenarnya ingin menyetop bus. Amang yang merasa bertanggungjawab karena telah menbrak orang, lalu turun untuk melihat korbannya. Ternyata sang korban, seorang lelaki berewok anggota separatis (diperankan oleh Alex Abad). Dia menodongkan pistol, dan minta diajak untuk ikut naik bus. Dengan keberaniannya Amang meminta agar lelaki itu membuang pistolnya terlebih dahulu, jika ingin ikut bus.

Setelah teror pertama itu, teror demi teror dialami oleh sopir, kenek maupun penumpang bus. Ada pemeriksaan pasukan pemerintah, pencegatan oleh sepasukan pemberontak, terjebak di tengah konflik bersenjata sehingga ada penumpang yang tewas terkena peluru nyasar, dan bertemu dengan gerombolan bersenjata yang dipimpin oleh komandannya yang sadis, Basir.

Dengan penumpang tersisa, bus malam yang kini dikemudikan oleh kenek Bagudung — karena Amang tewas ditembak Basir — tiba di Samerka, kota yang sudah luluh lantak oleh peperangan. Suha bersama anak buahnya mengepung bus, tapi membiarkan para penumpangnya turun, dan pergi.

Diadaptasi dari sebuah cerpen, film yang semula ingin diberi judul Laila, seperti nama tokoh anak kecil satu-satunya yang ada di dalam bus – Night Bus merupakan sebuah thriller yang mencekam. Bisa jadi judul ini pun terinspirasi dari film berjudul sama karya Simon Baker dengan pemain Iron Brayds, Wayne Goddards dan Kyri Shapiris, yang menggambarkan berbagai persoalan di sebuah bus.

Dalam film karya sutradara Emil Heradi sepanjang 1 jam 35 menit penonton dipaksa harus menahan nafas untuk menyaksikan teror demi teror yang dialami oleh para penumpang bus maupun sopirnya.

Di dalam bus sendiri banyak konflik terjadi, baik antarpenumpang bus itu sendiri, antara penumpang dengan kenek bus; sepasang kekasih yang memperdebatkan antara masa depan yang telah direncanakan dan situasi yang dihadapi saat itu; maupun orang-orang yang datang dari luar bus: entah pemerontak atau aparat. Bahkan antara Amang dengan Bagudung juga beberapa kali terjadi ketegangan.

Skenario yang ditulis oleh Rahabi Mandra mampu menguliti setiap persoalan hingga mencapai klimaks, sebelum menyuguhkan persoalan baru yang tak kalah kuatnya untuk membuat sesak nafas. Untuk menangkap moment-monet menegangkan itu juru kamera di bawah komando DoP Anggi Frisca berhasil menghadirkan gambar-gambar yang memperkuat suasana dalam adegan.

Dengan kepiawaiannya sebagai sinematografer, Anggi cukup bermain dengan tata cahaya yang minim, dan kerap memanfaatkan cahaya yang menjadi bagian dari adegan, seperti lampur senter, lampu bus, lampu petromak maupun api yang berkobar, memberikan aksen sekaligus sentuhan fotografi yang indah.

Terlebih ketika dilakukan pengambilan longshoot atau menggunakan drone, pada saat bus melintas menembus kegelapan malam yang hanya diterangi sinar rembulan. Shoot terbaik dalam film ini adalah ketika bus memasuki Samerka menjelang fajar. Gradasi warna antara langit yang masih temaram dan pucuk pepohonan yang mulai tersapu sinar mentari pagi, terlihat sangat indah. Dengan tata cahaya seperti itu, kesan mencekam dalam setiap adegan terasa amat kuat.

Pada saat yang sama, ilustrasi musik yang dibuat seperti orchestra untuk film-film epik dan lagu-lagu yang terdengar seperti ratapan, kadang melengking, membuat penonton ikut terjebak ke dalam persoalan yang ditampilkan di film. Lagu-lagu dalam film ini mengingatkan akan lagu-lagu yang diputar di televisi-televisi swasta, ketika tsunami menerjang Aceh tahun 2004 lalu. Begitu menyayat perasaan.

Di luar adegan-adegan mencekam yang disuguhkan, film ini juga dengan jitu memberikan kesempatan penonton untuk meredakan ketegangan melalui tokoh Bagudung (diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana). Bagudung digambarkan sebagai sosok pemuda Batak yang sok tahu, kadang keras dan berani. Tetapi Bagudung juga memiliki sisi lain dalam dirinya, yakni sentimentil dan memiliki rasa hormat kepada orang yang merawatnya, Amang (Yayu Unru).

Adegan di dalam warung ketika ia memasak mie untuk para penumpang yang kelaparan, terasa segar dan lucu. Bagudung bertindak seperti pemilik warung itu sendiri, dan baru ketahuan belakangan pemiliknya adalah seorang perempuan paruh baya yang tak menunjukkan emosi sedikit pun kepada Bagudung maupun penumpang lain yang makan di warungnya. Kelucuan juga muncul ketika Bagudung makan mie di dalam bus bersama sepasang kekasih yang ikut di dalam busnya. Ketika sepasang kekasih itu memberikan selembar kertas berisi tulisan untuk dibaca Bagudung, ternyata Bagudung tidak bisa membaca.

Kata Bagudung sendiri dalam bahasa Batak berarti tikus nyingnying. Seseorang yang memiliki sifat cerdik, suka berkilah dan banyak akal disebut Bagudung. Kemampuan Teuku Rifkana memainkan tokoh Bagudung luar biasa. Dia mampu menampilkan aksen Batak yang pas, serta lagaknya yang khas Batak itu.

Rata-rata pemain telah memberikan kemampuan terbaiknya dalam film ini. Tidak hanya Teuku Rifkana, aktor berpengalaman Torro Margen yang berperan sebagai Umar, orang kaya yang selalu mengeluh dalam bus; atau Yayu Unru pemeran Amang yang menjadi peraih Piala Citra untuk Pemeran Pembantu Terbaik dalam FFI 2014, juga pemeran Nur, wanita tua yang membawa cucunya selama perjalanan, meski tipikal tokoh Tjoet Nya Dhien yang diperankan Christine Hakim terasa ada dalam tokoh itu. Justru aktor sekelas Lukman Sardi (pemeran tokoh pemberontak Suha) yang terkesan hanya sebagai cameo dalam film ini.

Kerja penata artistik untuk mendukung film ini juga luar biasa. Artistik menjadi salah satu kekuatan yang membuat adegan dalam film ini seperti mendekati kenyataan. Apalagi penggunaan teknologi CGI untuk menampilkan kota-kota yang luluh lantak akibat peran, sangat halus. Ini dimungkinkan karena CGI film ini, menurut sutradara Emil Heradi, menggunakan software khusus yang didatangkan dari luar negeri, khusus untuk film Night Bus.

Sedikit berangan-angan, gambaran konflik yang ditampilkan dalam film ini seperti “rekonstruksi” dari peristiwa di Aceh beberapa tahun lalu, ketika Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mengangkat senjata melawan pemerintah RI. Namun tim produksi film ini nampaknya tidak ingin menggambarkan secara ril peristiwa yang menjadi catatan sejarah Indonesia, lalu menggunakan aksen Melayu bagi tokoh-tokoh dalam film ini. Nama Sampar mungkin plesetan dari kata Kampar, sebuah Kabupaten di Kepulauan Riau.

Tokoh Basir yang diperankan oleh Tino Saoenggalo agak berbeda dengan tokoh lainnya, karena di tengah adegan tiba-tiba dia berbicara dengan logat Maluku. Dalam film ini Basir memang digambarkan sebagai sosok yang bisa hadir di setiap konflik. Tokoh Basir mengingatkan kita akan nama Che Guevarra, tokoh dari Amerika Latin yang hadir di setiap pemberontakan di beberapa negara. Oleh beberapa negara Che Guevarra dianggap pemberontak, tetapi beberapa negara lain menganggapnya pahlawan.

Tak diragukan, Night Bus adalah film yang digarap dengan serius dan sangat apik. Film ini mematahkan anggapan, produser maupun sineas Indonesia sulit untuk membuat film yang bagus. Namun demikian ada hal-hal kecil yang membuat kesempurnaan film ini ternoda. Antara lain plat nomor mobil yang masih menggunakan B (Jakarta). Bagian lain yang terasa kurang pas dalam film ini adalah adegan Basir mencabut gigi emas Umar dengan tang.

Kalau motivasi Basir hanya benda berharga, mengapa harus mencabut gigi emas. Bukankah Umar memakai perhiasan emas di lehernya? Adegan itu terkesan hanya ingin memberi nilai tambah atas kesadisan Basir. Tanpa itu pun, Basir telah menunjukkan karakter sadisnya dengan menembak Amang dan seorang tentara yang terluka di bus. Dan, satu lagi, film ini juga tidak menampilkan masyarakat dalam adegannya, sehingga hanya tokoh-tokoh yang punya peranan hadir dalam film. Ini kelemahan yang selalu muncul dalam film Indonesia.

Dari segi teknis, dialog-dialog yang diucapkan oleh tokoh yang diperankan Alex Abad, kurang jelas didengar, karena selain menggunakan akses Melayu dengan pengucapan huru “R” yang pelo, sang tokoh digambarkan dalam keadaan terluka berat, sehingga sulit berkata-kata dengan baik.

Tentu saja yang paling menarik dari Film ini adalah pesan yang ingin disampaikan. Banyaknya korban yang jatuh dan kerusakan yang ditimbulkan, memberi pesan kuat, bahwa perang, apapun alasannya, hanya menimbulkan korban.

Adegan terakhir dalam film ini menggambarkan sebuah ironi yang sangat dalam. Suha sang pimpinan pemberontak yang menguasai wilayah, tidak menyadari bahwa nenek Nur yang menyerahkan secarik kertas kepadanya adalah ibunya sendiri. Dan bisa jadi gadis cilik Laila yang digendong nenek Nur dalam keadaan tak bernyawa akibat terkena peluru nyasar, adalah anak Suha sendiri. Suha tidak mengenal Nur maupun Laila.

Share This: