“Overlord”, Thriller Dalam Balutan Kisah Perang Dunia

_

Meskipun telah berulangkali dibuat, film tentang Perang Dunia selalu menarik untuk dilihat. Berondongan peluru, ledakan mesiu, prajurit-prajurit meregang nyawa, atau momen dramatis para tokohnya, merupakan adegan-adegan yang memiliki daya tarik tersendiri.

Namun dalam film terbarunya, Overlord produser J.J Abrams tidak ingin mengulang-ulang kisah-kisah kepahlawanan para prajurit dalam perang.

Ada gagasan baru yang ditampilkan, yakni keberadaan manusia-manusia yang berubah menjadi monster, hasil eksperimen dokter ahli yang dimiliki Nazi Jerman. Terkesan absurd, Overlord bukan sebuah epos, melainkan thriller yang dibungkus dengan kisah Perang Dunia.

Pacuan ketegangan

Dalam tugasnya menghancurkan menara transmisi milik Jerman, sejumlah prajurit Amerika yang diterjunkan di garis depan, bukan saja harus berhadapan dengan prajurit-prajurit Nazi yang menguasai menara, akan tetapi mendapati laboratorium eksperimen Nazi untuk menciptakan tentara-tentara super.

Rekayasa itu belum sepenuhnya selesai, karena prajurit-prajurit yang diciptakan justru berubah jadi monster menakutkan, yang sulit dikendalikan.

Film yang disutradarai oleh Julius Avery ini sejak awal sudah menyodorkan ketegangan, ketika sejumlah prajurit dalam pesawat yang akan diterjunkan di wilayah Perancis, harus menghadapi situasi hidup dan mati. Pesawat yang mereka tumpangi untuk melakukan penerjunan, menghadapi berondongan senjata anti serangan udara milik Jerman.

Beberapa pesawat tertembak jatuh. Pesawat yang ditumpangi Boyce ( Jovan Adepo) dan kawan-kawan tak luput dari tembakan. Seorang prajurit mati di tempat ketika peluru Nazi menembus pesawat. Tidak sampai di situ, bagian ekor dan sayap pesawat juga tertembak hingga terbakar. Dalam keadaan pesawat terbakar, para prajurit melakukan penerjunan.

Neraka tidak berhenti di atas pesawat, di bawah tentara Nazi dan ranjau darat sudah menanti. Beberapa penerjun tewas dalam keadaan tergantung di parasutnya, di atas pohon. Sersan Rensin ( Bokeem Woodbine) komandan kompi yang memimpin penerjunan tertangkap tentara Jerman dan langsung dieksekusi, seorang prajurit tewas menginjak ranjau.

Empat orang prajurit yang dipimpin oleh seorang kopral Lord ( Wyatt Russell) bersama seorang fotografer, berhasil masuk ke wilayah pendudukan Jerman, setelah bertemu secara tidak sengaja dengan Chloe (Mathikde Olivier) seorang perempuan Perancis. Dari rumah perempuan itulah mereka mengatur strategi untuk meledakan menara transmisi Jerman, agar armada sekutu bisa mendarat di Perancis.

Sebelum menjadi produser, J.J Abrams dikenal sebagai produser yang banyak membuat film penuh ketegangan. Di antaranya Mission: Impossible III, Super 8, Star Trek: Into Darkness, hingga Star Wars: Episode VII – The Force Awakens.

Sebagai produser ia sukses dengan Mission – Impossible – Ghost Protocol, Mission: Impossible – Rogue Nation dan yang terbaru Mission: Impossible – Fallout.

Ciri khas film-film J.J Abrams adalah ramuan ketegangannya yang akan memaksa penonton menahan nafas. Overlord hanya menyediakan sedikit waktu bagi penonton untuk rileks. Itu pun tak lepas dari plot yang akan menggiring pada scene-scene menegangkan. Penonton baru bisa merasa santai setelah missi Boyce dan kawan-kawan selesai.

Billy Ray (penulis cerita) yang menulis skenario bersama Mark L. Smith berhasil menyusun ketegangan dalam setia scene yang dibuatnya. Ray dan Smith seperti mengajak penonton berada di atas motor dengan kecepatan tinggi.

Ketegangan dalam film ini tidak melulu datang dari adegan peperangan jarak dekat, melainkan munculnya manusia-manusia super yang berlaku mirip binatang buas. Gagasan ini yang membuat film karya Julius Avery ini berbeda dengan film tentang perang sekutu – Jerman berbeda.

Overlord memang tidak dibintangi oleh aktor-aktor papan atas Hollywod. Tetapi aktor-aktor muda berbakat seperti Jacob Anderson, Wyatt Russell, Bokeem Woodbine hingga Jovan Adepo telah berkontribusi luar biasa dalam menghidupkan film ini.

 

Share This: