Ogun, “Cancer Survivor” yang Coba Taklukan Himalaya

Muhammad Gunawan alias Ogun, cancer surviror yang mencoba menaklukan puncak gunung Himalaya. (Foto: HW)
_

Usianya tidak muda lagi. Sebentar lagi memasuki 60 tahun. Sebagaimana umumnya orang lanjut usia, penyakit datang kapan saja menggerogoti. Dan yang diderita oleh Muhammad Gunawan, atau dikenal dengan panggilan akrab Ogun oleh para pendaki gunung, khususnya rekan-rekannya di Wanadri, adalah penyakit kanker.

Foto: HW

Namun di usia yang sudah lanjut, dan sisa-sisa kanker yang masih bersemayam di tubuhnya, Ogun masih punya keinginan yang kedengarannya tidak biasa bagi banyak orang: mendaki gunung! Yang ingin ditaklukannya pun bukan sembarang gunung, melainkan Gunung Himalaya Di Tibet. Gunung Himalaya (Mount Everest), adalah gunung tertingi di dunia, yang memiliki ketinggian hampir 9000 meter.

“Hidup kita boleh punya masalah. Tapi bahwa kita punya cita-cita untuk meraihnya, itu jalanin aja. Enggak gampang, tapi ikuti jalannya, kita hadapi dengan riang gembira,” ujar Ogun ketika ditemui usai mengikuti acara talkshow di ajang pameran Otudoorfest di JCC Senayan, Jumat (12/5/2017) sore.

Rencana Ogun untuk berangkat ke Himalaya sangat serius. Ia sudah membentu tim ekspedisi yang diberinama Ogun Roads to Mount Everest Himalayas 2017 -2018. Jika kondisi kesehatannya memungkinkan, dalam waktu dekat ia akan berangkat lagi ke Himalaya.

“Tahun lalu juga saya ke Himalaya, ke Yala baru pulang. Sabtu kemarin baru sampai Jakarta. Kalau melihat evaluasi dari perjalanan kemarin, rasanya memang bisa naik Everest tahun depan,” kata Ogun, yakin.

Bagi Ogun, kawasan pendakian di Himalaya bukan wilayah yang aneh. Tahun 1977 dia termasuk salah satu anggota Wanadri dalam Tim Ekspedisi Mount Everest Indonesia bersama Kopassus. Waktu itu tim dibagi dua, satu tim melalui jalur Selatan, tim lainnya melalui jalur utara. Ogun bergabung dengan Tim Utara. Sayang 200 meter menjelang puncak terjadi badai.

Komandan tim memerintah untuk turun dan bergabung dengan Tim Selatan yang telah mencapai puncak. Itu yang membuatnya penasaran.

“Saya dua kali ke everest tapi dua-duanya belum sampai ke puncak. Mungkin karena itu saya kepingin ke puncak lagi. Karena ini bagian dari perjalanan hidup saya. Dorongan itu kuat saya, dan dorongan itu yang saya pakai sampai berobat memperbaiki kondisi saya,” ujar Ogun.

“Di kalangan pendaki gunung ada istilah Sabit Pikul, kita sudah melihat puncaknya tapi tidak sampai ke sana. Itu yang bikin penasaran. Karena itu dalam usia yang tidak muda lagi, dengan kanker yang masih tersisa sedikit di badan, saya ingin kembali ke Everest,” tandas Ogun.

Mendaki gunung sudah mendarah daging dalam diri Ogun. Sejak pertama kali naik gunung tahun 1973 ketika ia duduk di bangku SMP kelas 3, kecintaannya terhadap gunung semakin besar. Apalagi sejak bergabung di Wanadri tahun 1981. Wanadri adalah perhimpunan penempuh rimba dan pendaki gunung yang berdiri sejak 16 Mei 1964 di Bandung. Sebagai organisasi pecinta alam tertua di Indonesia.

Meski telah lulus kuliah dan memiliki pekerjaan sebagai konsultan pembangunan, hobinya mendaki gunung tak pernah hilang. Ia sudah mendaki hampir semua gunung di Indonesia, terutama di Jawa.

Sebuah kenyataan pahit tiba-tiba datang dalam hidupnya. Ia divonis mengidap kanker nasofaring stadium 4 pada tahun 2015. Kanker nasofaring adalah jaringan kanker yang menjalar di sekitar tenggorokan. Vonis itu nyaris membuatnya putus asa. Tetapi berkat dorongan sang isteri Vita, atau Ogun memanggilnya Bintang, membuat Ogun berusaha tegar. Apalagi bila membayangkan masa depan anak-anaknya yang masih memerlukan dukungan orangtua.

Hari-hari yang dijalaninya sebagai penderita kanker – Ogun lebih senang disebut sebagai cancer surviror — cukup berat. Ia harus bolak balik menjalani pengobatan ke rumah sakit. 11 kemoterapi dan 4 kali. Hasilnya jaringan kanker melemah, walau belum sirna sepenuhnya. Berat tubuhnya menyusut hingga 20 kilogram.

Dasar Ogun, meski belum sembuh betul dari penyakitnya, dorongan untuk naik gunung tak bisa ditahan. Masih dalam tahap menjalani pengobatan, ia ikut naik dua gunung bersama teman-temannya, antara lain ke Gunung Semeru, Arjuno, Merbabu, Papandayan, dan pergi ke Baduy Dalam yang bermedan berat.

“Ketika capek, lelah, itu malah nikmat. Jadi saya pikir itu juga unik. Jadi enggak merasa terbebani. Saya tahu ini agak pelan sedikit, tapi saya bisa jalan terus menerus. Enggak berhenti. Mungkin salah satunya kepingin tahu juga kekuatan tubuh. Atau mungkin karena berat tubuh turun 20 kilogram, jadi lebih ringan. Seperti ketika saya pertama kali masuk di Wanadri tahun 1981,” tuturnya.

Tentu saja Ogun saat ini berbeda dengan Ogun yang dulu ketika masih sehat. Ketika pertama kali ke Gunung Semeru ia muntah-muntah karena matanya belum normal betul. Ketika jalan malam menggunakan headlight, ia merasa pusing, goyang-goyang, lalu muntah-muntah.

“Waktu itu saya tetap naik. Walau capek, saya jalan pelan-pelan. Jadi sampe terang tanah, jam lima, saya mulai jalan. Sampai puncak pagi Jam 08.30. Pulangnya waktu di Kalimati malah diinfus oleh dokter, sehingga turun,” tutur Ogun.

Dalam persiapannya menuju Himalaya tahun depan, Ogun kerap menjalani latihan, namun disesuaikan dengan usianya. Latihan yang dilakuan adalah berjalan, kadang naik gunung. Itu untuk mengukur kemampuannya.

Tapi memang harus ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum berangkat ke Himalaya. Ia harus menjalani pengobatan mata, meningkatkan porsi latihan supaya lebih cepat lagi.

“Jadi sebelum ke Everest nanti ada rencana mau naik ke Baruntse, 150 meteran di Himalaya. September hingga Desember saya ke sana. Sekitar 40 harian saya di Baruntse sana,” ungkapnya.

Sebagai cancer survivor Ogun sadar bahwa maut bisa tiba-tiba menjemputnya.

“Itu biasa, kita menghadapinya, yang penting riang gembira, kita jalani aja. Di samping itu ada mimpi, ada cita-cita yang mau diraih. Mudah-udahan upaya saya untuk melangkah itu punya sesuatu yang bisa diambil manfaatnya,” kata Ogun.

Ia bersyukur mendapat dukungan dari keluarga besar, dari isteri dan anak-anaknya untuk mewujudkan mimpi Ogun Roads to Mount Everest Himalayas 2017 -2018, yang membuatnya merasa lebih nyaman.

Impian terbesar Ogun adalah agar hidupnya punya manfaat besar buat semua orang lain. Pengalamannya mendaki gunung mudah-mudahan bisa jadi contoh buat orang lain.

“Spirit ini yang coba saya tularkan kepada orang lain. Mudah-mudahan ini bagi inspirasi bagi orang lain, bahwa semua orang itu punya puncak-puncak sendiri dalam hidupnya, punya hilamaya sendiri, punya cita-cita sendiri yang perlu diperjuangkan. Itu memang tidak mudah. Karena tidak mudah, jangan menyerah,” paparnya.

Jadi sampai kapan Kang Ogun akan mendaki gunung?

“Enggak tahu sampe kapan. Ini juga belum tentu. Kalau di tengah jalan tiba-tiba Tuhan bilang, udah Gun, stoplah, saya enggak bisa apa-apa. Tapi naik gunung kapan berhenti saya enggak tahu, belum berpikir itu. Memang semua teman-teman udah kakek-kakek, sudah punya cucu, banyak juga yang sudah pergi, mereka juga tanya, sampai kapan lu Gun? Mungkin kalau gunungnya udah enggak ada, atau guanya enggak ada. Ha..ha..ha….”

Share This: