Niniek L Karim: Psikologi Penonton Bisa Diarahkan

_

Dosen dan aktris film Niniek L Karim mengatakan rasa itu sangat bisa diajarkan, bukan sesuatu yang native, bukan sesuatu yang secara dasar ada. Selera bisa dibentuk. Karena itu, psikologi penonton bisa diarahkan. Manusia adalah mahluk peniru.

Niniek menyampaiakan hal itu ketika menjadi pembicara dalam Workshop Kritik Film Lanjutan yang diadakan Pusbang Film bekerja sama dengan wartawan film di Jakarta, Kamis (10/5/2018).

Menurut Niniek, manusia punya panca indera, tapi tahu apa yang enak itu karena pembelajaran. “Aku suka rujak cingur karena aku pernah tinggal di Kediri, tapi anakku tidak, anda mungkin tidak. Ketika saya tahu soda itu tidak baik, sejak kecil anak saya tidak saya kenalkan pada soda,” ungkap Niniek.

Tidak hanya dalam makanan, terhadap tontonan Niniek juga berusaha “membentuk” selera anaknya, dengan tidak menonton tontonan yang kurang mendidik.

“Ketika anak saya nonton sinetron, saya menunjukkan tidak suka, akhirnya mereka tidak suka,” ujarnya.

Sayangnya tidak semua orangtua di Indonesia memiliki pemahaman yang baik tentang barang konsumsi atau tontonan yang patut dilihat atau tidak oleh anak-anak mereka. Masyarakat kita sendiri masih terombang ambing pada selera.

“Orangtua kita tidak seperti negara maju yang sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Kenapa masyarakat terombang ambing pada selera, karena kulturnya kita tidak punya proses teknologi. Semuanya datang secara bersamaan!”

Masyarakat di Indonesia, menurut Niniek cenderung mempercayai mistis karena tidak terbiasa berpikir rasional. Niniek mengutip ahli psikologi terkenal yang mengatakan ketika akal sudah tidak menjawab, orang lari ke mistik.

Kepercayaan kepada mistik di Nusantara menurutnya sudah tumbuh sejak dulu. Dan itu merupakan sebuah kearifan lokal (local wisdom) yang patut diapresiasi.

“Orang-orangtua kita dulu punya kearifan lokal, bebicara dengan alam, tapi tidak bisa menjelaskan secara ilmiah,” katanya.

Terkait penulisan kritik film, Nini mengatakan kritikus tidak perlu terikat atau menentang kondisi yang ada. Jika saat ini perfilman tengah disemarakkan dengan tema-tema mistis, pemulis bisa melihatnya dari berbagai aspek dalam film itu sendiri.

“Kalau kita ingin menulis tergantung passion kita. Kalau kita tertarik pada aktingnya tulislah itu. Yg tertarik dengan karyawannya ya tulislah tentang karyawan film. Saya menghormati orang yang punya ketertarikan dengan konsentrasi tertentu” kata Niniek.

Niniek percaya bahwa uang akan mengikuti, apa pun profesi yang dijalani seseorang. Ketika ia memutuskan jadi dosen (pengajar), ada yang mengingatkan mengapa ia tidak memilih profesi lain yang lebih menjanjikan secara materi.

“Tapi saya percaya money follow your dream. Karena passion saya menjadi pengajar, maka saya mengajar. Ternyata dari mengajar itu juga saya punya rumah, punya mobil,” tegas Nini.

Sebelum memutuskan menjadi pengajar, Niniek pernah bercita-cita ingin belajar hukum dan menjadi wartawan. Menurut ayahnya itu akan menyeretnya ke dunia politik. Sedangkan politik ketika itu dirasanya kejam. Karena seorang kawannya yang masuk Pemuda Rakyat hanya karena ingin belajar beladiri, ditangkap karena dituduh terlibat partai terlarang.

Beda Review dan Kritik Film

Selain Niniek L Karim, pembicara lainnya adalah wartawan senior Don Sabdono atau dikenal dengan panggilan Bre Redana. Bre menyampaikan makalah berjudul “Perkembangan Pers dan Kritik Film”.

Menurut Bre, perkembangan dunia pers yang bertransformasi menjadi media online, telah membuat kritik film makin kehilangan tempatnya, karena media-media tidak lagi menyediakan tempat untuk kritik film, dan media online membatasi tulisan tidak lebih dari 500 karakter.

“Sekarang ini bandul masyarakat sedang mengarah pada kedangkalan, tidak ada lagi kedalaman,” kata Bre.

Di jaman internet ini kritik film juga kehilangan “tuahnnya” karena banyak orang tiba-tiba menjadi ahli, orang tidak lagi membutuhkan informasi melainkan konfirmasi dan justifikasi.

“Di jaman informasi melimpah ini nilai-nilai masyarakat justru menjadi konservatif. Begitu juga dengan kritik film,” kata mantan wartawan Kompas ini.

Bre Redana juga menegaskan, ada perbedaan antara review dan kritik film. Review, menurutnya, hanya mengulas sebuah film saja, sedangkan kritik mengulas lebih dari satu judul film.

 

 

Share This: