“Oro Oro Ombo”, antologi Puisi dari “Jurnalis” Heryus Saputra

Heryus Saputro ketika peluncuran antologi pusi "Oro Oro Ombo" di Perpustakaan MPR Jakarta, 26 Januari 2016 (Dok pribadi)
_

Keindahan kata-kata dalam puisi (sajak) rupanya tak pernah hilang dalam keseharian Heryus Saputro Samhudi, lelaki kelahiran Jakarta 10 Oktober 1953. Walau pun sebagian besar sahabat-sahabatnya

Heryus Saputro ketika peluncuran antologi pusi “Oro Oro Ombo” di Perpustakaan MPR Jakarta, 26 Januari 2016 (Dok pribadi)

mengenal beliau sebagai jurnalis, khususnya sebagai fotografer, namun darah kepenyairan Heryus terus bergolak.

Diam-diam dia terus menulis puisi dan mengumpulkannya. Kumpulan puisi itu (antologi) belum lama ini diluncurkan di Perpustakaan MPR RI, Jakarta. Antologi Puisi Heryus berjudul Oro Oro Ombo yang dalam bahasa Indonesia berarti Padang Luas. Dalam antologi itu terdapat 117 sajak yang dikumpulkannya sejak tahun 1975 – 2016.

“Tapi mengumpulkan arsip, itu memang tak begitu mudah. Apalagi, kami pernah dapat musibah. Rumah kami (di Pamulang, Tangerang Selatan) terendam banjir. Dan bertumpuk arsip, berupa kliping koran dan foto, basah, luluh tak terselamatkan, sementara saya tak ingat lagi tiap kata dan kalimat dalam puisipuisi saya tersebut,” kata mantan fogorafer Majalah Wanita Femina, dan wartawan Berita Yudha ini.

“Alhamdulillah, dengan segenap daya, terkumpul juga puisi karya saya dari tahun 1975 – 2016. Masih jauh dari lengkap, karena banyak yang tercecer entah di mana. Bahkan ada semacam 14 Heryus Saputro Samhudi kekosongan yang panjang, dimana sepertinya… tahun-tahun itu saya tak berpuisi,” tambahnya.

Heryus mengaku sejak kecil sudah mengenal puisi. Terutama ketika dia mulai berani membuka-buka buku kakaknya, Rara Umi Salamah, wanita yang suka berpuisi. Di situlah dia menemukan keajaiban kata-kata dari penyair-penyair besar seperti Chariril Anwar, Sitor Situmorang, Ayip Rosidhi, WS Rendra dan lain-lain.

 Heryus aktivis di teater dan sastra. Menulis esai, cerpen dan puisi sejak tahun 1975 di berbagai surat kabar dan majalah nasional (Berita Yudha Minggu Sport & Film, Majalah Gadis, Majalah Zaman, Majalah Sastra Horison, dll), ikut dalam berbagai ajang sastra dan terbitan antologi puisi di Indonesia dan Malaysia.

Beberapa karyanya berhasil meraih penghargaan penting: SAJAK SELEMBAR DIPLOMA menjadi Juara ke-3 Lomba Cipta Karya Puisi yang digelar Radio Arif Rahman Hakim bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta (1977); GELADAK ILOLUTTA dan KANDANG BADAK memperoleh penghargaan bulanan lembar sastra Majalah Zaman (1978).

ELEGI KOTEKLEMA memenangkan penghargaan sebagai Puisi Terbaik dalam ajang Temu Sastrawan Nasional – Mitra Praja Utama (MPU) ke-9 yang digelar Dinas Pariwisata dan Budaya Pemda DKI Jakarta (2014); SEPERTI menjadibagian dari 100 Puisi Pemenang Lomba Gelar Cipta Puisi Qurani yang diselenggarakan Gerakan Budaya PARMUSI (2016).

Ayah dari tiga anak ini juga menulis beberapa buku: Menulis berberapa buku bersama tim, menulis sendiri buku: Petualang Pintar Petualang Bodoh (Penerbit Dian Rakyat, 2013) dan Jukung Lintas Nusa Bali – Brunei 2013 (Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, 2014), dan Susi Pudjiastuti: “Dari Pengasong Ikan Ke Tangga Istana” (belum diterbitkan).****

 

 

 

 

 

 

Share This: