Origami” dan “Dupa” Pemenang Lomba Film Pendek Budhis

_

Film berjudul “Origami” karya sutradara Jevon Patrick Elbert dari Siege Co Bekasi, Jawa Barat, menjadi pemenang Lomba Film Pendek Budhis, dan meraih Piala Padma dan uang pembinaan sebesar Rp.15 juta. Penyerahan hadian berlangsung di Sinema Hall PPHUI Jakarta, Kamis (10/10/2019) malam.

“Origami” menggambarkan pesan toleransi dan cinta kasih kepada sesama melalui origami (mainan dari kertas) yang dikirim secara berantai. Film ini menjadi Juara I dari Kategori Pelajar. 

Pemenang untuk kategori umum adalah film berjudul “Dupa” produksi Kinjeng Desa, Yogyakarta, dengan sutradara Surenta dan penulis naskah Putri Wulandari. Film ini mengisahkan ibadah agama Budha dalam sebuah keluarga yang dihadiri oleh warga lain yang terlambat, karena anak pemilik rumah harus membeli dupa terlebih dahulu. Sementara itu, kepala keluarga menolong membetulkan timba sebuah sumur yang rusak, karena seorang anak yang ingin berwudhu kehabisan air.

Lomba Film Pendek Buddhis yang diadakan oleh Lembaga Pengembangan Tripitaka Gatha (LPTG) mengangkat Tema “Moderasi Beragama ; Beda ltu Asyik”, bertujuan untuk meningkatkan toleransi umat beragama di Indonesia.

Hadiah total dalam lomba ini sebesar 100 juta rupiah. Adapun lomba ini melibatkan Juri dari akademisi dan professional di Bidang perfllman Nasional, yakni Firman lie (Dosen Desain Komunikasi Visual), Robert Rony (Produser) dan Titien Watimena (Penulis). 

Rachmat Harsono selaku Koordinator Bidang Pembinaan Lembaga Pengembangan Tripitaka Gatha Nasional (LPTGN) menyatakan bahwa lomba ini dilatar belakangi berbagai fenomena aktual seputar kehidupan yang terjadi pada bangsa ini. Rachmat Harsono menggarisbawahi isu konflik dan potensi perpecahan bangsa kembali menjadi sorotan akhir-akhir ini. Ajaran Buddha mengandung ajakan untuk menempatkan perbedaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan sangat penting.

“Perbedaan ini jika ditangani dengan serius bisa jadi harta yang sangat berharga, sebaliknya jika diremehkan bisa jadi sumber masalah yang rumit,” kata Rachmat Harsono.

Menurut Rahmat, selain bertujuan menyiarkan dan memperdalam ajaran Buddha tentang oleransi beragama, lomba juga bertujuan menumbuhkan bibit baru dalam dunia perfilman.

Lomba ini telah diinformasikan kepada khalayak umum sejak pertengahan bulan Juni sampai 31 Juli 2019. Ada pun peserta yang mendaftar sebanyak 35 tim (17 tim untuk kategori umum den 18 tim untuk kategori pelajar). Adapun peserta yang mengirimkan karya pada 31 Juli 2019 sebanyak 13 tim untuk kategori umum den 13 tim untuk kategori pelajar untuk memperebutkan posisi 5 fmalis untuk masingmasing kategori.

3 anggota tim inti (Produser, Sutradara, dan Penulis Naskah) dari 10 finalis film tersebut akan diundang ke Jakarta untuk menghadiri malam awarding. Mereka juga akan mendapatkan workshop singkat dari para juri untuk mendapatkan ilmu agar wawasan dan ilmu dalam membuat fllm di kemudian hari makin meningkat dan berkualitas.

Share This: